PENGARUH REMUNERASI DAN SASARAN KERJA PEGAWAI (SKP) TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PEMERIKSA KEUANGAN PERWAKILAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

ABSTRAKSI

 

 

Skripsi ini ditulis dan disusun oleh ROFIKI SANI; dengan Nomor induk mahasiswa : 250120029 yang berjudul “ANALISIS PENGARUH REMUNERASI DAN SASARAN KERJA PEGAWAI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PEMERIKSA KEUANGAN PERWAKILAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG”. penelitian disusun di Kota Pangkalpinang, Bangka, Indonesia dan dilaksanakan dari April sampai Juni 2015. terdiri dari 84 halaman dan tidak termasuk lampiran.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif. Jumlah populasi penelitian ini sebanyak 76 pegawai dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Pemilihan sampel menggunakan teknik Probability Sampling jenis simple Random Sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode angket dengan skala likert dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Dan pengujian hipotesis ; uji t (parsial) dan uji F (simultan)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh signifikan variabel Remunerasi terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini terbukti dengan dengan nilai thitung sebesar 4,185, sementara itu nilai ttabel sebesar 2,04841 dengan demikian thitung (4,185) > ttabel (2,04841). (2) Terdapat pengaruh signifikan variabel Sasaran Kerja Pegawai terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini terbukti dengan dengan nilai thitung sebesar 7,961 , sementara itu nilai ttabel sebesar 2,04841 dengan demikian thitung (7,961) < ttabel (2,04841). (3)  Terdapat pengaruh signifikan variabel Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini terbukti dengan nilai Fhitung sebesar 90,289, sementara itu nilai Ftabel 3,35 dengan demikian Fhitung (90,289) > Ftabel 3,35).

 

Kata Kunci : Remunerasi, Sasaran Kerja Pegawai dan Kinerja Pegawai

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang Masalah

Reformasi birokrasi merupakan upaya pemerintah untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisation), ketatalaksanaan (business process) dan sumber daya manusia (SDM). Reformasi birokrasi dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) sehingga permasalahan/hambatan yang mengakibatkan sistem penyelenggaraan pemerintahan tidak berjalan atau diperkirakan tidak akan berjalan dengan baik harus ditata ulang atau diperbarui.

Reformasi birokrasi menurut Zauhar (2002) adalah langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional dengan mengambil langkah-langkah yang bersifat mendasar, komprehensif, dan sistematik, sehingga tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan efektif dan efisien.

Pelaksanaan reformasi birokrasi di Indonesia merupakan komitmen pemerintah untuk mewujudkan “cleanand good governance”. Pada tahun 2006, pemerintah mencanangkan pelaksanaan reformasi birokrasi dengan pilot project melibatkan lima instansi dan lembaga negara, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Upaya pemerintah untuk melakukan perubahan dan pembaharuan yang dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa tersebut tidak mungkin akan dapat dilaksanakan dengan baik dan efektif tanpa kesejahteraan yang layak dari sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus sentral yang harus diperhatikan dan dibenahi kinerjanya.

Sumber daya manusia menjadi komponen penting dalam penyelenggaraan reformasi birokrasi yang menjalankan roda pemerintahan. Pegawai akan merasa terjamin kesejahteraannya jika seluruh kebutuhan pegawai tersebut dapat terpenuhi, termasuk juga kebutuhan ekonomi (financial), yang dalam hal ini diwujudkan pada sistem remunerasi pegawai.

Sistem penggajian (remunerasi) menjamin adanya tingkat kesejahteraan yang tinggi serta upaya pemeliharaan bagi parapegawai, sehingga pegawai merasa tercukupi dan dapat fokus memberikan kontribusi kinerja yang optimal bagi organisasi. Selain itu, kesesuaian remunerasi ini akan berdampak positif bagi peningkatan kinerja pegawai. Hal ini akan berdampak pada prestasi kerja pegawai yang dapat tercipta jika kinerja pegawai tersebut dapat meningkat.

Remunerasi secara harfiah diartikan sebagai payment atau penggajian, bisa juga uang ataupun substitusi dari uang yang ditetapkan dengan peraturan tertentu sebagai imbal balik suatu pekerjaan dan bersifat rutin. Remunerasi merupakan salah satu elemen dasar dalam sistem manajemen SDM berbasis kompetensi yang mencerminkan azas keadilan dengan menggunakan pendekatan yang lebih rasional. Remunerasi bertujuan pada dua hal yakni meningkatkan kesejahteraan pegawai dan mendorong peningkatan kinerja pegawai. Dengan penerapan remunerasi ini diharapkan dapat mewujudkan pelayanan prima dan meminimalisir atau menghilangkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Sistem remunerasi mengandung lima prinsip pokok yang akan diterapkan. Pertama, system merit, yaitu penetapan penghasilan pegawai berdasarkan harga jabatan. Kedua, adil, dalam arti jabatan dengan beban tugas dan tanggung jawab pekerjaan yang sama dibayar sama dan pekerjaan yang menuntut pengetahuan, keterampilan serta tanggung jawab yang lebih tinggi, dibayar lebih tinggi. Ketiga, layak, yaitu dapat memenuhi kebutuhan hidup layak (bukan minimal). Keempat, kompetitif, dimana gaji pegawai negeri sipil (PNS) setara dengan kualifikasi yang sama di sektor swasta, guna menghindari brain drain. Kelima, transparan, dalam arti PNS hanya memperoleh gaji dan tunjangan resmi.

Remunerasi diharapkan mampu meberikan motivasi dan dorongan bagi pegawai untuk lebih professional dan meningkatkan kinerjanya. Seperti halnya, pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan telah menerapkan remunerasi pada pegawainya sebagai bentuk pelaksanaan reformasi birokrasi.

Remunerasi pada Kantor BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini diterapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 10/PMK.02/2006 tentang Pedoman Penetapan Remunerasi, yang terdiri dari tujuh komponen, yaitu: gaji, tunjangan biaya hidup, tunjangan kinerja, tunjangan hari raya, tunjangan kompensasi, pemeliharaan kesehatan dan tunjangan hari tua. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja maupun profesionalitas pegawai BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penerapan reformasi birokrasi juga menuntut Pegawai Negeri sipil untuk dapat memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Untuk menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan dengan baik maka dibutuhkan aparatur negara yang profesional, jujur, adil dan bertanggung jawab.

Pegawai Negeri Sipil sebagai abdi negara mengemban tanggung jawab yang besar demi kelancaran pembangunan bangsa. Untuk menghasilkan pegawai yang profesional, jujur, adil dan bertanggung jawab seperti yang diamanatkan oleh undang-undang diperlukan adanya pembinaan PNS. Sebagai langkah awal dalam melakukan pembinaan diperlukan adanya penilaian terhadap kinerja PNS. Penilaian ini nantinya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan pembinaan PNS, antara lain dalam hal mempertimbangkan kenaikan pangkat, penempatan dalam jabatan, pemindahan, pendidikan dan pelatihan, kenaikan gaji berkala, dan lain-lain.

Pokok-pokok kepegawaian mengamanatkan bahwa tujuan dari penilaian prestasi kerja adalah untuk lebih menjamin objektivitas dalam mempertimbangkan pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan pangkat. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia sudah mengeluarkan aturan mengenai Sasaran Kerja Pegawai yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil. Penilaian prestasi kerja PNS merupakan suatu proses penilaian secara sistematis yang dilakukan oleh pejabat penilai terhadap sasaran kerja pegawai dan perilaku kerja PNS dengan tujuan untuk mengevaluasi kinerja PNS, yang dapat memberi petunjuk bagi manajemen dalam rangka mengevaluasi kinerja unit dan kinerja organisasi secara keseluruhan. Penilaian prestasi kerja PNS menggabungkan antara penilaian Sasaran Kerja Pegawai Negeri Sipil dengan Penilaian Perilaku Kerja. Penilaian prestasi kerja tersebut terdiri dari dua unsur yaitu SKP (Sasaran Kerja Pegawai) dan Perilaku Kerja.

Penilaian prestasi kerja PNS menurut dilaksanakan oleh Pejabat Penilai sekali dalam satu tahun. Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil secara sistemik penekanannya pada pengukuran tingkat capaian Sasaran Kerja Pegawai atau tingkat capaian hasil kerja (output) yang telah direncanakan dan disepakati antara Pejabat Penilai dengan Pegawai Negeri Sipil yang dinilai sebagai kontrak prestasi kerja. Bawahan dan atasan duduk bersama dalam menetapkan target yang ingin dicapai pada tahun depan. Target-target yang ingin dicapai bawahan dikomunikasikan ke atasan dan atasan melakukan kornfimasi dan koreksi atas target yang direncanakan tersebut. Setelah SKP disusun, maka Pada akhir tahun dilakukanlah evaluasi terhadap SKP yang telah disusun tersebut berdasarkan tingkat capaian PNS bersangkutan.

Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 diharapkan mampu meningkatkan prestasi kerja pegawai negeri sipil sehingga tercipta aparatur yang profesional dalam rangka pembangunan Indonesia.

 

 

 

Berdasarkan uraian di atas maka penulis mencoba untuk melakukan penelitian sebagai bahan skripsi dengan judul PENGARUH REMUNERASI DAN SASARAN KERJA PEGAWAI (SKP) TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PEMERIKSA KEUANGAN PERWAKILAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG”.

 

  • Identifikasi Masalah

Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian dalam sebuah pertanyaan sebagai berikut :

  1. Apakah terdapat pengaruh antara remunerasi terhadap kinerja pegawai pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
  2. Apakah terdapat pengaruh antara Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
  3. Apakah terdapat pengaruh antara remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

 

 

 

  • Batasan Masalah

Penulis membatasi penelitian ini hanya atas identifikasi pengaruh dari Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap Kinerja Pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

  • Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah pokok dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

  1. Bagaimana Pengaruh Remunerasi Terhadap Kinerja Pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung?
  2. Bagaimana Pengaruh Sasaran Kerja Pegawai (SKP) Terhadap Kinerja Pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung?
  3. Bagaimana Pengaruh Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) Terhadap Kinerja Pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung?

 

  • Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Remunerasi terhadap Kinerja Pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
  2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap Kinerja Pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
  3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap Kinerja Pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
    • Manfaat Penelitian

Penelitian ini tentunya sangat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait di dalamnya seperti:

  1. Bagi Penulis

Diharapkan dapat mendalami kajian dan wawasan tentang penerapan remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dalam Ilmu Administrasi Negara khususnya dalam peningkatan kinerja pegawai dalamManajemen Sumber Daya Manusia.

  1. Bagi Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi Badan Pemeriksa Keuangan dalam menentukan arah kebijakan yang berkaitan dengan Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP).

  1. Bagi Perguruan Tinggi

Sebagai bahan informasi untuk menambah wacana bagi instansi terkait dan pihak-pihak lain guna penelitian lebih lanjut.

  • Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penulisan, penulis memberikan gambaran secara garis besar mengenai skripsi ini, masing-masing bab terbagi dalam sub bab dan tiap bab memiliki hubungan yang erat antara satu dengan  yang lainnya. Secara sistematis isi skripsi ini disusun sebagai berikut:

BAB I             PENDAHULUAN

Dalam Bab ini penulis menguraikan serta menjelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II            LANDASAN TEORI

Dalam hal ini akan diuraikan teori-teori yang melandasi dan berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, serta kerangka berpikir.

BAB III          METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan kajian tentang metode-metode apa saja yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menguji pengaruh pada penelitian yang dilakukan oleh penulis. Berisi tentang waktu dan tempat penelitian, variabel yang diteliti, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

 

BAB IV          GAMBARAN UMUM BADAN PEMERIKSA KEUANGAN PERWAKILAN PROVINSI BANGKA BELITUNG

Pada bab ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan tempat dimana penulis melakukan penelitian. Berisi tentang sejarah singkat perusahaan, visi, misi, dan strategi perusahaan, dan struktur organisasi perusahaan

BAB V            ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini berisi data dari Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Bangka Belitung yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas, serta berisi hasil analisis data yang diperoleh dalam penelitian.

BAB VI          PENUTUP

Dalam bab ini berisi kesimpulan-kesimpulan dari serangkaian pembahasan dan saran-saran yang dapat penulis sampaikan.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  • Pengertian Remunerasi

Remunerasi merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris remunerate yang menurut Oxford American Dictionaries berarti pay (someone) for services rendered or work done. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia kata remunerasi diartikan sebagai pemberian imbalan, hadiah (penghargaan atas jasa dsb).

Remunerasi mempunyai pengertian berupa “sesuatu” yang diterima pegawai sebagai imbalan dari kontribusi yang telah diberikannya kepada organisasi tempat bekerja. Remunerasi mempunyai makna lebih luas dari pada gaji, karena mencakup semua bentuk imbalan, baik yang berbentuk uang maupun barang, diberikan secara langsung maupun tidak langsung, dan yang bersifat rutin maupun tidak rutin. Imbalan langsung terdiri dari gaji/upah, tunjangan jabatan, tunjangan khusus, bonus yang dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan prestasi kerja dan kinerja organisasi, intensif sebagai penghargaan prestasi, dan berbagai jenis bantuan yang diberikan secara rutin. Imbalan tidak langsung terdiri dari fasilitas, kesehatan, dana pensiun, gaji selama cuti, santunan musibah, dan sebagainya (Surya, 2004).

Remunerasi mengandung dua unsur, yaitu kompensasi dan komisi (bonus). Komisi dan Kompensasi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan motivasi kepada tenaga kerja untuk meningkatkan prestasi kerja, serta efisiensi dan efektivitas produksi. Oleh karena itu, bila kompensasi diberikan secara benar, para karyawan akan lebih terpuaskan dan termotivasi untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi. Beberapa istilah yang berkaitan dengan remunerasi antara lain:

  1. Komisi;

Komisi adalah imbalan pada tenaga kerja berupa persentase keuntungan dari jasa atau produk yang terjual, sebagai penghargaan dari hasil penjualan. Seseorang bisa menerima komisi sebagai imbalan selain gaji atau juga hanya jika ia berhasil menjual sesuatu tanpa menerima gaji.

  1. Kompensasi;

Kompensasi adalah semua yang diterima baik berupa fisik atau non fisik,  dan harus dihitung dan diberikan kepada seseorang yang umumnya merupakan obyek yang dikecualikan dari pajak pendapatan.

  1. Pengertian Gaji (salari);

Gaji adalah imbalan yang didapat tenaga kerja atas pekerjaan yang dilakukan dengan basis jangka waktu. Contohnya, harian, mingguan, bulanan, tanpa melihat tingkat produktivitasnya.

  1. Pengertian Upah (Wage).

Upah adalah imbalan yang dibayarkan kepada tenag kerjayang dihitung dengan basis tertentu yang tetap, misalnya tarif, per dokumen, per komoditi atau kuantitas lain yang terukur

Remunerasi pada dasarnya merupakan alat untuk mewujudkan visi dan misi organisasi dengan tujuan untuk menarik pegawai yang cakap dan berpengalaman, mempertahankan pegawai yang berkualitas, memotivasi pegawai untuk bekerja dengan efektif, memotivasi terbentuknya perilaku yang positif, dan menjadi alat untuk mengendalikan pengeluaran.

Remunerasi diidentifikasi sebagai salah satu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap kinerja pegawai dalam menjalankan tugasnya. Remunerasi merupakan imbalan atau balas jasa yang diberikan kepada tenaga kerja atau pegawai sebagai akibat dari prestasi yang telah diberikannya dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Sofa, 2008).

Menurut Samsudin (2006) berpendapat bahwa tujuan pemberian remunerasi antara lain sebagai berikut:

  1. Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi;

Pegawai menerima kompensasi berupa gaji, upah, atau bentuk lain adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi .

  1. Menunjukkan Keseimbangan dan Keadilan;

Pemberian remunerasi berhubungan dengan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pegawai pada jabatan yang ia duduki, sehingga tercipta keseimbangan antara input dan output.

  1. Memajukan Lembaga atau Perusahaan;

Semakin berani suatu lembaga memberikan remunerasi yang tinggi dapat dijadikan tolok ukur bahwa semakin berhasil lembaga tersebut membangun prestasi kerja pegawainya, karena pemberian remunerasi yang tinggi hanya mungkin dilakukan apabila lembaga tersebut memiliki pendapatan yang cukup tinggi dan mau memberikan remunerasi yang tinggi pula dengan harapan akan semakin maju lembaga tersebut.

  1. Meningkatkan Produktivitas Kerja.

Pemberian Kompensasi yang makin baik akan dapat mendorong pegawai bekerja lebih produktif.

 

Pengukuran besar kecilnya remunerasi dapat dilihat dari komponen remunerasi yang diterapkan dalam instansi tersebut. Struktur remunerasi pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan terdiri dari tujuh komponen, yaitu:

  1. Gaji, di mana gaji ditetapkan dengan memper hatikan peranan masing- masing PNS dalam melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan.
  2. Tunjangan biaya hidup (kemahalan), yang terdiri atas tunjangan pangan, perumahan, dan transpor.
  3. Tunjangan kinerja (insentif), berupa tunjangan prestasi yang diberikan pada akhir tahun.
  4. Tunjangan hari raya, yang diberikan sekali dalam satu tahun.
  5. Tunjangan kompensasi yang diberikan kepada PNS yang bertugas di daerah terpencil, daerah rawan konflik, dan di daerah dengan lingkungan yang tidak nyaman, berbahaya atau berisiko tinggi.
  6. Iuran bagi pemeliharaan kesehatan PNS dan keluarganya dan diberikan minimal sama dengan yang dibayar oleh PNS.
  7. Iuran dana pensiun dan Tunjangan Hari Tua (THT) dengan jumlah yang minimal sama dengan yang dibayar oleh PNS.

Menurut Mondy dan Noe (1993), komponen remunerasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu; remunerasi finansial dan remunerasi non finansial.

  1. Remunerasi finansial terdiri atas remunerasi finansial langsung dan remunerasi tidak langsung. Remunerasi finansial langsung terdiri dari pembayaran yang diterima oleh seorang pegawai dalam bentuk gaji, upah, bonus, dan komisi. Remunerasi tidak langsung atau yang disebu tjuga dengan tunjangan yaitu meliputi semua imbalan finansial yang tidak termasuk dalam remunerasi langsung, antara lain berupa program asuransi jiwa dan kesehatan, bantuan sosial, seperti benefit (jaminan pensiun, jaminan sosial tenaga kcria, bantuan pendidikan) serta ketidak hadiran yang dibayar, seperti cuti (cuti hamil, cuti sakit, dan lain sebagainya)
  2. Remunerasi non finansial terdiri dari kepuasan yang diperoleh pegawai dari pekerjaan itu sendiri dan dari lingkungan pekerjaan. Kepuasan yang diperoleh pegawai dari pekerjaan itu sendiri antara lain berupa: tugas yang menarik, tantangan pekerjaan, tanggung jawab, pengakuan yang memadai atas prestasi yang dicapai, seperti peluang promosi bagi pegawai yang berpotensi, atau peluang menguntungkan lainnya. Kepuasan yang diperoleh pegawai dari pekerjaa yang dapat diciptakan oleh perusahaan dan pegawai yaitu efek psikologis dan fisik dimana orang tersebut bekerja, termasuk didalamnya antara lain berupa: kebijakan perusahaan yang sehat dan wajar, supervisi dilakukan oleh pegawai yang kompeten, adanya rekan kerja yang menyenangkan, pemberian simbol status, terciptanya lingkungan kerja yang nyaman,  adanya pembagian pekerjaan adil, waktu kerja yang fleksibel, dan lain-lain.

 

Organisasi harus menetapkan perogram remunerasi yang didasarkan atas azas keadilan serta azas kelayakan dan kewajaran, dengan memperhatikan undang-undang yang berlaku. Organisasi harus memerhatikan keseimbangan antara kondisi-kondisi internal dan ekternal guna menjamin perasaan puas bagi pegawai, agar pegawai tetap termotivasi untuk bekerja dengan baik bagi organisasi. Berikut adalah azas-azas penting yang perlu diterapkan dalam pemberian remunerasi.

  1. Azas Keadilan

Remunerasi dinilai mampu memengaruhi perilaku pegawai dalam organisasi sehingga pemberian kompensasi yang tidak berdasarkan azas keadilan akan memengaruhi kondisi kerja pegawai. Azas keadilan yang dimaksud dalam hal ini ialah adanya konsistensi imbalan bagi para pegawai yang melakukan tugas dengan bobot yang sama. Dengan kata lain, remunerasi pegawai disuatu jenis pekerjaan dengan remunerasi pegawai di jenis pekerjaan yang lain, yang mengerjakan pekerjaan dengan bobot yang sama, relatif akan memperoleh besaran remunerasi yang sama.

Remunerasi yang baik harus seminimal mungkin mengurangi keluhan atau ketidak puasan ynag timbul dari pegawai. Jika karyawan mengetahui bahwa remunerasi yang diterimanya tidak sama dengan pegawai yang lain dengan bobot pekerjaan yang sama, maka akan menimbulkan kecemburuan, yang kemudian berpotensi untuk mengganggu iklim kerja pegawai dan produktifitas pegawai. Jadi, remunerasi dikatan adil bukan berarti setiap pegawai menerima remunerasi yang sama besarnya tanpa pertimbangan bobot pekerja yang diemban oleh masing-masing pegawai, tetapi berdasarkan azas adil, baik dalam penialaian, perlakuan, pemberian hadiah, maupun hukuman bagi setiap pegawai. Oleh karena itu, dengan adanya azas keadilan dalam pemberian remunerasi akan tercipta suasana kerja sama yang baik, disiplin, loyalitas, dan stabilitas pegawai yang lebih baik.

  1. Azas Kelayakan dan Kewajaran

Remunerasi yang diterima pegawai harus dapat memenuhi kebutuhan dirinya beserta keluarganya pada tingkatan yang layak dan wajar sehingga besaran remunerasi  yang akan diberikan akan mencerminkan status, pengakuan, dan tingkat pemenuhan kebutuhan yang kan dinikmati oleh pegawai beserta keluarganya. Tolak ukur layak memang bersifat relatif, tetapi menetapkan besaran minimal remunerasi yang akan diberikan oleh organisasi harus mengacu kepada standar hidup daerah dengan berpijak pada standar Upah Minimum Regional (UMR), baik ditingkat provinsi, maupun tingkat kota/kabupaten.

Remunisasi yang wajar, berarti besaran remunerasi harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti, prestasi kerja, pendidikan, jenis pekerjaan, tanggungjawab, jabatan, dan lain-lain. Dalam manajemen SDM penyesuaian remunerasi yang akan diberikan kepada pegawai harus disesuaiankan dengan perkembangan lingkungan  ekternal yang berlaku. Hal ini penting dilakukan agar semangat kerja pegawai tetap tinggi dan terhindar dari resiko timbulnya tuntutan dari pegawai, maupun pemerintah yang akan mengacam keberlangsungan organisasi.

Remunerasi pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan dikenal dengan istilah Tunjangan Kegiatan dan Pembinaan Khusus (TKPK). Besaran jumlah remunerasi ditetapkan berdasarkan Job Grade atau pemeringkatan jabatan. Job Grade disusun berdasarkan hasil evaluasi jabatan yang menggunakan analisa beban kerja.

Unsur yang dipertimbangkan dalam evaluasi jabatan itu dilakukan dengan memperhatikan tiga faktor yaitu ability, process, dan outcome. Faktor ability, yaitu pendidikan, kompetensi atau keahlian. Faktor process, yaitu bagaimana kompleksitas pekerjaan yang dilaksanakan, apakah dia bekerja secara terstruktur atau tidak. Faktor outcome, mempertimbangkan dampak pekerjaan terhadap BPK, apakah ruang lingkupnya kecil dan hanya bersifat internal, atau besar dan bersifat eksternal. Semua faktor tersebut diperbandingkan, lalu disusunlah pemeringkatan.

  Job grade pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan terdiri dari 27 peringkat jabatan. Setiap jabatan pegawai dimasukkan ke dalam 27 peringkat jabatan tersebut. Job grade digunakan untuk menentukan besaran remunerasi pada setiap peringkat dalam 27 peringkat jabatan tersebut. Besaran remunerasi di setiap peringkat dalam job grade selalu tetap. Kenaikan atau penurunan remunerasi bisa terjadi jika pegawai mendapat promosi jabatan atau mutasi jabatan.

Badan Pemeriksa Keuangan belum menerapkan remunerasi berdasarkan prestasi dan kinerja pegawai, namun baru berdasarkan tingkat jabatan. Penerapan remunerasi pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan hanya berpengaruh pada tataran punishment. Belum berlaku pada tataran reward. Salah satu pengaruh punishment terhadap remunerasi adalah penerapan disiplin dalam hal absensi atau kehadiran pegawai. Alat pendukungnya adalah penerapan finger print. Bentuk dari punishment dengan pemotongan remunerasi ini adalah pegawai yang tidak masuk, atau tidak melakukan absensi dengan finger print. Jika pegawai tidak masuk sehari akan dipotong sebanyak 3% dari TKPK, Namun kalau hadir tepat waktu, pegawai tidak diberikan reward. Jadi, kalau hadir berhak (mendapatkan TKPK), kalau tidak hadir, akan diberikan punishment.

Hukuman disiplin dikaitkan dengan remunerasi, misalnya hukuman ringan, pegawai yang terkena hukuman ringan akan dipotong 15% dari TKPK. Kalau pegawai mendapat hukuman sedang, akan dipotong 25% dan hukuman berat dipangkas 50%. Hukuman ringan misalnya, pegawai mendapat teguran lisan, secara tertulis, kemudian pernyataan tidak puas dari atasan langsung. Untuk hukuman sedang misalnya, penundaan kenaikan pangkat. Hukuman berat misalnya pembebasan jabatan.

Selain absensi, ketidakhadiran, seorang pegawai mendapatkan hukuman ringan, sedang, dalam PP 53 tahun 2010, hukuman disiplin juga diterapkan dengan ukuran pencapaian kinerja, misalnya mencapai sasaran kerja hanya 25% dari target, akan diberikan hukuman berat. Kalau misalnya hanya sasaran kerjanya hanya mencapai 25%-50% dari target, itu mendapat hukuman sedang.

Besaran remunerasi antara pegawai unit kerja penunjang dan unit kerja Pemeriksaan yang notabene merupakan unit proses bisnis utama BPK ada sedikit perbedaan.  Perbedaannya, pada unit kerja pemeriksaan terdapat remunerasi tambahan yang disebut dengan standar biaya khusus (SBK).

 

  • Pengertian Sasaran Kerja Pegawai

Pengertian Sasaran Kerja Pegawai (SKP) menurut Undang-undang nomor 46 Tahun 2011 pasal 1 Sasaran Kerja Pegawai yang selanjutnya disingkat SKP adalah ”Rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang PNS”. Target adalah jumlah beban kerja yang akan dicapai dari setiap pelaksanaan tugas jabatan. Sasaran Kerja Pegawai disusun dan disepakati bersama antara pegawai dengan atasan pegawai.

Perencanaan atau strategic planning adalah usaha yang sistematis dan formal dari sebuah perusahaan untuk menentukan tujuan perusahaan, aturan, dan strategi yang melibatkan pembuatan rencana yang detil untuk mengimplementasikan aturan dan strategi untuk mencapai tujuan utama perusahaan (Steiner (1979) dalam Arasa dan K’Obonyo (2012, p.202). Pengertian lain disampaikan oleh Razan (dikutip oleh Almani dan Esfaghansary (2012, p.140) yang mengatakan bahwa ”Sesuatu yang dirancang untuk mencapai tujuan komprehensif sebuah perusahaan, sehingga dapat memastikan eksekusi misi perusahaan”.

Sistem penilaian prestasi kerja mewajibkan setiap Pegawai Negeri Sipil untuk menyusun Sasaran Kerja Pegawai (SKP) sebagai rancangan pelaksanaan Kegiatan Tugas Jabatan, sesuai dengan rincian tugas, tanggungjawab dan wewenangnya, yang secara umum telah ditetapkan dalam struktur dan tata kerja organisasi. SKP disusun dan ditetapkan sebagai rencana operasional pelaksanaan Kegiatan Tugas Jabatan, dengan mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja (Renja) tahunan organisasi, yang berisikan tentang apa kegiatan yang akan dilakukan, apa hasil yang akan dicapai, berapa yang akan dihasilkan dan kapan harus selesai. Setiap Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilaksanakan, target sebagai hasil kerja yang harus diwujudkan, dengan mempertimbangkan aspek kuantitas/output, kualitas, waktu dan dapat disertai biaya.

Setiap Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilakukan harus didasarkan pada rincian tugas, tanggungjawab dan wewenang jabatan, yang secara umum telah ditetapkan dalam struktur dan tata kerja organisasi. Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilakukan harus mengacu pada rencana kerja tahunan organisasi, sebagai implementasi kebijakan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran organisasi yang telah ditetapkan dan harus berorientasi pada hasil (end result) secara nyata dan terukur.

  1. Tingkat Eselon I;

Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilakukan harus mengacu pada rencana strategis (renstra) dan rencana kerja (renja) tahunan organisasi (SKO), dijabarkan sesuai dengan uraian tugas jabatannya, menjadi SKU eselon I yang dioperasionalkan menjadi SKP pejabat eselon I, sebagai implementasi kebijakan untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi.

  1. Tingkat Eselon II;

Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilakukan harus mengacu pada rencana kerja tahunan unit tingkat eselon I (SKU) dijabarkan sesuai dengan uraian tugas jabatannya menjadi SKU eselon II yang dioperasionalkan menjadi SKP pejabat eselon II, dalam rangka mencapai SKU eselon I.

  1. Tingkat Eselon III;

Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilakukan harus mengacu pada rencana kerja tahunan unit tingkat eselon II (SKU) dijabarkan sesuai dengan uraian tugas jabatannya menjadi SKU eselon III yang dioperasionalkan menjadi SKP pejabat eselon III, dalam rangka mencapai SKU eselon II.

  1. Tingkat Eselon IV;

Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilakukan harus mengacu pada rencana kerja tahunan unit tingkat eselon III (SKU) dijabarkan sesuai dengan uraian tugas jabatannya menjadi SKU eselon IV yang dioperasionalkan menjadi SKP pejabat eselon IV, dalam rangka mencapai SKU eselon III.

  1. Tingkat Staf/Pelaksana.

Kegiatan Tugas Jabatan yang akan dilakukan harus mengacu pada rencana kerja tahunan unit tingkat eselon IV (SKU) dijabarkan sesuai dengan uraian tugas jabatannya menjadi Sasaran Kerja Pegawai (SKP) Pegawai Negeri Sipil, dalam rangka mencapai SKU eselon IV.

Setiap pelaksanaan Kegiatan Tugas Jabatan harus ditetapkan target yang akan diwujudkan secara jelas, sebagai ukuran penilaian prestasi kerja. Target merupakan jumlah beban kerja yang akan dicapai oleh setiap PNS dalam kurun waktu tertentu.

Target bukan merupakan standar prestasi kerja yang ideal, bukan merupakan ukuran minimal atau maksimal, tetapi merupakan ukuran atau tolok ukur prestasi kerja yang realistis tetapi penuh tantangan. Oleh karena itu dalam menetapkan target prestasi kerja harus mempertimbangkan 4 (empat ) aspek yaitu :

  1. Aspek Kuantitas (target output);

Dalam menentukan target kuantitas/output (TO) dapat berupa dokumen, konsep, naskah, surat keputusan, laporan dan sebagainya

  1. Aspek Kualitas (target kualitas);

Dalam menetapkan target kualitas (TK) harus memprediksi pada mutu hasil kerja yang terbaik, dalam hal ini nilai yang diberikan adalah 100 dengan sebutan Sangat Baik, misalnya target kualitas harus 100.

  1. Aspek Waktu (target waktu);

Dalam menetapkan target waktu (TW) harus memperhitungkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, misalnya satu bulan, triwulan, caturwulan, semester, 1 (satu) tahun dan lain-lain.

 

 

 

  1. Aspek Biaya (Target Biaya).

Dalam menetapkan target biaya (TB) harus memperhitungkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam 1 (satu) tahun, misalnya jutaan, ratusan juta, milyaran dan lain-lain.

Selain melakukan kegiatan tugas pokok yang ada dalam SKP, seorang PNS dapat melaksanakan tugas lain atau tugas tambahan yang diberikan oleh atasan langsungnya dan dibuktikan dengan surat keterangan, maka pada akhir tahun yang bersangkutan dapat diberikan nilai tugas tambahan paling rendah 1 (satu) dan paling tinggi 3 (tiga) dengan menggunakan pedoman sebagai berikut:

  1. Tugas tambahan yang dilakukan dalam 1 (satu) tahun sebanyak 1 (satu) sampai 3 (tiga) diberikan nilai 1;
  2. Tugas tambahan yang dilakukan dalam 1 (satu) tahun sebanyak 4 (empat) sampai 6 (enam) diberikan nilai 2;
  3. Tugas tambahan yang dilakukan dalam 1 (satu) tahun sebanyak 7 (tujuh) atau lebih diberikan nilai 3.

Formulir SKP yang telah diisi dengan rencana pelaksanaan kegiatan Tugas Jabatan dan target, yang secara keseluruhan telah disepakati bersama antara Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dengan atasan langsungnya sebagai pejabat penilai, harus ditandatangani, sebagai penetapan kontrak prestasi kerja, yang selanjutnya pada akhir tahun digunakan sebagai ukuran penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.

Berdasarkan pasal 12 ayat (2) Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, dinyatakan bahwa untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang profesional, bertanggungjawab, jujur dan adil melalui pembinaan yang dilaksanakan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier yang dititik beratkan pada sistem prestasi kerja. Selanjutnya pasal 20 dinyatakan bahwa untuk menjamin obyektifitas dalam mempertimbangkan pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan pangkat diadakan penilaian prestasi kerja.

Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan untuk mengevaluasi kinerja individu Pegawai Negeri Sipil, yang dapat memberi petunjuk bagi manajemen dalam rangka mengevaluasi kinerja unit dan kinerja organisasi. Hasil penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan penetapan keputusan kebijakan pengelolaan karier Pegawai Negeri Sipil, yang berkaitan dengan :

  1. Bidang Pekerjaan.;

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam kebijakan perencanaan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia Pegawai Negeri Sipil, serta kegiatan perancangan pekerjaan Pegawai Negeri Sipil dalam organisasi (job design).

 

 

  1. Bidang Pengangkatan dan Penempatan;

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam proses rekrutmen, seleksi dan penempatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan, sesuai dengan kompetensi dan prestasi kerjanya. 2

  1. Bidang Pengembangan;

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan pengembangan karier dan pengembangan kemampuan serta keterampilan Pegawai Negeri Sipil yang berkaitan dengan pola karier dan program diklat organisasi.

  1. Bidang Penghargaan.

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan pemberian penghargaan dengan berbasis prestasi kerja seperti kenaikan pangkat, kenaikan gaji atau tunjangan prestasi kerja, promosi atau kompensasi lainnya (performance related pay).

Menurut Mondy & Noe (2005), ”Penilaian kinerja adalah tinjauan formal dan evaluasi kinerja individu atau tugas tim”. Sedangkan menurut Dessler (2003), ”Penilaian kinerja adalah mengevaluasi kinerja relatif karyawan saat ini dan/atau di masa lalu terhadap standar prestasinya”. Penilaian prestasi kerja pada ilmu Manajemen Sumberdaya Manusia (MSDM) menurut Mondy & Noe (2005) dapat dilakukan dengan tujuh metode, yaitu;

 

 

  1. Rating Scales;

Menilai kinerja pegawai dengan menggunakan skala untuk mengukur faktor-faktor kinerja (performance factor). Misalnya dalam mengukur tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai. Skala yang digunakan adalah 1 sampai 5, yaitu 1 adalah yang terburuk dan 5 adalah yang terbaik. Jika tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai tersebut biasa saja, maka ia diberi nilai 3 atau 4 dan begitu seterusnya untuk menilai faktor-faktor kinerja lainnya.

  1. Critical Incidents;

Evaluator mencatat mengenai apa saja perilaku/pencapaian terbaik dan terburuk (extremely good or bad behaviour) pegawai. Dalam metode ini, penilai harus menyimpan catatan tertulis tentang tindakan-tindakan atau prilaku kerja yang sangat positif (high favorable) dan perilaku kerja yang sangat negatif (high unfavorable) selama periode penilaian.

  1. Essay;

Evaluator menulis deskripsi mengenai kekuatan dan kelemahan karyawan, kinerjanya pada masa lalu, potensinya dan memberikan saran-saran untuk pengembangan pekerja tersebut. Metode ini cenderung lebih memusatkan perhatian pada perilaku ekstrim dalam tugas-tugas karyawan daripada pekerjaan atau kinerja rutin yang mereka lakukan dari hari ke hari. Penilaian seperti ini sangat tergantung kepada kemampuan menulis seorang penilai.

  1. Work standard;

Metode ini membandingkan kinerja setiap karyawan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya atau dengan tingkat keluaran yang diharapkan. Standar mencerminkan keluaran normal dari seorang pekerja yang berprestasi rata-rata, yang bekerja pada kecepatan atau kondisi normal. Agar standar ini dianggap objektif, para pekerja harus memahami secara jelas bagaimana standar yang ditetapkan.

  1. Ranking;

Penilai menempatkan seluruh pekerja dalam satu kelompok sesuai dengan peringkat yang disusun berdasarkan kinerja secara keseluruhan. Contohnya, pekerja terbaik dalam satu bagian diberi peringkat paling tinggi dan pekerja yang paling buruk prestasinya diletakkan di peringkat paling bawah. Kesulitan terjadi bila pekerja menunjukkan prestasi yang hampir sama atau sebanding.

  1. Forced distribution;

Penilai harus “memasukkan” individu dari kelompok kerja ke dalam sejumlah kategori yang serupa dengan sebuah distribusi frekuensi normal. Contoh para pekerja yang termasuk ke dalam 10 persen terbaik ditempatkan ke dalam kategori tertinggi, 20 persen terbaik sesudahnya ke dalam kategori berikutnya, 40 persen berikutnya ke dalam kategori menengah, 20 persen sesudahnya ke dalam kategori berikutnya, dan 10 persen sisanya ke dalam kategori terendah. Bila sebuah departemen memiliki pekerja yang semuanya berprestasi istimewa, atasan “dipaksa” untuk memutuskan siapa yang harus dimasukan ke dalam kategori yang lebih rendah.

  1. Behaviourally Anchored Rating Scales (BARS).

Evaluator menilai pegawai berdasarkan beberapa jenis perilaku kerja yang mencerminkan dimensi kinerja dan membuat skalanya. Misalnya penilaian pelayanan pelanggan. Bila pegawai bagian pelayanan pelanggan tidak menerima tip dari pelanggan, ia diberi skala 4 yang berarti kinerja lumayan. Bila pegawai itu membantu pelanggan yang kesulitan atau kebingungan, ia diberi skala 7 yang berarti kinerjanya memuaskan, dan seterusnya. Metode ini mendeskripsikan perilaku yang diharapkan sesuai dengan tingkat kinerja yang diharapkan.

 

Penilaian prestasi kerja atau penilaian kinerja terkadang bukan menjadi perkara mudah, adapun beberapa masalah yang berkaitan dengan penilaian kinerja antara lain sebagai berikut;

  1. Kurangnya objektivitas;

Salah satu kelemahan metode penilain kinerja tradisional adalah kurangnya objektivitas. Dalam metode rating scale, misalnya, faktor-faktor yang lazim digunakan seperti sikap, loyalitas dan kepribadian adalah faktor-faktor yang sulit diukur. Penggunaan faktor-faktor yang terkait dengan pekerjaan (job related factors) dapat meningkatkan objektivitas.

  1. Bias “Hallo error

Bias “Hallo error” terjadi bila penilai mempersepsikan satu faktor sebagai kriteria yang paling penting dan memberikan penilaian umum baik atau buruk berdasarkan faktor tunggal ini.

  1. Terlalu “longggar” / terlalu “ketat”

Penilai terlalu “longggar” (leniency) kecenderungan memberi nilai tinggi kepada yang tidak berhak, penilai memberi nilai lebih tinggi dari seharusnya. Penilai terlalu “ketat” (strictness) terlalu kritis atas kinerja seorang pekerja (terlalu “ketat” dalam memberikan nilai). Penilaian yang terlalu ketat biasanya terjadi bila manajer tidak mempunyai definisi atau batasan yang akurat tentang berbagai faktor penilaian.

  1. Kecenderungan memberikan nilai tengah

Kecenderungan memberi nilai tengah (Central tendency), terjadi bila pekerja di beri nilai rata-rata secara tidak tepat atau di tengah-tengah skala penilaian, Biasanya, penilai memberi nilai tengah karena ingin menghindari kontroversi atau kritik.

  1. Bias perilaku terbaru

Bias perilaku terbaru (recent behavior bias), perilaku atau kinerja yang paling akhir akan lebih mudah diingat daripada perilaku yang telah lama. Penilai cenderung lebih banyak menilai kinerja yang tampak menjelang atau pada saat proses penilaian dilakukan. Seharusnya penilaian kinerja mencakup periode waktu tertentu.

  1. Bias pribadi (stereotype)

Penyelia yang melakukan penilaian bisa saja memiliki bias yang berkaiatan dengan karakteristik pribadi pekerja seperti suku, agama, gender atau usia. Meskipun ada peraturan atau undang-undang yang melindugi pekerja, diskriminasi tetap menjadi masalah dalam penilain kinerja.

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil secara sistemik penekanannya pada pengukuran tingkat capaian Sasaran Kerja Pegawai atau tingkat capaian hasil kerja (output) yang telah direncanakan dan disepakati antara Pejabat Penilai dengan Pegawai Negeri Sipil yang dinilai sebagai kontrak prestasi kerja

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil secara strategis diarahkan sebagai pengendalian perilaku kerja produktif yang disyaratkan untuk mencapai hasil kerja yang disepakati dan bukan penilaian atas kepribadian seseorang Pegawai Negeri Sipil. Unsur perilaku kerja yang mempengaruhi prestasi kerja yang dievaluasi memang relevan dan secara signifikan berhubungan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan dalam jenjang jabatan setiap individu Pegawai Negeri Sipil yang dinilai. Penilaian prestasi kerja secara sistemik menggabungkan antara penetapan Sasaran Kerja Pegawai dengan penilaian proses pelaksanaan pekerjaan yang tercermin dalam perilaku kerja produktif, hasilnya direkomendasikan untuk dasar pertimbangan tindakan pembinaan dan pengembangan karier Pegawai Negeri Sipil yang dinilai.

 

  • Pengertian Kinerja

Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Istilah kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan individu maupun kelompok individu (Mahsun dkk. 2007).

Menurut Kamus Bahasa Indonesia dikemukakan arti kinerja sebagai “(1) sesuatu yang dicapai; (2) prestasi yang diperlihatkan; (3) kemampuan kerja”. Menurut Fattah (1999:19) kinerja atau prestasi kerja (performance) diartikan sebagai: ”ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan keterampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu”. Sementara menurut Sedarmayanti (2001:50), “Kinerja merupakan terjemahan dari performance yang berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, unjuk kerja atau penampilan kerja’’.

Menurut Robbin (2001), ”Kinerja merupakan hasil evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan individu dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan bersama, pengertian kinerja sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai individu dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kapadanya”.

Kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil karya yang dicapai oleh seorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan waktu yang diukur dengan mempertimbangkan kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu. Kinerja (prestasi kerja) dapat diukur melalui pengukuran tertentu (standar), dimana kualitas adalah berkaitan dengan mutu kerja yang dihasilkan, sedangkan kuantitas adalah jumlah hasil kerja yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu, dan ketepatan waktu adalah kesesuaian waktu yang telah direncanakan (Trisnaningsih, 2007).

Menurut Rivai (2005) menjelaskan bahwa “Kinerja merupakan hasil atau tingkatan keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah ditetapkan bersama”.

Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena pengukuran tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun sistem imbalan jasa bagi pegawai, yang dapat mempengaruhi perilaku pengambilan keputusan pimpinan dalam organisasi. Sedangkan indikator kinerja menurut Dwiyanto dalam Pasolong (2006) mengemukakan bahwa terdapat 5 (lima) indikator dalam pengukuran kinerja pegawai, yaitu:

  1. Produktivitas;

Produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efisiensi saja, tetapi juga mengukur efektivitas pelayanan. Produktivitas dipahami sebagai ratio antara input dan output.

  1. Kualitas Layanan;

Kualitas dari pelayanan yang diberikan sangat penting untuk dipertahankan demi meningkatkan kinerja pegawai maupun kepuasan bagi masyarakat.

  1. Responsivitas;

Pegawai harus memiliki kemampuan untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan serta mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

  1. Responsibilitas;

Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar dan kebijakan birokrasi yang baik yang eksplisit maupun implisit.

Kebijakan dan kegiatan birokrasi harus dapat dipertanggung jawabkan didepan hukum dan perundang-undangan.

 

Mangkunegara (2001 : 68), berpendapat bahwa “Ada hubungan yang positif antara motif berprestasi dengan pencapaian kerja”. Motif berprestasi dengan pencapaian kerja. Motif berprestasi adalah suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik baiknya agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji.

Menurut Mathis dan Jackson (2001 : 82) faktor-faktor yang memengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu: ”Kemampuan mereka, Motivasi, Dukungan yang diterima, Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan Hubungan mereka dengan organisasi”. Sedangkan menurut Gimler (2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan kinerja, yaitu : ”Kesempatan untuk maju, Keamanan kerja, Gaji, Perusahaan dan manajemen, Faktor intrinsik dan pekerjaan, Kondisi kerja, Aspek social dalam pekerjaan, Komunikasi dan Fasilitas ”

Menurut Loeke (dalam Sule, 2002: 211), ”Kepuasan atau ketidakpuasan karyawan tergantung pada perbedaan antara apa yang diharapkan”. Apabila yang didapat karyawan lebih rendah daripada yang diharapkan akan menyebabkan karyawan tidak puas. Begitu juga sebaliknya, apabila yang didapat karyawan lebih tinggi dari pada yang diharapkan, secara otomatis akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Disamping itu ada beberapa hal yang mesti dijadikan fondasi bagi setiap manajemen untuk bisa menciptakan kinerja yang maksimal diantaranya :

  1. Pimpinan harus mengetahui betul bagaimana teknik pengerjaan;
  2. Pimpinan harus mengetahui betul bagaimana kendala-kendala yang dihadapi;
  3. Pimpinan harus turun langsung kelapangan, tujuannya agar menciptakan hubungan baik antar manajemen dengan karyawan;
  4. Pimpinan harus bisa memahami bagaimana tingkat kesulitan dari setiap proses;
  5. Pimpinan harus bisa menemukan teknik agar produktivitas bisa berjalan dengan baik.

Produktivitas suatu organisasi akan meningkat jika didukung dengan adanya perbaikan sistem metode kerja, karyawan akan puas dalam bekerja tanpa adanya tekanan yang berdampak pada pisikologis bagi karyawan. Hal demikian akan terjalin hubungan antara manajemen dengan karyawan. Ada beberapa point penting dalam upaya menciptakan suasana kerja yang kondusif.  Terdapat  lima kunci dasar dalam mendongkrak kinerja;

  1. Kekhususan;

Karyawan membutuhkan spesifikasi. Informasi spesifik secara lengkap dengan tata cara pelaksanaan yang baik dan terarah sangat membantu stabilitas kinerja, sekaligus memperbaiki kekurangan. Manajer tak perlu sibuk memandori dan karyawan tahu keinginan kantor/tempat kerja, ini menunjang kreativitas. Hal ini bisa dicapai dengan manajemen Job Description (pembagian bidang kerja, tugas pokok dan fungsi, kewenangan, dll) yang baik. Point ini dapat pula diwujudkan dengan penempatan orang yang tepat pada posisi/jabatan yang sesuai bidang keahliannya (right man in the right job).

  1. Konsistensi;

Informasi sebaiknya tidak saling bertentangan. Misalnya penilaian berkala baik, tapi penilaian tahunan buruk. Inkonsistensi yang seperti ini dapat meresahkan dan menganggu kinerja. Pada point ini sistem monitoring dan evaluasi kantor/tempat kerja harus mempunyai arah capaian/standart kinerja dan target yang jelas. Hal ini akan mempermudah kantor/tempat kerja dalam melihat perkembangan kemajuan yang telah dicapai dan data laporan yang akurat. Sehingga dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan yang baik.

  1. Waktu yang tepat;

Umpan balik sebaiknya segera diberikan, agar karyawan termotivasi memperbaiki. Kalau kelamaan ada keengganan mengevaluasi. Mereka terlanjur merasa benar dan akan sangat terpukul jika dapat nilai rapor jelek.

  1. Komunikasi yang efektif;

Pimpinan dalam level manapun harus mampu menciptakan komunikasi efektif untuk menumbuhkan persamaan persepsi dengan karyawan. Jika pernyataan/instruksi manajer tidak dimengerti atau diterima sepotong-sepotong, sasaran tak akan tercapai. Komunikasi efektif sangat berperan vital dalam penciptaan suasana kerja yang sehat. Instruksi atasan yang jelas dan benar harus dapat dipahami oleh karyawan. Pada saat terdapat masalah, harus secepatnya diselesaikan. Bila terdapat unsur-unsur konflik baik vertikal (manajer–karyawan) maupun horizontal (sesama karyawan) dalam suatu kantor/tempat kerja dibiarkan berlarut, sangat berpotensi mengganggu stabilitas iklim kerja.

  1. Niat baik dan kerjasama.

Pimpinan perlu menunjukkan niat baik dan kerjasama. Umpan balik yang hanya bertujuan menjatuhkan atau mempermalukan karyawan tak akan mampu menciptakan kondisi kerja yang sehat. Karyawan yang ikut memberikan ide dalam menetapkan sasaran atau standar kinerja, berarti telah mengemukakan kehendak dan kebutuhannya. Karyawan tersebut akan berusaha mencapainya, karena dia tahu apa yang dia mau.

Wirawan (2009) menyatakan bahwa kinerja merupakan hasil dari sinergi sejumlah faktor yang meliputi :

  1. Faktor internal pegawai;

F aktor-faktor dari dalam diri pegawai yang merupakan faktor bawaan dari lahir (misalnya bakat, sifat pribadi, serta keadaan fisik dan kejiwaan) dan faktor yang diperoleh ketika berkembang (misalnya pengetahuan, keterampilan, etos kerja dan pengalaman kerja).

  1. Faktor lingkungan internal organisasi;

Dukungan dari organisasi tempat pegawai bekerja (misalnya dukungan teknologi, sumber daya yang dimiliki oleh organisasi, sistem manajemen dan kompensasi, strategi organisasi dan iklim kerja dalam organisasi).

  1. Faktor lingkungan eksternal organisas.

Faktor lingkungan eksternal organisasi meliputi keadaan, kejadian, atau situasi yang terjadi di lingkungan sekitar organisasi yang mempengaruhi  kinerja pegawai (misalnya inflasi).

 

Faktor-faktor internal pegawai bersinergi dengan faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal organisasi kemudian mempengaruhi perilaku kerja pegawai. Perilaku kerja ini meliputi kepuasan kerja, etos kerja, disiplin kerja, motivasi kerja, semangat kerja, sikap kerja, stress kerja, keterlibatan kerja, dan loyalitas. Perilaku kerja ini selanjutnya mempengaruhi kinerja pegawai. Semakin baik perilaku kerja (misalnya semakin tinggi motivasi pegawai) maka kinerja pegawai tersebut akan semakin baik.

Beberapa kriteria yang biasa dipergunakan untuk mengukur kinerja. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kuantitas (seberapa banyak), merupakan ukuran yang paling mudah untuk disusun dan diukur, yaitu dengan menghitung seberapa banyak unit keluaran kinerja yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu;
  2. Kualitas (seberapa baik), yaitu seberapa baik atau seberapa lengkap hasil yang harus dicapai;
  3. Ketepatan waktu pelaksanaan tugas, yaitu kriteria yang menentukan keterbatasan waktu untuk memproduksi sesuatu atau melayani sesuatu
  4. Efektifitas penggunaan sumber daya organisasi, yaitu berkaitan dengan sumber daya tertentu (misalnya uang atau peralatan) yang digunakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan;
  5. Cara melakukan pekerjaan, yaitu berkaitan dengan sikap personal atau perilaku pegawai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan;
  6. Efek atas suatu upaya, yaitu berkaitan dengan hasil akhir yang diperoleh dari pelaksanaan suatu pekerjaan;
  7. Metode pelaksanaan tugas, yaitu standar yang digunakan jika ada undang-undang, kebijakan prosedur, standar, metode, dan peraturan untuk menyelesaikan pekerjaan;
  8. Standar sejarah, yaitu standar yang menyatakan hubungan antara standar masa lalu dengan standar sekarang;
  9. Standar nol atau absolut, yaitu standar yang menyatakan tidak akan terjadi sesuatu.

Robbins (2006:260) beberapa Indikator  yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja karyawan secara individu, yaitu:

  1. Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan.
  2. Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
  3. Ketepatan waktu. Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
  4. Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
  5. Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat menjalankan fungsi kerjanya Komitmen kerja. Merupakan suatu tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap kantor.

 

  • Kerangka Berfikir

Dalam suatu penelitian kerangka pemikiran merupakan suatu penjabaran berbagai variabel yang akan diteliti, dimana variabel yang satu dihubungkan dengan variabel yang lain. Dari pnjelasan-penjelasan teori tentang remunerasi, Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan Kinerja, dapat dibuat kerangka pemikiran sebagaimana pada gambar berikut:

 

 

H1

H3

 

H2

 

Gambar II.1

Kerangka Berpikir

 

  • Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir, maka pernyataan hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H1 : Remunerasi  berpengaruh terhadap kinerja secara signifikan
H2 : Sasaran Kerja Pegawai (SKP) berpengaruh terhadap kinerja secara signifikan
H3 : Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) berpengaruh terhadap kinerja secara signifikan

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1.  Tempat dan Waktu penelitian

Penelitian yang penulis lakukan pada skripsi ini berjudul “Pengaruh   Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Dalam pembuatan skripsi ini waktu penelitian yang penulis lakukan adalah dimulai pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2015. Sedangkan tempat penelitian dilakukan di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang beralamat di Jalan Pulau Bangka, Kompleks Perkantoran Terpadu, air Itam, Pangkalpinang.

 

3.2.  Jenis Penelitian dan Gambaran Populasi

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian assosiatif dengan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang menekankan analisis hubungan atau korelasi antara dua variabel atau lebih dengan menggunakan data-data berupa angka-angka atau data-data kualitatif yang diangkakan (skoring) dan diolah dalam skala pengukuran metode statistik untuk menemukan hubungan-hubungan antar variabel (Sugiyono, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai pada kantor BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang berjumlah 76 orang dengan rincian sebagai berikut:

  1. PNS (Pegawai Negeri Sipil)                      =   56 orang
  2. PTT (Pegawai Tidak Tetap)                      =    20 orang

Jumlah pegawai           =  76 orang

 

3.3. Teknik Pengambilan Sampel

Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan tekhnik Sampling Random Sederhana (Simple Random Sampling) dimana pengambilan sampel dilakukan secara acak (random) dengan tidak mempertimbangkan strata atau tingkatan dalam populasi. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian, Roscoe (1975)

  • Instrumen Penelitian

Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan instrument penelitian yang berbentuk kuesioner. Adapun format jawaban dari kuesioner ini menurut skala likert dengan lima alternatif jawaban. Setiap alternatif jawaban itu diberi skor, dengan nilai skala sebagai berikut:

  • Untuk kategori sangat setuju diberi skor 5
  • Untuk kategori setuju diberi skor 4
  • Untuk kategori kurang setuju           diberi skor 3
  • Untuk kategori tidak setuju diberi skor 2
  • Untuk kategori sangat tidak setuju diberi skor 1
    • Studi kepustakaan (Literature study)

Penulis mendapatkan data-data literatur dengan menggunakan buku-buku pedoman, Artikel dan literatur lainnya baik cetak maupun elektronik yang dapat membantu dalam penulisan ini.

      3.4.   Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini terdiri dari 2 buah variabel eksogen (bebas) yaitu, Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan variabel endogen (terikat), yaitu Kinerja Pegawai. Adapun indikator masing-masing variabel adalah sebagai berikut:

TABEL III.1.

OPERASIONAL VARIABEL

No Variabel Dimensi Indikator
1. Remunerasi

(X1)

Peraturan Menteri Keuangan No.10/PMK.02/2006 tentang Pedoman Penetapan Remunerasi

Finansial a.       Proporsional

b.      Kesetaraan

c.       Kepatutan

 

2. Sasaran Kerja Pegawai (SKP) (X2)

PP No.46 Tahun 2011 tentang Prestasi Kerja PNS

Strategic Planing a.       Perencanaan Output

b.      Perencanaan Kualitas

c.       Perencanaan Waktu

d.      Perencanaan Biaya

3. Kinerja (Y)

Robbins (2006:260)

Work Effort a.       Kualitas

b.      Kuantitas

c.       Ketepatan Waktu

d.      Efektivitas

e.       Kemandirian

                                                                                                         

  • Teknik Analisis Data
    • Uji Kualitas Data

Uji kualitas data dilakukan untuk menguji kecakupan dan kelayakan data yang digunakan dalam penelitian. Data penelitian tidak bermanfaat apabila istrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian tidak memiliki reliabilitas dan validitas yang tinggi (Sunyoto, 2011:109). Oleh karena itu, benar tidaknya data sangat menentukan bermutu tidaknya hasi penelitian, sedangkan benar tidaknya data tergantung pada baik tidaknya instrumen pengumpulan data. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting, yaitu valid dan reliabel, sehingga pengujian instrumen biasanya terdiri dari uji validitas dan reliabilitas.

 

 

  • Uji Validitas

Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner (Sunyoto, 2011;114). Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuisioner tersebut. Peneliti dapat mengetahui seberapa jauh responden menjawab sesuai yang diinginkan peneliti. Data penelitian tidak akan berguna apabila instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian itu tidak memiliki validitas yang tinggi. Alat analisis yang digunakan untuk mengukur tingkat validitas data adalah dengan koefisien korelasi menggunakan bantuan program SPSS ver. 22.0. Korelasi setiap item pertanyaan dengan total nilai setiap variabel dilakukan dengan uji korelasi product moment pearson.

 

 

  • Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (Sunyoto, 2011:110). Dalam setiap penelitian, sering terjadi adanya kesalahan pengukuran yang cukup besar. Suatu penelitian dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pengukuran terhadap suatu kelompok dengan subyek yang sama akan menghasilkan hasil yang sama. Pengujian reliabilitas setiap variabel dilakukan dengan Cronbach Alpha Coefficient menggunakan bantuan program SPSS ver. 21.0. Data yang diperoleh akan dapat dikatakan reliable apabila nilai Cronbach’s Alpha lebih besar atau sama dengan 0.60 (Sunyoto, 2011:110).

 

3.5.2. Pengujian Hipotesis

Untuk  mengetahui besarnya pengaruh variabel Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, digunakan:

  1. Uji Parsial

Uji parsial atau koefisien regresi dimaksudkan untuk memastikan apakah variabel eksogen (bebas) yang terdapat dalam persamaan tersebut secara individu berpengaruh terhadap nilai variabel yang bebas. Caranya dengan melakukan pengujian terhadap koefisien regresi setiap variabel eksogen (bebas) dengan menggunakan uji t.

 

  1. Uji Simultan

Uji simultan dimaksudkan untuk mengetahui apakah semua variabel eksogen (bebas) mempunyai pengaruh yang sama terhadap variabel endogen (terikat). Pengujian yang dilakukan menggunakan uji F. Jika Fhitung > Ftabel maka menolak hipotesis nol (Ho) dan menerima hipotesis alternatif (H), artinya secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel endogen (terikat), (Algifari, 2000:71).

Selain melakukan pembuktian dengan uji t, perlu juga dicari besarnya koefisien korelasi (r) yang bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan antar masing-masing variabel eksogen (bebas) dengan variabel endogen (terikat). Apabila nilai r = 0, berarti tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Setelah koefisien korelasi (r) diketahui, selanjutnya perlu dicari koefisien determinasi (R²) parsialnya untuk mengetahui besarnya kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh masing-masing variabel eksogen (bebas) terhadap variabel endogen (terikat) (Algifari, 2000:52).

 

  • Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti mendapatkan hambatan yang menjadi keterbatasan penelitian, yaitu indikator perencanaan biaya pada variabel Sasaran Kerja Pegawai (SKP) tidak dapat dimasukkan kedalam kuisioner, karena perencanaan anggaran hanya terdapat pada Sasaran Kerja Pegawai Eselon II dan Eselon I. Pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hanya ada satu pejabat Eselon II yaitu Kepala Perwakilan, sehingga penulis tidak memasukkan indikator perencanaan biaya pada variabel Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dalam penelitian ini.

BAB  IV

GAMBARAN UMUM

BPK PERWAKILAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

 

  • Sejarah Singkat BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Pasal 23 ayat (5) UUD Tahun 1945 menetapkan bahwa untuk memeriksa tanggungjawab tentang Keuangan Negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. Badan Pemeriksa Keuangan  merupakan satu lembaga yang bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan tanggung jawab keuangan Negara.

Berdasarkan amanat UUD Tahun 1945 tersebut telah dikeluarkan Surat Penetapan Pemerintah No.11/OEM tanggal 28 Desember 1946 tentang pembentukan Badan Pemeriksa Keuangan, pada tanggal 1 Januari 1947 yang berkedudukan sementara dikota Magelang. Pada waktu itu Badan Pemeriksa Keuangan hanya mempunyai 9 orang pegawai dan sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan pertama adalah R. Soerasno. Untuk memulai tugasnya, Badan Pemeriksa Keuangan dengan suratnya tanggal 12 April 1947 No.94-1 telah mengumumkan kepada semua instansi di Wilayah Republik Indonesia mengenai tugas dan kewajibannya dalam memeriksa tanggung jawab tentang Keuangan Negara, untuk sementara masih menggunakan peraturan perundang-undangan yang dulu berlaku bagi pelaksanaan tugas Algemene Rekenkamer (Badan Pemeriksa Keuangan Hindia Belanda), yaitu ICW dan IAR.

Dalam Penetapan Pemerintah No.6/1948 tanggal 6 Nopember 1948 tempat kedudukan Badan Pemeriksa Keuangan dipindahkan dari Magelang ke Yogyakarta. Negara Republik Indonesia yang ibukotanya di Yogyakarta tetap mempunyai Badan Pemeriksa Keuangan sesuai pasal 23 ayat (5) UUD Tahun 1945; Ketuanya diwakili oleh R. Kasirman yang diangkat berdasarkan SK Presiden RI tanggal 31 Januari 1950 No.13/A/1950 terhitung mulai 1 Agustus 1949.

Dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Serikat (RIS) berdasarkan Piagam Konstitusi RIS tanggal 14 Desember 1949, maka dibentuk Dewan Pengawas Keuangan (berkedudukan di Bogor) yang merupakan salah satu alat perlengkapan negara RIS, sebagai Ketua diangkat R. Soerasno mulai tanggal 31 Desember 1949, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan di Yogyakarta. Dewan Pengawas Keuangan RIS berkantor di Bogor menempati bekas kantor Algemene Rekenkamer pada masa pemerintah Netherland Indies Civil Administration (NICA).

Dengan kembalinya bentuk Negara menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950, maka Dewan Pengawas Keuangan RIS yang berada di Bogor sejak tanggal 1 Oktober 1950 digabung dengan Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan UUDS 1950 dan berkedudukan di Bogor menempati bekas kantor Dewan Pengawas Keuangan RIS. Personalia Dewan Pengawas Keuangan RIS diambil dari unsur Badan Pemeriksa Keuangan di Yogyakarta dan dari Algemene Rekenkamer di Bogor.

Pada Tanggal 5 Juli 1959 dikeluarkan Dekrit Presiden RI yang menyatakan berlakunya kembali UUD Tahun 1945. Dengan demikian Dewan Pengawas Keuangan berdasarkan UUD 1950 kembali menjadi Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan Pasal 23 (5) UUD Tahun 1945.

Meskipun Badan Pemeriksa Keuangan berubah-ubah menjadi Dewan Pengawas Keuangan RIS berdasarkan konstitusi RIS Dewan Pengawas Keuangan RI (UUDS 1950), kemudian kembali menjadi Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan UUD Tahun 1945, namun landasan pelaksanaan kegiatannya masih tetap menggunakan ICW dan IAR.

Dalam amanat-amanat Presiden yaitu Deklarasi Ekonomi dan Ambeg Parama Arta, dan di dalam Ketetapan MPRS No. 11/MPRS/1960 serta resolusi MPRS No. 1/Res/MPRS/1963 telah dikemukakan keinginan-keinginan untuk menyempurnakan Badan Pemeriksa Keuangan, sehingga dapat menjadi alat kontrol yang efektif. Untuk mencapai tujuan itu maka pada tanggal 12 Oktober 1963, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 7 Tahun 1963 (LN No. 195 Tahun 1963) yang kemudian diganti dengan Undang-Undang (PERPU) No. 6 Tahun 1964 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Gaya Baru.

Untuk mengganti PERPU tersebut, dikeluarkanlah UU No. 17 Tahun 1965 yang antara lain menetapkan bahwa Presiden, sebagai Pemimpin Besar Revolusi pemegang kekuasaan pemeriksaan dan penelitian tertinggi atas penyusunan dan pengurusan Keuangan Negara. Ketua dan Wakil Ketua BPK RI berkedudukan masing-masing sebagai Menteri Koordinator dan Menteri.

Akhirnya oleh MPRS dengan Ketetapan No.X/MPRS/1966 Kedudukan BPK RI dikembalikan pada posisi dan fungsi semula sebagai Lembaga Tinggi Negara. Sehingga UU yang mendasari tugas BPK RI perlu diubah dan akhirnya baru direalisasikan pada Tahun 1973 dengan UU No. 5 Tahun 1973 Tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

Dalam era Reformasi sekarang ini, Badan Pemeriksa Keuangan telah mendapatkan dukungan konstitusional dari MPR RI dalam Sidang Tahunan Tahun 2002 yang memperkuat kedudukan BPK RI sebagai lembaga pemeriksa eksternal di bidang Keuangan Negara, yaitu dengan dikeluarkannya TAP MPR No.VI/MPR/2002 yang antara lain menegaskan kembali kedudukan Badan Pemeriksa Keuangan sebagai satu-satunya lembaga pemeriksa eksternal keuangan negara dan peranannya perlu lebih dimantapkan sebagai lembaga yang independen dan profesional.

Untuk lebih memantapkan tugas BPK RI, ketentuan yang mengatur BPK RI dalam UUD Tahun 1945 telah diamandemen. Sebelum amandemen BPK RI hanya diatur dalam satu ayat (pasal 23 ayat 5) kemudian dalam Perubahan Ketiga UUD 1945 dikembangkan menjadi satu bab tersendiri (Bab VIII A) dengan tiga pasal (23E, 23F, dan 23G) dan tujuh ayat.

Bab VIII A UUD 1945, Pasal 23 G ayat (1) menentukan bahwa BPK berkedudukan di ibu kota Negara, dan memiliki perwakilan di setiap provinsi. Ketentuan ini diatur lebih lanjut dalam UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, yaitu dalam Pasal 3 ayat (2).

Sesuai amanat konstitusional tersebut, dibuka kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkalpinang yang merupakan salah satu perwakilan dibentuk berdasarkan Keputusan BPK RI Nomor 39/SK/I-VIII.3/7/2007 tanggal 13 Juli 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Menurut Pasal 607 Keputusan tersebut, BPK RI di Pangkalpinang adalah salah satu unsur Pelaksana BPK, yang berada di bawah Auditorat Keuangan Negara V (AKN V) dan bertanggung jawab kepada Anggota V BPK melalui Audior Utama Keuangan Negara V (Tortama KN V).

Semula penyebutan BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah Perwakilan BPK RI di Pangkalpinang. Kemudian berdasarkan Keputusan Ketua BPK RI Nomor 01/K/I-XIII.2/1/2009 tanggal 13 Januari 2009 tentang Nama Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, nama kantor Perwakilan BPK RI di Pangkalpinang berubah menjadi BPK RI Perwakilan Provinsi Bangka Belitung. Terakhir kali berdasarkan Keputusan Ketua BPK RI Nomor 5/K/I-XIII.2/2/2011 nama BPK RI Perwakilan Bangka Belitung berubah menjadi BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diresmikan pada tanggal pada tanggal 25 Juli 2008 oleh Wakil Ketua BPK RI yang pada saat itu dijabat oleh H. Abdullah Zainie, S.H. (alm.). Pada awal berdirinya kantor berkedudukan di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 51 Kota Pangkalpinang, menempati salah satu bangunan gedung milik PT Timah, Tbk. dengan status pinjam pakai.

Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan perwakilan akan suasana kerja yang representatif, pada bulan Juli 2010 dibangun gedung kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sekarang terletak di Jalan Pulau Bangka Komplek Perkantoran Terpadu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kelurahan Air Itam, Kecamatan Bukit Intan Kota Pangkalpinang dengan luas tanah 7.066 m2 dan bangunan tiga lantai seluas 2.652,25 m2.

Pada tahun 2014, sesuai Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 3/K/I-XIII.2/7/2014 tanggal 10 Juli 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan, BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diubah menjadi Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

 

  • Visi dan Misi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
  • Visi

Visi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejalan dengan Visi lembaga induknya BPK RI  yaitu terwujudnya BPK RI sebagai lembaga pemeriksa yang bebas dan mandiri, profesional, efektif, efisien dan modern dalam sistem pengelolaan keuangan negara yang setiap entitasnya; 1) memiliki pengendalian intern yang kuat; 2) memiliki aparat pemeriksa intern yang kuat; dan 3) hanya diperiksa oleh satu aparat pemeriksa ekstern.

  • Misi

Selanjutnya untuk mewujudkan visi tersebut telah ditetapkan, misi Mewujudkan diri menjadi auditor eksternal keuangan negara yang bebas dan mandiri, profesional, efektif, efisien, dan modern sesuai dengan praktik internasional terbaik, berkedudukan di ibukota negara dan ibukota setiap provinsi, serta mampu memberdayakan DPR, DPD, dan DPRD melaksanakan fungsi pengawasannya terhadap Pemerintah Pusat danDaerah untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN),  sesuai dengan SK BPK RI No. 13/SK/VIII.3/7/2004 tanggal 27 Juli 2004.

 

 

 

  • Tujuan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Penetapan tujuan dan sasaran BPK RI didasarkan kepada faktor-faktor kunci keberhasilan yang dilakukan setelah penetapan visi dan misi. Hal ini penting agar tujuan dan sasaran yang ditetapkan lebih terarah sesuai dengan potensi, hambatan dan kendala yang ada.

Tugas BPK RI adalah melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan Negara. Pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yaitu:

  1. Hak Negara untuk memungut pajak mengeluarkan dan mengedarkan uang dan melakukan pinjaman;
  2. Kewajiban Negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan Negara dan membayar tagihan pihak ketiga;
  3. Penerimaan Negara;
  4. Pengeluaran Negara;
  5. Penerimaan daerah;
  6. Pengeluaran daerah;
  7. Kekayaan Negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan Negara/perusahaan daerah;
  8. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum;
  9. Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.

BPK RI memiliki tujuan strategis antara lain:

  1. Mewujudkan BPK sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara yang independen dan profesional

BPK mengedepankan nilai-nilai independensi dan profesionalisme dalam semua aspek tugasnya menuju terwujudnya akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan negara.

  1. Memenuhi semua kebutuhan dan harapan pemilik kepentingan

BPK bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan pemilik kepentingan, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan masyarakat pada umumnya dengan menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada pemilik kepentingan atas penggunaan, pengelolaan, keefektifan, dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara

  1. Mewujudkan BPK sebagai pusat regulator di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara

BPK bertujuan menjadi pusat pengaturan di bidang pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang berkekuatan hukum mengikat, yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, wewenang dan fungsi BPK sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

  1. Mendorong terwujudnya tata kelola yang baik atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara

BPK bertujuan untuk mendorong peningkatan pengelolaan keuangan negara dengan menetapkan standar yang efektif, mengidentifikasi penyimpangan, meningkatkan sistem pengendalian intern, menyampaikan temuan dan rekomendasi kepada pemilik kepentingan, dan menilai efektivitas tindak lanjut hasil pemeriksaan.

 

  • Struktur Organisasi

Organisasi sebagai tempat berdirinya dimana orang saling mempengaruhi dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut perlu dibuat struktur organisasi, yaitu untuk menggambarkan pembagian tugas. Kedudukan, wewenang, tanggungjawab dari masing-masing organisasi. Dengan demikian bahwa struktur organisasi dalam suatu organisasi sangat menentukan sebagai alat koordinasi dari masing-masing bagian menjadi satu kesatuan yang terpadu untuk mencapai tujuan organisasi.

Dalam rangka untuk memanfaatkan dan memadukan kerja sama dengan orang lain sehingga tujuan dan sasaran yang diharapkan dapat tercapai, maka perlukan sistem mekanisme kerja yang baik dan lancar serta dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tujuan perusahaan/instansi dapat dicapai dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi.

Struktur organisasi BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat dilihat dibawah ini:

 

GAMBAR IV.1

STRUKTUR ORGANISASI BPK PERWAKILAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

 

KEPALA PERWAKILAN
KASETLAN
KASUBAUD BABEL
PEJABAT FUNGSIONAL AUDITOR
KASUBAG HUMAS DAN TU KALAN
KASUBAG KEUANGAN
KASUBBAG HUKUM
KASUBBAG UMUM DAN TEKNOLOGI INFORMASI
KASUBBAG SUMBER DAYA MANUSIA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Beitung

Struktur organisasi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengacu pada Keputusan BPK RI Nomor 3/K/I-XIII.2/7/2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan.

  • Uraian Tugas Pokok dan Fungsi

Badan Pemeriksa Keuangan yang selanjutnya disingkat BPK adalah Lembaga Negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. BPK merupakan satu lembaga yang bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan tanggung jawab keuangan negara, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK. Untuk melaksanakan tugas pemeriksaan BPK dibantu oleh pelaksana BPK. Auditorat Utama Keuangan Negara V yang selanjutnya disebut AKN V adalah salah satu unsur pelaksana tugas pemeriksaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada BPK melalui Anggota V BPK.

AKN V mempunyai tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara pada Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Batam, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Sabang, serta keuangan daerah dan kekayaan daerah yang dipisahkan pada pemerintah daerah di wilayah Sumatera dan Jawa.

Sesuai  Keputusan BPK RI Nomor 3/K/I-XIII.2/7/2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan, AKN V terdiri dari Auditorat V.A, Auditorat V.B, Sekretariat AKN V,Kelompok Pejabat Fungsional Pemeriksa dan 16 Perwakilan Wilayah Barat yang salah satu di antaranya adalah BPK RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kota/kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, BUMD dan lembaga terkait di lingkungan entitas, termasuk melaksanakan pemeriksaan yang ditugaskan oleh AKN.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyelenggarakan fungsi:

  1. Perumusan dan evaluasi rencana aksi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan mengidentifikasi IKU berdasarkan RIR BPK;
  2. Perumusan rencana kegiatan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan rencana aksi serta tugas dan fungsi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  3. Perumusan kebijakan pelaksanaan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah yang menjadi tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  4. Penyusunan program, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah yang dilaksanakan oleh BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang meliputi pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu;
  5. Penetapan tim pemeriksa untuk melaksanakan kegiatan pemeriksaan pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  6. Pemerolehan keyakinan mutu hasil pemeriksaan pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  7. Pengompilasian hasil pemantauan penyelesaian kerugian daerah pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  8. Penyusunan bahan penjelasan kepada Pemerintah Daerah dan DPRD tentang hasil pemeriksaan pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  9. Pengevaluasian kegiatan pemeriksaan pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dilaksanakan oleh Pemeriksa BPK, pemeriksa yang bekerja untuk dan atas nama BPK, dan akuntan publik berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;
  10. Pengompilasian dan pengevaluasian hasil pemeriksaan dalam rangka penyusunan Sumbangan IHPSpada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, baik yang pemeriksaannya dilaksanakan oleh Pemeriksa BPK maupun oleh pemeriksa yang bekerja untuk dan atas nama BPK;
  11. Pembahasan tindak lanjut hasil pemeriksaan pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan aparat pengawasan internal pada entitas terperiksa;
  12. Pemantauan pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  13. Penyiapan bahan perumusan pendapat BPK pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang akan disampaikan kepada pemangku kepentingan yang diperlukan karena sifat pekerjaannya;
  14. Penyiapan bahan kajian hasil pemeriksaan yang mengandung unsur tindak pidana dan/atau kerugian daerah untuk disampaikan kepada Ditama Binbangkum;
  15. Penyiapan LHP yang mengandung unsur tindak pidana untuk disampaikan kepada instansi penegak hukum;
  16. Pengelolaan SDM, keuangan, hukum, hubungan masyarakat, teknologi informasi, prasarana dan sarana, serta administrasi umum;
  17. Pemutakhiran data pada aplikasi SMP dan DEP pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  18. Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; dan
  19. Pelaporan hasil kegiatan secara berkala kepada BPK.

Pada pasal 476 Keputusan BPK RI Nomor 3/K/I-XIII.2/7/2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan, BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri atas:Sekretariat Perwakilan; Subauditorat Kepulauan Bangka Belitung; dan Kelompok Pejabat Fungsional Pemeriksa. Sekretariat Perwakilan mempunyai tugas menyelenggarakan dan mengoordinasikan dukungan administrasi, hukum, hubungan masyarakat dan perpustakaan, protokoler, serta sumber daya untuk kelancaran tugas dan fungsi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam melaksanakan tugas Sekretariat Perwakilan menyelenggarakan fungsi:

  1. Pelaksanaan kegiatan kesekretariatan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  2. Pengurusan SDM, keuangan, serta prasarana dan sarana di lingkungan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  3. Pemberian layanan di bidang hukum, hubungan masyarakat, teknologi informasi, administrasi umum, keprotokolan, dan perpustakaan di lingkungan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  4. Penyusunan Laporan Keuangan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan penyiapan bahan penyusunan Laporan Keuangan BPK;
  5. Pemutakhiran data pada aplikasi SIMAK dalam rangka pengukuran IKU unit kerja pada lingkup BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung;
  6. Penyimpanan DEP pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; dan
  7. Penyiapan bahan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sekretariat Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri atas:

  1. Subbagian Hubungan Masyarakat dan Tata Usaha Kepala Perwakilan;
  2. Subbagian Sumber Daya Manusia;
  3. Subbagian Keuangan;
  4. Subbagian Umum dan Teknologi Informasi; dan
  5. Subbagian Hukum.

Subbagian Hubungan Masyarakat dan Tata Usaha Kepala Perwakilan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang kehumasan yang terkait dengan tugas dan fungsi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengelola perpustakaan, kesekretariatan, keprotokolan, menyiapkan informasi yang dibutuhkan oleh Kepala Perwakilan, serta pemutakhiran data pada aplikasi SIMAK dalam rangka pengukuran IKU unit kerja dan penyimpanan DEP pada lingkup tugas BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Subbagian Sumber Daya Manusia mempunyai tugas melaksanakan pengurusan SDM di lingkungan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Subbagian Keuangan mempunyai tugas melaksanakan kebijakan anggaran, perbendaharaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangan, serta menyiapkan bahan pendukung dalam rangka penyusunan Laporan Keuangan BPK di lingkungan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Subbagian Umum dan Teknologi Informasi mempunyai tugas melaksanakan pemberian layanan administrasi umum, pengelolaan arsip dan teknologi informasi, serta melaksanakan pengurusan prasarana dan sarana di lingkungan BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Subbagian Hukum mempunyai tugas melaksanakan pemberian layanan di bidang hukum yang meliputi legislasi, konsultasi, bantuan dan informasi hukum yang terkait dengan tugas dan fungsi BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Subauditorat Kepulauan Bangka Belitung mempunyai tugas:

  1. Pada lingkup Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Belitung Timur, Kabupaten Bangka Barat, Kota Pangkal Pinang, Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Belitung, BUMD dan lembaga terkait di lingkungan entitas untuk:
  • Merumuskan rencana kegiatan;
  • Mengusulkan tim pemeriksa;
  • Melakukan pemerolehan keyakinan mutu hasil pemeriksaan;
  • Mengompilasi hasil pemantauan penyelesaian kerugian negara;
  • Menyusun bahan penjelasan kepada Pemerintah Daerah dan DPRD tentang hasil pemeriksaan;
  • Mengevaluasi kegiatan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh Pemeriksa BPK, pemeriksa yang bekerja untuk dan atas nama BPK, dan akuntan publik berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;
  • Mengompilasi dan mengevaluasi hasil pemeriksaan dalam rangka penyusunan Sumbangan IHPS, baik yang pemeriksaannya dilaksanakan oleh Pemeriksa BPK maupun oleh pemeriksa yang bekerja untuk dan atas nama BPK;
  • Melakukan pembahasan tindak lanjut hasil pemeriksaan dengan aparat pengawasan internal pada entitas terperiksa;
  • Memantau pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan;
  • Menyiapkan bahan perumusan pendapat BPK yang akan disampaikan kepada pemangku kepentingan yang diperlukan karena sifat pekerjaannya;
  • Melakukan pemutakhiran data pada aplikasi SMP dan DEP; dan
  • Menyiapkan bahan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

BAB V

PEMBAHASAN

 

Pada bagian ini penulis akan membahas mengenai hasil analisis yang telah dilakukan dilapangan. Penulis lebih banyak menggunakan metode tanya jawab melalui kuesioner di dalam memproleh data-data serta keterangan yang diperlukan. Dalam penelitian ini penulis hanya mengambil sampel dari suatu populasi pegawai (responden). Alasan memilih metode ini karena merupakan unit analisis dalam penelitian individu yang kemudian masing-masing individu itu digunakan sebagai objek untuk mendukung variabel terdefinisi. Variabel penelitian pada dasarnya adalah sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut dan dapat ditarik kesimpulannya.

 

5.1. Analisis pengaruh remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung antara remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, maka dibagikan kuesioner kepada 30 responden. Adapun kuesioner  yang dibagikan tersebut berjumlah 22 pertanyaan, dimana masing-masing variabel terdiri dari 6 pertanyaan mengenai remunerasi (X1), 6 pertanyaan mengenai Sasaran Kerja Pegawai (X2), dan 10 pertanyaan mengenai kinerja pegawai (Y).

 

5.1.1. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin responden penulis membagi 2 kategori, yaitu:

TABEL V.1.

JENIS KELAMIN

Jenis Kelamin Responden Persentase (%)
Laki-laki 21 70 %
Perempuan 9 30 %
Jumlah 30 100 %

Sumber: Data Primer Olahan

 

Dari Tabel V.1 dapat diketahui bahwa 21 responden atau 70% berjenis kelamin Laki-laki dan 9 responden atau 30% berjenis kelamin Perempuan.

 

5.1.2. Profil Responden Berdasarkan Umur

                  Berdasarkan umur responden penulis membagi menjadi 4 kategori, yaitu:

TABEL V.2.

UMUR

Umur (Tahun) Responden Persentase (%)
20-30 14 47 %
31-40 12 40 %
41-50 4 13 %
>50 0 0 %
Jumlah 30 100 %

Sumber: Data Primer Olahan

Dari Tabel V.2 dapat diketahui bahwa 14 responden atau 47% berumur 20-30 tahun, 12 responden atau 40% berumur 31-40 tahun, 4 responden atau 13% berumur 41-50 tahun, dan tidak ada respondenatau 0% berumur diatas 50 tahun.

 

5.1.3. Profil Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan

           Berdasarkan tingkat pendidikan responden penulis membagi menjadi 4 kategori, yaitu:

TABEL V.3.

TINGKAT PENDIDIKAN

Pendidikan Responden Persentase (%)
SMA/SMK 7 23 %
Diploma 3 10 %
Sarjana 18 60 %
Master dan lainnya 2 7 %
Jumlah 30 100 %

                    Sumber: Data Primer Olahan

 

Dari Tabel V.3 dapat diketahui bahwa 7 responden atau 23% dengan jenjang pendidikan SMA/SMK, 3 responden atau 10% dengan jenjang pendidikan Diploma, 18 responden atau 60% dengan jenjang pendidikan Sarjana, dan 2 responden atau 7% dengan jenjang pendidikan Master dan lainnya.

 

 

 

 

5.2. Analisis Pengujian Statistik

5.2.1. Uji Validitas

Setelah dilakukan perhitungan dengan teknik korelasi “product moment pearson” diperoleh koefisien korelasi butir (r-hitung) untuk 6, 6, 10 butir instrumen (kuesioner) dengan sampel sebanyak 30 orang   (n = 30 orang), dengan a = 0.05 didapat r Tabel 0.361 (df = n-k-1 atau df = 30-1-1 =28), artinya bila r hitung  <  r Tabel, maka butir instrumen tersebut tidak valid dan apabila r hitung > r Tabel, maka butir instrumen tersebut dapat digunakan (valid). Dari perhitungan statistik untuk masing-masing variabel, ternyata bahwa r hitung yang diperoleh lebih besar dari r Tabel, sehingga dikatakan bahwa semua butir kuesioner berpredikat valid. Nilai-nilai koefisien korelasi untuk uji validitas instrumen setiap variabel, disajikan sebagai berikut :

  1. Variabel Remunerasi (X1)

Nilai koefisien korelasi dari hasil uji validitas untuk variabel remunerasi dapat dilihat pada Tabel V.4.

 

 

 

 

TABEL V.4.

REKAPITULASI NILAI r UNTUK UJI VALIDITAS INSTRUMEN PENELITIAN VARIABEL REMUNERASI (X1)

 

Nomor

Kuesioner

r-hitung r-Tabel Keterangan
1 0.715 0.361 Valid
2 0.671 0.361 Valid
3 0. 471 0.361 Valid
4 0. 475 0.361 Valid
5 0. 675 0.361 Valid
6 0. 471 0.361 Valid

          

                                 Sumber: Data Olahan

 

Berdasarkan data yang tertera pada Tabel V.4, dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi untuk uji validitas instrumen variabel remunerasi (X1) yang diperoleh rata-rata lebih besar dari r-Tabel dan seluruh instrumen sebanyak 6 butir pertanyaan dikatakan valid.

 

  1. Variabel Sasaran Kerja Pegawai (X2)

Nilai koefisien korelasi dari hasil uji validitas untuk variabel Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dapat dilihat pada Tabel V.5.

 

 

 

 

 

TABEL V.5.

REKAPITULASI NILAI r UNTUK UJI VALIDITAS INSTRUMEN PENELITIAN VARIABEL SASARAN KERJA PEGAWAI (X2)

 

Nomor

Kuesioner

r-hitung r-Tabel Keterangan
1 0.753 0.361 Valid
2 0.707 0.361 Valid
3 0.707 0.361 Valid
4 0.753 0.361 Valid
5 0.753 0.361 Valid
6 0.707 0.361 Valid

                                 Sumber: Data Olahan

 

Berdasarkan data yang tertera pada Tabel V.5, dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi untuk uji validitas instrumen variabel Sasaran Kerja Pegawai (X2) yang diperoleh rata-rata lebih besar dari r-Tabel dan seluruh instrumen sebanyak 6 butir pertanyaan dikatakan valid.

 

  1. Variabel Kinerja Pegawai (Y)

Nilai koefisien korelasi dari hasil uji validitas untuk variabel kinerja dapat dilihat pada Tabel V.6.

 

 

 

 

TABEL V.6.

REKAPITULASI NILAI r UNTUK UJI VALIDITAS INSTRUMENPENELITIAN VARIABEL KINERJA PEGAWAI (Y)

Nomor

Kuesioner

r-hitung r-Tabel Keterangan
1 0.742 0.361 Valid
2 0.531 0.361 Valid
3 0.742 0.361 Valid
4 0.742 0.361 Valid
5 0.742 0.361 Valid
6 0.635 0.361 Valid
7 0.583 0.361 Valid
8 0.565 0.361 Valid
9 0.704 0.361 Valid
10 0.742 0.361 Valid

                                          Sumber: Data Olahan

 

Berdasarkan data yang tertera pada Tabel V.6, dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi untuk uji validitas instrumen variabel Kinerja (Y) yang diperoleh rata-rata lebih besar dari r-Tabel dan seluruh instrumen sebanyak 10 butir pertanyaan dikatakan valid.

 

5.2.2. Uji Reliabilitas

Uji Realibilitas dilakukan untuk melihat konsistensi suatu pengukuran dari suatu variabel. Suatu pengukur dapat dikatakan dapat diandalkan apabila memiliki koefisisen Cronbach Alpha lebih dari 0,60 (Sunyoto, 2011:110).

TABEL V.7.

UJI REALIBILITAS DATA

No. Variabel Cronbach Alpha Kesimpulan
1. Remunerasi 0.750 Reliable
2. Sasaran Kerja Pegawai 0.901 Reliable
3. Kinerja Pegawai 0.835 Reliable

Sumber: Data Olahan

 

Berdasarkan hasil uji reabilitas diatas, dapat diketahui bahwa seluruh variabel yang digunakan menurut kriteria Sunyoto, (2011:110) dinyatakan reliable (layak), karena memiliki nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0.60.

 

5.2.3.  Persamaan Regresi

Hasil pengujian dengan menggunakan bantuan komputer, diperoleh  nilai persamaan regresi linear berganda antara variabel eksogen (bebas) X1 dan  X2 Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) sedangkan variabel endogen (terikat) yaitu nilai dari Kinerja Pegawai (Y). Untuk lebih jelasnya nilai-nilai dari koefisien masing-masing variabel dapat dilihat didalam Tabel V.17 berikut ini:

                                       

 

TABEL V.8.

TABEL COEFFICIENTS REGRESI BERGANDA

Coefficientsa  
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.  
B Std. Error Beta  
1 (Constant) -7.625 5.868   -1.299 .205  
Remunerasi 1.183 .0283 .357 4.185 .000  
Sasaran Kerja Pegawai (SKP) .897 .113 .679 7.961 .000  
 

a. Dependent Variable: Kinerja Organisasi

     

                         Sumber: Output SPSS Ver. 22.0

 

Dari Tabel koefisien tersebut diatas, maka nilai persamaan regresi berganda dapat dituliskan sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2

= -7.625 + 1.183 X1 + 0,897 X2

= (0.205)   (0.000)      (0.000)

Angka-angka yang terdapat di dalam kurung adalah merupakan besarnya nilai signifikan dari masing-masing variabel bebas dimana koefisien regresi < α (0,05) berarti berpengaruh signifikan variable Remunerasi  (X1) dan Sasaran Kerja Pegawai (X2) nilainya adalah positif, artinya hubungan tersebut dengan Kinerja Pegawai (Y) adalah searah, sehingga apabila variabel-variabel bebas tersebut mengalami kenaikan, maka nilai variabel terikat juga akan mengalami kenaikan atau sebaliknya.

Dari persamaan regresi diatas dapat dijelaskan nilai intersep dan nilai koefisien dari masing-masing variabel yaitu Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai terhadap Kinerja (Y) dalam persamaan tersebut diatas dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Intersep : (X1) -7.625 artinya apabila tidak ada variabel remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai maka Kinerja Pegawai (Y) sebesar -7.625
  • Untuk Remunerasi (X2) 1.183 artinya apabila variabel remunerasi meningkat 1 satuan maka akan meningkatkan Kinerja Pegawai (Y) sebesar 183 satuan.
  • Untuk Sasaran Kerja Pegawai (X2) 0.897 artinya apabila variabel Sasaran Kerja Pegawai meningkat 1 satuan maka akan meningkatkan Kinerja Pegawai (Y) sebesar 897 satuan.

 

5.2.4. Koefisien Determinasi (r2)

Koefisien determinasi ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas (independen) dapat menjelaskan variasi variabel terikatnya (dependen).

TABEL V.9.

KOEFISIEN DETERMINASI

Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate  
1 ,933a ,870 ,860 1,149  
    a. Predictors: (Constant), Sasaran_Kerja_Pegawai, Remunerasi
    b. Dependent Variable: Kinerja_Pegawai

         Sumber : Data primer diolah peneliti

 

  1. R = 0,933, artinya terdapat tingkat hubungan yang sangat kuat antara Remunerasi (X1) dan Sasaran Kerja Pegawai (X2) terhadap Kinerja Pegawai (Y).
  2. R square = 0,870, artinya variabel independen dapat mempengaruhi atau menjelaskan variabel dependen secara bersama-sama sebesar 0,870 (87%), dan sisanya 13 % dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.

 

5.2.5. Pengujian Hipotesis

Pengujian dilakukan terhadap masing-masing hipotesis dengan urutan langkah-langkah sebagai berikut:

 

  1. Uji t untuk b1
  2. Uji t untuk b2
  3. Uji F

Adapun uji untuk masing-masing hipotesis adalah sebagai berikut:

  1. Uji t untuk b1

Uji t untuk b1 dilakukan untuk menguji hipotesa kedua, yaitu:

Ho: ρ = 0 : tidak terdapat pengaruh remunerasi terhadap kinerja pegawai.

Ha: ρ ≠ 0       :terdapat pengaruh remunerasi terhadap kinerja pegawai.

Jika F hitung > F Tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

TABEL V.10.

t HITUNG REMUNERASI (X1)

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -7.625 5.868   -1.299 .205
Remunerasi 1.183 .0283 .357 4.185 .000
           
 

a. Dependent Variable: Kinerja Organisasi

     

                                   Sumber:Output SPSS Ver. 22.0

 

Dari Tabel diatas diperoleh persamaan regresi Y = -7.625 + 1,183X1. Persamaan ini menjelaskan bahwa setiap peningkatan 1 satuan remunerasi akan meningkat kinerja pegawai sebesar 1.183 satuan.

Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai thitung sebesar 4.185 sedangkan tTabel dengan derajat bebas 28 pada α (0.05) sebesar 2.04841 dan nilai sig 0,000. Dengan demikian thitung  (4.185) > tTabel (2.04841) dan nilai sig 0,000 < 0,05, sehingga jelas Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa remunerasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai.

Pengujian uji t adalah pemahaman tentang hubungan kondisional secara parsial variabel remunerasi terhadap kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan kondisional antara remunerasi dengan kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat diartikan mempunyai pengaruh yang signifikan.

  1. Uji t untuk b2

Uji t untuk b2 dilakukan untuk menguji hipotesa ketiga, yaitu:

Ho: ρ = 0 : tidak terdapat pengaruh Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai.

Ha: ρ ≠ 0 : terdapat pengaruh  Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai.

Jika F hitung > F Tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

TABEL V.11.

t HITUNG SASARAN KERJA PEGAWAI (X2)

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -7.625 5.868   -1.299 .205
Sasaran Kerja Pegawai (SKP) .897 .113 .679 7.961 .000
 

a. Dependent Variable: Kinerja Organisasi

     

                                Sumber:Output SPSS Ver. 22.0

 

Dari Tabel diatas diperoleh persamaan regresi Y = -7,625 + 0,897X2. Persamaan ini menjelaskan bahwa setiap peningkatan 1 satuan Sasaran Kerja Pegawai akan meningkat Kinerja Pegawai sebesar 0,897 satuan.

Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai thitung sebesar 7.961 sedangkan tTabel dengan derajat bebas 28 pada α (0.05) sebesar 2.04841 dan nilai sig 0,000. Dengan demikian thitung  (7.961) > tTabel (2.04841) dan nilai sig 0,000 < 0,05, sehingga jelas Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa Sasaran Kerja Pegawai mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Hakikat pengukuran uji t adalah pemahaman tentang hubungan kondisional secara parsial variabel Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam konteks ini, jika Sasaran Kerja diterapkan dengan baik baik maka akan membuat kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung baik.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan kondisional antara Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dengan kinerja pegawai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat diartikan sebagai suatu kondisi dinamis dalam melaksanakan kebijakan sumber daya manusia yang memandang betapa pentingnya pentingnya peranan kinerja pegawai untuk mencapai tujuan organisasi pada Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

  1. Uji F

Uji F dilakukan untuk menguji hipotesa pertama, yaitu:

Ho: ρ = 0 : tidak terdapat pengaruh remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai.

Ha: ρ ≠ 0 : terdapat pengaruh remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai.

Jika F hitung > F Tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

                                

TABEL V.12.

F HITUNG REMUNERASI DAN SASARAN KERJA PEGAWAI (SKP) TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PEMERIKSA KEUANGAN PERWAKILAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

 

ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.  
1 Regression 238,505 2 119,253 90,289 ,000b  
Residual 35,661 27 1,321      
Total 274,167 29        
a. Dependent Variable: Kinerja_Pegawai
b. Predictors: (Constant), Sasaran_Kinerja_Pegawai, Renumerasi

                                 Sumber:Output SPSS Ver. 22.0

 

Setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan program SPSS maka diperoleh nilai Fhitung 90.289 seperti terlihat pada Tabel V.12 sedangkan nilai FTabel dengan derajat bebas pembilang 2 dan penyebut 27 pada α (0,05) sebesar 3.35 atau nilai sign 0,000.

Dengan demikian Fhitung (90.289) > FTabel  (3.35), sehingga jelas Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan Remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Badan Pemeriksa Keuanga Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Hakikat pengukuran uji F adalah pemahaman tentang hubungan kondisional variabel remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegwai pada kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam konteks ini, remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) diterapkankan dengan baik.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan kondisional antara remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai dapat diartikan sebagai suatu kebijakan yang dinamis dalam melaksanakan kebijakan sumber daya manusia yang memandang betapa pentingnya peranan kinerja pegawai untuk mencapai tujuan organisasi pada Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

 

6.1.   Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka dalam bab ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hasil analisis data dengan program SPSS didapat Fhitung sebesar 90.289 dan untuk Ftabel sebesar 3.35 yang berarti Fhitung lebih besar dari pada Ftabel yakni 90.289 > 3.35. Hal ini menjawab hipotesis I, bahwa di dapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari remunerasi dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai.
  2. Hasil analisis data dengan program SPSS didapat Thitung untuk variabel X1 sebesar 4.185 dan untuk Ttabel sebesar 2.04841 yang berarti Thitung lebih besar dari pada Ttabel yakni 4.185 > 2.04841. Hal ini menjawab hipotesis II, bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari remunerasi terhadap kinerja pegawai.
  3. Hasil analisis data dengan program SPSS didapat Thitung untuk variabel X2 sebesar 7.961 dan untuk Ttabel sebesar 2.04841 yang berarti Thitung lebih besar dari pada Ttabel yakni 7.961 > 2.04841. Hal ini menjawab hipotesis III, bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari Sasaran Kerja Pegawai (SKP) terhadap kinerja pegawai.

 

 

6.2.   Saran

Dengan segala kerendahan hati, penulis dengan ini ingin memberikan masukan kepada Kepala Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Bangka Belitung dan akademisi sebagai berikut:

  1. Penerapan Remunerasi berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai, sehingga kibijakan remunerasi untuk dapat ditingkatkan dengan berpedoman pada prinsip merit, adil, layak, kompetitif dan transparan.
  2. Strategic planing adalah sesuatu yang sangat penting dalam mencapai tujuan utama organisasi, untuk itu perlu ditekankan kepada pegawai bahwa penyusunan SKP merupakan satu instrumen yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi.
  3. Untuk para akademisi, semoga penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam melakukan penelitian berikutnya dan diharapkan dapat menambah variasi pada dimensi dan indikator-indikator variabel lainnya.

 

 

 

 

 

Iklan

Leave a comment »

CURRICULUM VITAE

ROFIKI SANI

• Tempat Tgl/Lahir : Boyolali, 29 Agustus 1986

• Jenis kelamin : Laki-laki

• Status Perkawinan : Menikah

• Agama : Islam

• Alamat : Bandung RT 18 RW 03, Beji, Andong, Boyolali, Jawa Tenggah, Kode Pos :57384

KELUARGA

• Istri : Ria Rusita

• Anak Kandung : 1. Rais Haidar Azfar

2. Rafif Abqory Anzar

 

PENDIDIKAN FORMAL

• TK Perwanida Bandung, Beji, Andong, Boyolali, 1995

• MIM Bandung, Beji, Andong, Boyolali, 1999

• MTsN 1 Andong, Boyolali, 2002

• SMA Islam Sudirman 5 Andong, Boyolali, 2005

• Ahli Madya Perpustakaan, FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2008

• Sarjana (S1), Fakultas Ekonomi STIE IBEK Pangkalpinang, Bangka Belitung 2014

PENGALAMAN KERJA

• Kuliah Kerja Lapangan di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008

• Karyawan PKPU Boyolali, 2008

• Tutor (Pengajar) DII Perpustakaan di UPBJJ – Universitas Terbuka Surakarta, 2009

• Andministrasi SMK “WARGA” SOLO

• Staff DPRD Kabupaten Boyolali

• PNS BPK RI (Badan Pemeriksa Keuangan RI)

– BPK RI Perwakilan Prov. Kep Bangka Belitung 2011

– BPK RI Pusat Jakarta 2016

 

Leave a comment »

Penelusuran Bahan Pustaka KOHA

PENELUSURAN BAHAN PUSTAKA MELALUI “KOHA”

DI PERPUSTAKAAN UMS

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Vokasi Ahli Madya (A.Md) dalam bidang Ilmu Perpustakaan

Disusun oleh:

Nama : Rofiki Sani

NIM   : D 1805021

PROGRAM DIPLOMA III PERPUSTAKAAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2008

PERSETUJUAN

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing untuk di pertahankan dihadapan dewan penguji Tugas Akhir Program Diploma III Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta,

Pada       Hari         :

Tanggal    :           Mei     2008

Dosen Pembimbing

Dra. Sri Urip Haryati M.Si

NIP 131 283 612

PENGESAHAN

Telah diuji dan disahkan oleh panitia penguji Tugas Akhir Program Diploma III Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Mare Surakarta,

Dewan Penguji :

Paraf

  1. Penguji Pertama

Drs. Widodo M.Soc. Sc                                         (………………..)

NIP 131 106 057

  1. Penguji kedua

Dra. Sri Urip Haryati M.Si                          (………………..)

NIP 131 283 612

Mengesahkan:

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Drs. Supriyadi SN, SU

NIP 130 936 616

MOTTO

Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan berusahalah untuk Akheratmu seakan engkau akan mati besok

( Hadis Nabi Muhammad SAW )

Hanya orang malas sajalah yang selalu mengalami kegagalan dalam hidupnya, karena bagi orang yang giat, suatu kegagalan adalah sebuah keberhasilan yang tertunda

( No Name )

Adalah  suatu kesalahan untuk membiarkan hidup ini menjadi rumit. Kehidupan sebenarnya sangatlah sederhana dan hanya dengan memikirkannya secara positif dapat dikuasai

( Feather )

Beberapa orang tidak pernah bisa membebaskan diri dari kesulitan-kesulitan terutama karena mereka membiarkan pikiran mereka berjodohan dengan kegelisahan dan diri mereka menyerah kepada nasib

( Inti Kewirausahaan )

Jangan kamu memalingkan wajahmu dari manusia ( karena Sombong ) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah idak menyukai tiap-tiap orang yang sombong lagi membanggakan diri

( QS. Al- Luqman : 18 )

PERSEMBAHAN

Setiap lembar goresan tinta ini merupakan wujud dari keagungan dan kekuasaan yang diberikan Allah kepada umatnya yang dhoif  ini

Setiap detik waktu penyelesaian karya ini merupakan hasil getaran Do`a kedua Orang tua  tercinta yang senantiasa memberikan semangat, Motivasi, bantuan Do`a  dan materiil

Setiap pancaran semangat dalam menulis karya ini merupakan Motivasi dari kakakQ( Mas Meby/Mas Alief) dan adik Kecil ku tercinta Dek Widy. Makasih ya…..

Serta CyankQ yang Slalu memberi warna dalam hidup ku

Yayank Ria I love you…..

Setiap makna dalam pokok bahasan pada bab-bab dalam Tugas Akhir ini merupakan hasil hempasan kritik dan saran dari para Pembimbing dan temen-temen yang slalu memberikan semangat kepadaku

Dan setiap keberhasilan dalam penyelesaian karya ini merupakan wujud dari seluruh kebanggaan diriku, dan untuk bekal menggapai cita cita serta aku jadikan prasasti bahwasanya aku mampu

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan Judul “ PENELUSURAN BAHAN PUSTAKA MELALUI KOHA DI PERPUSTAKAAN UMS “, Tugas Ahir ini disusun sebagai Syarat untuk menyelesaikan Program Studi Diploma III Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Rasa Tulus dan Ikhlas terucap dalam untaian kata “ Terimakasih yang sedalam-dalam nya “ kepada semua fihak yang telah membantu penyusun dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Ucapan terimakasih teruntuk:

  1. Bp. Drs. H Supriyadi SN, SU selaku Dekan FISIP UNS yang telah memberikan izin untuk melaksanakan PKL dan penyusunan Tugas Akhir ini.
  2. Ibu Urip Sri Haryati selaku pembimbing akademis, yang telah banyak memberikan masukan dan motivasi dalam penusunan Tugas Akhir ini.
  3. Bp. Drs. Alex Ibnu Muridjal M.Si, selaku ketua Prodi DIII Perpustakaan FISIP UNS, yang telah memberikan izin untuk pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan serta penyusunann Tugas Akhir.
  4. Bp. Gunawan Aryanto ST. M.Com. Sc, selaku kepala Perpustakaan UMS yang telah berkenan memberikan izin kepada penyusun untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di perpustakaan tersebut.
  5. Bp. Suyadi IT Perpustakaan UMS yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk membantu dan membimbing saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL      …………………………………………………………   I

HALAMAN PERSETUJUAN  ………………………………………………     II

HALAMAN PENGESAHAN  ……………………………………………….    III

MOTTO ………………………………………………………………………   IV

PERSEMBAHAN  ……………………………………………………………    V

KATA PENGANTAR  ………………………………………………………..    VI

DAFTAR ISI  …………………………………………………………………   VIII

DAFTAR LAMPIRAN  ………………………………………………………  XI

BAB 1    PENDAHULUAN  .…………………………………………………  1

A. Latar Belakang  …………………………………………………     1

B. Tujuan  …………..………………………………………………    3

C. Pelaksanaan  ……………………………………………………..    4

D. Rumusan Masalah   ……………………………………………..      4

E. Metode Pengumpulan Data  ……………………………………..      4

1. Metode Observasi  ……………………………………………..    4

2. Metode Wawancara  ……………………………………………   5

3. Metode studi Pustaka  ………………………………………….    5

4. Angket  …………………………………………………………   6

BAB II    TINJAUAN PUSTAKA  ……………………………………………   8

A. Perpustakaan  ……………………….…………………………..     8

1. Pengertian Perpustakaan  …………………..…………………    8

2. Fungsi Perpustakaan  …………………………………………    9

3. Jenis Perpustakaan  …………………………………………..    10

B. Penelusuran  ……………………………………………………..   16

C. Bahan Pustaka  …………………………………………………..    18

C. Koha  …………………………………………………………….   19

D. Strategi Penelusuran  ……………………………………………      20

BAB III   GAMBARAN PERPUSTAKAAN UMS  ………………………….    23

A. Sejarah Perpustakaan UMS  ……………………………………..    23

B. Visi, Misi, Tujuan dan Fungsi  …………………………………..  25

C. Gedung  …………………………………………………………..   26

D. Jenis Koleksi  …………………………………………………….   27

1. Koleksi Cetak  …………………………………………………..  27

2. Koleksi Audio Visual  ………………………………………….     30

3. Koleksi Digital  …………………………………………………    31

E. Struktur Organisasi  …………………………………………..…      31

F. Sumber Daya Manusia  …………………………………………..    32

G. Sumber Dana  …………………………………………………….   33

H. Sarana dan Prasarana  …………………………………………….   35

I.  Macam-macam Layanan  ……………………………………..…     37

BAB IV  PEMBAHASAN MASALAH  …………………………………..…    42

A. Analisis Masalah  ……………………………………………..…     42

1. Alasan pemakaian Koha  ……………………………………….  42

2. Penelusuran Bahan Pustaka  ……………………………………   44

a. Penelusuran Simple  ………………………………………….      47

b. Penelusuran Advanced  ………………………………………      48

c. Penelusuran Experd  …………………………………………      50

3. Fasilitas tambahan dalam KOHA  ……………………………..       54

a. Marc View  ……………………………………………………   54

b. Place Hold  ……………………………………………………   55

c. Most Popular  …………………………………………………    56

4. Tingkat pemahaman terhadap Koha  …………………………..   57

B. Hambatan-hambatan  ……………………………………………     60

C. Pemecahan Masalah  …………………………………………….    61

BAB V    PENUTUP  …………………………………………………………    63

A. Kesimpulan  ……………………………………………………..     63

B. Saran  …………………………………………………………….   66

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1  SURAT PERMOHONAN PKL (Praktek Kerja Lapangan)

Lampiran 2  SURAT TUGAS

Lampiran 3  DAFTAR NILAI PKL (Praktek Kerja Lapangan)

Lampiran 4  DAFTAR MASUK PKL (Praktek Kerja Lapangan)

Lampiran 5  CATATAN KERJA HARIAN MAHASISWA

Lampiran 6  ANGKET

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, Perpustakaan dituntut untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna secara cepat dan tepat pula. Layanan penelusuran informasi merupakan bagian terpenting dalam temu kembali informasi di perpustakaan. Temu kembali informasi merupakan suatu usaha untuk menemukan kembali informasi yang terdapat di perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Penelusuran Informasi menjadi penting karena “ruh” atau “nyawa” dari sebuah layanan informasi dalam unit informasi atau perpustakaan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan informasi yang diminta pemakai, bagaimana menemukan informasi yang diminta pemakai, dan bagaimana memberikan “jalan” kepada pemakai untuk menemukan informasi yang dikehendaki. Proses penelusuran informasi menjadi penting untuk menghasilkan sebuah temuan atau informasi yang relevan, akurat, cepat dan tepat. Proses dan penggunaan alat yang tepat akan menghasilkan informasi yang tepat pula.

Untuk menunjang kegiatan penelusuran informasi bahan pustaka, Pengguna memerlukan alat bantu baik secara manual maupun menggunakan komputer yang disebut dengan katalog. Tanpa adanya alat telusur lokasi bahan pustaka, pengguna akan kesulitan untuk menemukan kembali suatu bahan pustaka yang diinginkannya di antara sekian banyaknya koleksi perpustakaan.

Untuk menelusur keberadaan bahan pustaka diperlukan alat telusur salah satunya yaitu katalog OPAC (Online Public Acces Catalog). Katalog OPAC adalah alat temu balik informasi berbasis komputer untuk menemukan kembali koleksi yang ada di suatu perpustakaan. OPAC ini merupakan sistem katalog terotomasi, sehingga katalognya disimpan dalam bentuk yang terbaca mesin serta dapat diakses secara online oleh pengguna perpustakaan melalui terminal dan menggunakan perangkat lunak yang mudah dioperasikan.

Katalog OPAC dibuat dengan menggunakan format Non MARC dan MARC yaitu berupa format katalog di mana data bibliografi disimpan atau dimasukkan ke dalam tengara (tag) yang telah ditentukan. Penyimpanan itu berdampak terhadap proses temu balik dan pertukaran data bibliografis. Dampak utama otomasi terhadap katalog perpustakaan adalah memberi fasilitas penelusuran yang sangat cepat, dan akses yang efektif kepada koleksi perpustakaan.

Penelusuran bahan pustaka menggunakan OPAC (Online Public Acces Catalog) merupakan penelusuran yang tepat, cepat dan efektif. Dengan OPAC pengguna perpustakaan mendapatkan kemudahan dalam menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan.

Mulai bulan Februari 2008, Perpustakaan UMS telah menggunakan OPAC KOHA sebagai sarana penelusuran koleksi perpustakaan. Sarana penelusuran koleksi ini merupakan OPAC berbasis Web. Dengan OPAC yang disediakan, pengguna perpustakaan tidak hanya dapat mengetahui apakah sebuah koleksi atau buku dimiliki atau tidak oleh perpustakaan, tetapi juga dapat mengetahui apakah koleksi tersebut ada atau tidak di perpustakaan (sedang dipinjam atau tidak). Selain itu fasilitas OPAC yang disediakan Perpustakaan UMS memungkinkan untuk diakses dari jauh tanpa harus datang langsung ke perpustakaan.

Untuk memanfaatkan OPAC yang disediakan perpustakaan                         tersebut, pengguna dapat mengakses www.library.ums.ac.id atau  http://search.lib.ums.ac.id. Fasilitas OPAC yang disediakan ini merupakan fasilitas penelusuran seluruh koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Pengguna dapat menelusur koleksi yang dimiliki perpustakaan baik itu koleksi dalam format tercetak maupun dalam format digital.

  1. B. TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam pemilihan judul Tugas Akhir (TA)  ini adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan panduan mengenai cara melakukan penelusuran bahan pustaka melalui OPAC KOHA Perpustakaan UMS
  2. Memberikan penjelasan mengenai pengerian dan arti penting dari sebuah penelusuran Bahan Pustaka.
  3. Mengetahui seberapa jauh pemahaman Pengunjung Perpustakaan UMS berkenaan dengan cara melakukan penelusuran bahan pustaka melalui OPAC KOHA Perpustakaan UMS.
  1. C. PELAKSANAAN

Kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapangan) dan pengumpulan data dilaksanakan selama enam minggu, yaitu pada :

Hari/tanggal: Senin 11 Februari s/d Sabtu 22 Maret 2008 di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta Kampus II Universitas Muhammadiyah Surakarta 57102, Jl. A. Yani  Tromol Pos I Pabelan Surakarta. Telpon. 0271-717417, Fax 0271-715448,         e-mail: perpus@ums.ac.id.

  1. D. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang diatas, maka di buatlah satu rumusan masalah untuk mencari jawaban dari pertanyaaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah cara melakukan penelusuran bahan pustaka melalui “KOHA” Perpustakaan UMS?
  2. Dan kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam melakukan penelusuran bahan pustaka melalui “KOHA” Perpustakaan UMS?
  1. E. METODE PENGUMPULAN DATA

Adapun metode yang di gunakan dalam  pengumpulan data Tugas Akhir ini, antara lain:

  1. Metode Observasi

Taufik Rahman Dhohari (2000: 120) dalam bukunya yang berjudul Panduan belajar Sosiologi 2, menjelaskan observasi adalah suatu aktivitas penelitian dalam rangka mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah penelitian maupun proses pengamatan langsung di lapangan.

Metode ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu metode observasi partisipasi dan metode observasi non partisipasi. Dalam pengumpulan data Tugas Akhir ini menggunakan metode Observasi partisipasi, dengan terlibat secara langsung dalam kegiatan perpustakaan tersebut.

  1. Metode Wawancara

Wawancara merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh informasi atau data dengan cara bertanya secara langsung terhadap responden atau informan melalui komunikasi tatap muka (Dhohari, 2000: 121).

Sebagian data dalam penyusunan ini diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap anggota sampel terpilih. Anggota sampel terpilih merupakan orang yang dianggap mengetahui lebih jauh dan memang terkait dengan kegiatan Perpustakaan UMS. Disini wawancara dilakukan dengan Pembimbing Bp. Suyadi, Wakil kepala Perpustakaan UMS Ibu Dra. Siti Nuzillah, serta staf  atau Pustakawan di Perpustakaan UMS. Selain itu untuk melengkapi data-data dalam Tugas Akhir ini, juga dilakukan wawancara dengan beberapa pengunjung Perpustakaan UMS.

  1. Metode Studi Pustaka

Metode studi pustaka merupakan suatu kegiatan penelusuran dan penelaahan literatur. Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan pemahaman materi pembahasan melalui berbagai literatur (Dhohari, 2000: 122).

  1. Angket

Angket adalah Daftar pertanyaan tertulis tentag suatu masalah dengan ruang dan jawaban bagi setiap pertanyaan (Ananda Santosa, 2002: 36).

Dalam penulisan Tugas Akhir ini dibuatlah Angket yang diberikan kepada 24 (Dua puluh empat) pengunjung Perpustakaan UMS dari berbagai Fakultas, dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman pengunjung Perpustakaan UMS berkenaan dengan cara melakukan penelusuran bahan pustaka melalui OPAC KOHA Perpustakaan UMS.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. PERPUSTAKAAN

1.     Pengertian

Kata Perpustakaan berasal dari kata dasar “pustaka” yang berarti kitab, buku-buku, kitab primbon. Kemudian kata “pustaka” mendapat awalan “Per” dan akhiran “an”, menjadi “perpustakaan”. Perpustakaan mengandung arti, (1) kumpulan buku-buku bacaan, (bibliotek), (3) buku-buku kesusastraan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 1211).

Adapun unsur-unsur perpustakaan antara lain : (a) gedung/ruangan, (b) koleksi/bahan pustaka, (c) komunitas masyarakat pemakai, (d) adanya sarana dan prasarana, (e) diterapkan dengan sistem-sistem tertentu, sehingga segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

Menurut Sutarno NS (2006: 7), Perpustakaan adalah: suatu gedung/ruangan yang berisi buku-buku koleksi/bahan pustaka yang disusun dan diatur sedemikian rupa, sehingga mudah dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu dimanfaatkan oleh pengguna.

Menurut Sulistyo-Basuki (1993: 3) Perpustakaan adalah sebuah ruangan atau sub bagian dari sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku, biasanya disusun menurut tata susunan tertentu serta digunakan untuk anggota perpustakaan.

2.      Fungsi Perpustakaan

Pada prinsipnya secara singkat (Sudjini, 2007: 28) menyebutkan fungsi-fungsi perpustakaan sebagai berikut:

  1. a. Fungsi Pendidikan (Education)

Yaitu perpustakaan sebagai penunjang dan pusat kegiatan pendidikan bagi para penggunanya guna memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan. Perpustakaan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah, luar sekolah, termasuk juga perguruan tinggi atau lembaga pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.

  1. b. Fungsi Penelitian (Riset)

Perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang dapat digunakan sebagai sumber penelitian ilmiah dalam berbagai bidang studi. Di sini perpustakaan juga dapat digunakan para peneliti untuk mencari data-data mengenai suatu penelitian yang pernah dilkukan oleh orang lain.

  1. c. Fungsi Hiburan (Rekreasi)

Perpustakaan dapat dijadikan tempat rekreasi yang sehat, karena menyadiakan bahan pustaka yang memberikan informasi-informasi koleksi yang bersifat hiburan yang dapat meningkatkan bakat serta kreativitas penggunanya.

  1. d. Fungsi Informasi (Information)

Perpustakaan menyediakan bahan pustaka memuat berbagai macam informasi dari segala cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan oleh penggunanya.

  1. e. Fungsi Dokumentasi (Dokumentation)

Perpustakaan sebagai pusat penyimpanan dokumen atau pusat penyimpanan koleksi “deposit” yaitu mengumpulkan, menyimpan dan melestarikan semua terbitan suatu daerah dan negara atau tentang daerah dan negara itu, untuk diwarisakan kepada generasi mendatang sehingga akan memudahkan dalam menelusuri kebudayaan.

3.      Jenis-jenis Perpustakaan

Di Indonesia pepustakaan sudah ada sejak zaman keemasan kerajaan-kerajaan Nusantara, meskipun ketika itu perpustakaan masih berupa cikal bakal atau embrio, karena masih berupa kumpulan bahan pustaka yang digunakan terbatas pada kalangan kerajaan dan kaum bangsawan (Muljani A Nurhadi, 1983: 44).

Keberadaan perpustakaan di Indonesia secara fisik dimulai pada tanggal 24 April 1778 di Batavia oleh Pemerintahan kolonial Belanda didirikan sebuah perpustakaan bernama “Bataviaach Genotschap Van Kusten en Wetenschapen”. Kemudian pada tahun 1908, didirikan Balai Pustaka sebagai lembaga induk bagi 680 perpustakaan di wilayah jajahan.

Pada masa Orde Baru, peekembangan perpustakaan cukup siknifikan. Ini merupakan imbas dari program PELITA (Pembangunan Lima Tahun) yang digalakkan serius oleh pemerintah. Beberapa upaya baik langsung maupun tidak langsung, mendukung pembinaan dan pengembangan perpustakaan telah dilaksanakan oleh Pemerintah. Upaya itu berupa didirikannya proyek perintis perpustakaan sekolah, percetakan berbagai jenis buku paket untuk berbagai jenjang dan jenis sekolah, digalakkkan usaha penerbitan buku, ditingkatkannya peran perpustakaan Negara, dikembangkannya perpustaaan umum, dibinanya perpustakaan perguruan Tinggi, dikoordinasikannya perpustakaan khusus dalam bentuk jaringan kerjasama, dan telah di rintisnya berbagai upaya untuk melakukan pembakuan perpustakaan di Indonesia (Muljani A Nurhadi, 1983: 45).

Menurut Sutarno NS (2006: 27) jenis-jenis perpustakaan yang ada dan di kembangkan di Indonesia saat ini antara lain:

  1. a. Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas RI)

Perpustakaan tersebut merupakan satu-satunya di Indonesia. Perpustakaan Nasional berkedudukan di Ibu kota Negara, di jalan Salembaraya No.28A Jakarta Pusat. Tlp. 021-3101411; 3154863; 3154870;. Fax: 021-3103554. Perpustakaan Nasional merupakan salah satu lembaga Pemerintah Non-Departemen yang bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas Perpustakaan Nasional adalah melaksanakan tugas pemerintah di bidang perpustakaan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Fungsi Perpustakaan Nasional adalah memfasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang perpustakaan (Sutarno NS, 2006: 28)

  1. b. Badan Perpustakaan Daerah

Badan Perpustakaan Daerah adalah perpustakaan yang berkedudukan di setiap Provinsi di Indonesia. Perpustakaan Daerah berada di bawah binaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Badan Perpustakaan Daerah merupakan pusat kerjasama antar perpustakaan di wilayah provinsi dan merupakan tempat Penyimpanan koleksi deposit yang mengenai provensi yang bersangkutan, dan semua terbitan di wilayah tersebut. Pengawasan dan pengembangan Badan Perpustakaan Daerah menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Daerah masing-masing.

  1. c. Perpustakaan Umum

Perpustakaan Umum seringkali diibaratkan sebagai Universitas Rakyat, maksudnya adalah bahwa, perpustakaan umum merupakan lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan berbagai informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan budaya, sebagai sumber belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Perpustakaan umum didirikan untuk kepentingan masyarakat, maka pemrakarsa, pelopor dalam menyatakan ide pembangunan, pemeliharaan, pengembangan dan pemanfaatannya menjadi tanggung jawab masyarakat setempat.

  1. d. Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan Perguruan Tinggi sering disebut dengan “Research Library” atau perpustakaan penelitian, karena fungsi utamanya untuk meneliti, dan meneliti merupakan salah satu kegiatan utama di perguruan tinggi. Sebagai perpustakaan penelitian, maka koleksinya harus disesuaikan dengan fakultas, jurusan dan program kuliah yang ada, baik berupa koleksi buku, majalah, jurnal ilmiah, maupun bahan pustaka yang lain.

Keberadaan perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk menunjang terlaksananya Tri Dharma perguruan tinggi, yang meliputi: pendidikan, penelitian/riset dan pengabdian kepada masyarakat.

  1. e. Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan Sekolah adalah perpustakaan yang ada di lingkungan sekolah, dikelola oleh sekolah dan berfungsi untuk kegiatan belajar-mengajar, penelitian sederhana, dan menyediakan bahan bacaan guna menambah ilmu pengetahuan sekaligus tempat rekreasi sehat disela-sela kegiatan rutin dalam belajar.

  1. f. Perpustakaan Khusus

Perpustakaan Khusus adalah perpustakaan yang berada di lembaga-lembaga atau instansi-instansi baik milik pemerintah maupun milik swasta. Tugas dan fungsi utama Perpustakaan Khusus adalah menyediakan sumber-sumber informasi dan mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan organisasi yang menaungi perpustakaan tersebut.

Perpustakaan khusus sering disebut juga Perpustakaan Kedinasan. Dikatakan khusus karena memililiki kekhususan, baik koleksi, pengelola, tempat dan pemakainya. Disebut juga Perpustakaan Kedinasan karena tugas dan fungsinya dikaitkan dengan tugas-tugas kedinasan lembaga induknya yang harus difasilitasi dan ditunjang dengan baik.

  1. g. Perpustakaan Lembaga Keagamaan

Perpustakaan ini dimiliki dan dikelola oleh lembaga-lembaga keagamaan. Contohnya: Perpustakaan Masjid Istiqlal Jakarta, Perpustakaan Narada di Jakarta yang dikelola lembaga keagamaan Hindu, Perpustakaan Gereja dan perpustakaan lembaga keagamaan lain.

Tugas dan fungi utama perpustakaan lembaga keagamaan adalah memberikan layanan informasi dan koleksi-koleksi pustaka yang bernafaskan agama tertentu, utamanya untuk pendalaman pengetahuan agamanya.

  1. h. Perpustakaan Internasional

Menurut Drs. Sudjini M.Sos (2007: 18), Misi Perpustakaan Internasional adalah Perpustakaan yang didirikan oleh dua negara atau lebih atau perpustakaan yang merupakan bagian dari sebuah organisasi internasional. Contoh Perpustakaan Serikat  ASEAN, Perpustakaan World Bank, lembaga-lembaga di bawah PBB dan lain sebagainya.

Perpustakaan Internasional mempunyai koleksi yang menyangkut negara-negara anggota atau negara-negara yang berafiliasi kepada lembaga dinia tersebut. Koleksi-koleksi yang dimiliki biasanya berupa informasi tentang pariwisata, sejarah, geografi, politik, penduduk, sosial dan budaya. Sementara itu, pemakainya juga berasal dari berbagi kelompok masyarakat, termasuk warga negara asing yang berkunjung ke negara yang bersangkutan. Oleh karena itu, koleksi dan pemakainya bersifat internasional, sehingga perpustakaan tersebut dikatakan Perpustakaan Intrnasional.

  1. i. Perpustakaan Kantor Perwakilan Negara-negara Asing

Perpustakaan seperti ini dapat ditemukan pada kedutaan besar negara-negara sahabat atau lembaga-lembaga tertentu. Contohnya, Perpustakaan Britisth Counsil, Perpustakaan Lembaga kebudayaan Amerika, Pusat Kebudayaan Jepang, Pusat Dokumentasi dan Perpustakaan Jerman, dan lain sebagainya. Koleksi perpustakaan tersebut umumnya terdiri atas informasi dan ilmu pengetahuan umum tentang negara yang bersangkutan. Hal ini dilatar belakangi bahwa, perpustakaan semacam itu merupakan media atau sarana untuk mempromosikan dan mempublikasikan negara tersebut (Sutarno NS, 2006: 45)

  1. j. Perpustakaan Pribadi/Keluarga

Perpustakaan pribadi adalah perpustakaan yang dikelola dan dimiliki oleh perorangan atau keluarga (Sutarno NS, 2006: 47). Namun dalam pemanfaatanya kadangkala tidak dibatasi untuk pribadi atau anggota keluarga saja. Perpustakaan Pribadi biasanya berisi koleksi-koleksi yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pemiliknya.

  1. k. Perpustakaan Digital

Sebenarnya perpustakaan digital bukan merupakan salah satu perpustakaan yang berdiri sendiri, akan tetapi merupakan pengembangan dalam sistem pengelolaan dan layanan perpustakaan. Contohnya aplikasi pada perpustakaan khusus, perpustakaan perguruan tinggi atau penelitian. Di dalam sistem tersebut tidak nampak secara fisik koleksi bahan pustaka, karena telah dirubah dalam bentuk digital. Para pemakai dapat mengaksesnya melalui peralatan tertentu, karena itu perpustakaan digital sering disebut juga dengan istilah perpustakaan maya atau “ Virtual Library “

  1. B. PENELUSURAN

Salah satu hal penting yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah perpustakaan adalah adanya proses temu kembali informasi, dimana secara spesifik juga akan menyangkut penelusuran informasi atau Penelusuran Bahan Pustaka. Menurut Miswan (2002), Penelusuran adalah sebuah kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui lokasi suatu dokumen, informasi atau subjek memuat subjek atau informasi dengan menggunakan petunjuk simbol tertentu.

Temu kembali informasi sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai. (Sulistyo-Basuki, 1992: 7). Arief Surachman (2007) mendefinisikan bahwa, “Temu balik informasi” merupakan istilah generik yang mengacu pada temu balik dokumen atau sumber atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakan. Sedangkan penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yang dibutuhkan, dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan/unit informasi.

Sedangkan menurut Lasa HS (2004: 44), Informasion Retrieval (Penemuan balik informasi) yaitu proses pencarian kembali informasi yang disimpan suatu perpustakaan, pusat informasi dengan menggunakan petunjuk, simbol tertentu.

Dilihat dari cara dan juga alat yang digunakan, Arief Surachman (2007) membagi penelusuran bahan pustaka menjadi 2 (dua), yaitu:

  1. Penelusuran Informasi Konvensional: penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui cara-cara konvensional/manual seperti menggunakan kartu katalog, kamus, ensiklopedi, bibliografi, indeks, dan sebagainya.
  2. Penelusuran Informasi Digital: Penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui media digital atau elektronik seperti melalui Katalog OPAC (Online Public Access Catalog), Search Engine (di Internet),  Database Online, Jurnal Elektronik, Reference Online, dan informasi lain yang tersedia secara elektronik/digital.

Katalog OPAC adalah alat temu balik informasi berbasis komputer untuk menemukan kembali koleksi yang ada di suatu perpustakaan. OPAC ini merupakan sistem katalog terotomasi, sehingga katalognya disimpan dalam bentuk yang terbaca mesin serta dapat diakses secara online oleh pengguna perpustakaan melalui terminal dan menggunakan perangkat lunak yang mudah dioperasikan.

Menurt Arief Surachman (2007) ada beberapa keuntungan dan kekurangan dalam melakukan penelusuran bahan pustaka melalui OPAC, diantaranya:

Keuntungan OPAC adalah :

  1. Penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
  2. Penelusuran dapat dilakukan dimana saja tidak harus datang ke perpustakaan dengan catatan sudah online ke internet.
  3. Menghemat waktu dan tenaga.
  4. Pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak.
  5. Pengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka.

Kekurangan OPAC adalah :

  1. Apabila belum semua bahan pustaka masuk ke data komputer sehingga pengguna mengalami kesulitan dalam melakukan penelusuran.
  2. Tergantung aliran listrik, bila listrik mati maka kegiatan penelusuran bahan pustaka akan terganggu
  1. C. BAHAN PUSTAKA

Menurut Miswan (2002), Bahan Pustaka adalah segala sesuatu yang menyimpan dan membawa informasi; paket informasi yang diadakan dan disimpan di perpustakaan. Bahan pustaka tidak hanya berupa teks atau bahan tercetak, seperti buku, jurnal, tetapi meliputi meliputi bahan non-cetak, seperti: gambar, peta, CD-ROM, VCD, berkas komputer dan sebagainya.

  1. D. KOHA

1. Pengertian

Koha adalah ILS (Integrated Library System) sumber terbuka (open-source) yang kaya dengan fiture. Koha menyediakan sistem perpustakaan terintegrasi mulai dari Pengkatalogan, OPAC, Sirkulasi maupun Pengadaan.

Koha pertama kali dikembangkan di New Zealand oleh Katipo Communications Ltd dan pertama kali digunakan pada bulan Januari tahun 2000 oleh Perpustakaan Horowhenua, dan sekarang dikelola dan dikembangkan oleh organisasi tim softwere dan staf  teknologi perpustakaan dibeberapa belahan dunia.

2. Fiture-fiture Kunci pada KOHA.

  • Integrated Library System (ILS) modern yang penuh dengan fiture.
  • Memenangkan penghargaan dan open source, tidak pernah ada free lisensi.
  • Platform Linux, Unix, Windows, MacOS.
  • Berbasis web.
  • Koha dapat menginegrasikan sepenuhnya ke dalam website pengguna.
  • Pengkatalogan salinan z39.50.
  • MARC21 dan UNIMARC untuk pengkatalog professional.
  • Modul catalog yang dapat disesuaikan untuk perpustakaan-perpustakan khusus.
  • Penggunaan sebagai document manager atau perpustakaan digital.
  • Mengelola sumber-sumber online dan offline dengan alat yang sama.
  • Umpan RSSS pada perolehan baru.
  • Keterlambatan pelanggan dengan email dan/atau txt dan peringatan-peringatan lain
  • Mencetak barcode anda sendiri.
  • Modul manajemen serial.
  • Katalog penuh, system perpustakaan dan sirkulasi untuk manajemen persediaan perpustakaan.
  • Sistem OPAC berbasis web (memungkinkan public untuk mencari katalog di perpustakaan dan di rumah).
  • Sederhana, interface pencarian yang jelas untuk pengguna.
  • Sederhana dan opsi-opsi pengadaan yang komperhensif.
  1. E. STRATEGI PENELUSURAN

Pengguna datang ke pusat informasi, perpustakaan, atau clearing house bermaksud untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Masalah atau kebutuhan informasi yang dicaripun tentu saja bervariasi, sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penelusuran informasi merupakan kegiatan untuk menemukan kembali informasi yang pernah ditulis atau didokumentasikan. Penelusuran informasi merupakan kegiatan untuk menemukan kembali informasi yang pernah ditulis atau didokumentasikan (Budi Nugroho, 2007)

Budi Nugroho (2007) membedakan penelusuran menjadi dua, yaitu:

  1. Penelusuran secara manual, adalah penelusuran yang dilakukan dengan menggunakan bantuan publikasi tercetak, misalnya buku, bibliografi, indeks, abstrak, atau katalog perpustakaan.

Langkah-langkah dalam penelusuran manual:

  • Rumuskan informasi/topik/problem.
  • Cari kata kunci (keyword) atau penggalan kalimat (keyphrase) yang menggambarkan subjek yang dicari.
  • Cari sinonim, istilah lain, akronim, singkatan,untuk tiap keyword (cari di kamus, glossary, dll).
  • Tentukan alat penelusuran yang tepat (katalog, buku referensi, kamus).
  • Lakukan penelusuran dan pelajari hasilnya.
  • Evaluasi hasil.
  1. Penelusuran secara digital, yaitu penelusuran yang dilakukan dengan menggunakan media elektronik.

Langkah-langkah dalam penelusuran secara digital:

  • Spesifikasi informasi yang akan dicari.
  • Memilih basis data yang mengoleksi informasi yang dicari.
  • Cocokkan kata dengan thesaurus yang ada dalam basis data, bila data tidak ketemu, lakukan penguatan ulang pertanyaan (penghilangan kata yang bobotnya rendah, penggunaan istilah yang lebih luas, persamaan kata).
  • Evaluasi hasil.

BAB III

GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

A.    SEJARAH PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berdiri sejak tanggal 18 September 1958, bersamaan dengan berdirinya IKIP Muhammadiyah Surakarta, cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sesuai dengan perkembangan pendidikan, para pengelola Perguruan Tinggi menyadari bahwa perpustakaan adalah aset paling utama dalam upaya mengembangkan kehidupan akademis suatu perguruan tinggi.

Sejak tahun 1963, bersamaan dengan berdirinya IKIP Muhammadiyah Surakarta, Perpustakaan mulai dikelola secara baik dan sungguh-sungguh. Tanggal 24 Oktober 1981 seiring dengan perubahan status IKIP Muhammadiyah Surakarta menjadi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Perpustakaan di UMS juga mengalami perkembangan berupa tempat, fasilitas, dana, pengelolaan dan jumlah koleksi baik dalam jumlah judul maupun jumlah eksemplarnya. Saat itu perpustakaan di UMS terdiri dari perpustakaan-perpustakaan di fakultas dan satu Perpustakaan Pusat UMS.

Selanjutnya sejak Februari 1994, setelah adanya program sentralisasi layanan di UMS, Perpustakaan Pusat UMS dan beberapa perpustakaan fakultas di UMS bergabung menjadi satu dan kemudian dikenal sebagai Perpustakaan UMS sampai saat ini. Perpustakaan UMS mendapat perhatian yang serius dari pimpinan di UMS terbukti dengan diberinya beberapa fasilitas dan gedung baru berlantai empat dengan luas kurang lebih 4.000 meter persegi.

Sejak dari awal keberadaanya, Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan, yakni :

Tahun ……….- 1989 : Drs. Sujadi
Tahun 1989 – 1992 : Drs. Bambang Raharjo
Tahun 1992 – 1994 : Drs. D. Suryono
Tahun 1994 – 1997 : Drs. Bambang Setiaji, M.A.
Tahun 1997 – 1997 : Sri Padmantyo, S.E., M.P.A.
Tahun 1997 – 2001 : Drs. Maryadi, M.A.
Tahun 2001 – 2001 : Drs. Wahyono, Akt., M.A.
Tahun 2001 – 2006 : Dra. Hj. Anisa Stawati
Tahun 2006 – Sekarang : Gunawan Ariyanto, ST.,M.Comp.Sc.

Wacana ke-Ilmuan dan ke-Islaman yang merupakan misi Universitas Muhammadiyah Surakarta menjadi kiblat dari seluruh layanan Perpustakaan UMS. Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi yang pesat, Perpustakaan UMS memandang perlu untuk mempersiapkan diri menjadi pendukung yang efektif dan efisien demi terwujudnya misi tersebut.

Perpustakaan UMS memiliki fungsi sebagai pendukung terwujudnya misi lembaga induknya, yaitu Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dukungan ini dilakukan melalui penyediaan informasi yang mendukung aktivitas pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

B.     VISI, MISI, TUJUAN dan FUNGSI PERPUSTAKAAN UMS

VISI

Menjadi pusat pengelola dan penyebar informasi yang berbasis teknologi informasi guna mendukung pelaksanaan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat serta pengembangan nilai dan ilmu nilai-nilai ke-Islaman.

MISI

  1. Meningkatkan kemampuan mengelola dan menyebarkan informasi guna mendukung kebutuhan informasi bagi sivitas akademika UMS
  2. Meningkatkan kemampuan mengelola dan menyebarkan informasi atas kekayaan ilmiah yang dimiliki UMS
  3. Menunjang sistem jaringan informasi baik diantara perpustakaan perguruan tinggi atau perpustakaan lain ditingkat regional, nasional maupun internasional
  4. Mengelola dan menyebarkan informasi tentang perkembangan islam di jawa khususnya di Surakarta dan sekitarnya

FUNGSI

  1. Sebagai sumber media informasi dan layanan program pendidikan dan pengajaran
  2. Sebagai sumber media informasi dan layanan program penelitian
  3. Sebagai sumber media informasi dan layanan program pengabdian pada masyarakat yang berwacana keislaman
  4. Sebagai Media rekreasi alternatif bagi sivitas akademika perguruan tinggi

TUJUAN

  1. Menyediakan dan mengupayakan ketersediaan akses informasi yang mendukung proses belajar-mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan memanfaatkan kemampuan teknologi informasi.
  2. Mendokumentasikan dan menyebarluaskan hasil sivitas akademika dengan memanfaatkan kemampuan teknologi informasi.
  3. Mengupayakan terwujudnya jaringan informasi di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi Muhammadiyah atau Perpustakaan lain di tingkat Regional, Nasional, maupun Internasional.
  4. Mendokumentasikan dan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan islam di jawa khususnya di Surakarta dan sekitarnya dengan memanfaatkan kemampuan teknologi informasi.

C.    GEDUNG

Perpustakaan UMS berada di Kampus II Universitas Muhammadiyah Surakarta 57102, Jl. A. Yani Tromol Pos I Pabelan Surakarta. Tlp 0271-717417, Fax 0271-715448, e-mail: perpus@ums.ac.id. Perpustakaan ini menempati gedung berlantai empat yang mempunyai luas kurang lebih 4.000 m2. Adapun pembagian masing-masing lantai gedung adalah sebagai berikut:

Lantai I : Bagian Pengadaan

– Bagian Pengolahan dan

– Gudang.

Lantai II : – Ruang kepala

– Ruang Internet

– Layanan Admisistrasi

– Bagian Pengembangan

– Layanan AV (Audio Visual)

– Karya Ilmiah ( Skripsi, Tesis, Penelitian dll).

Lantai III : – Koleksi Buku Teks dan Layanan Sirkulasi.

Lantai IV : – Koleksi dan Layanan Cadangan

– Layanan Foto kopi

– Layanan Periodikal (Majalah, Koran, Jurnal dll)

– Layanan Referensi (Kamus, Ensiklopedi, Indeks, Almanak,         Direktori, Peta, Handbook dll)

–  Koleksi Alm. Bp. Drs. Djzasman Al-Kindi dan Kitab-kitab   berbahasa Arab.

D.     JENIS KOLEKSI

Untuk mengimbangi pesatnya arus informasi, Perpustakaan UMS terus berusaha mengembangkan berbagai macam jenis koleksi yang dirasa sesuai dengan kebutuhan pengguna. Koleksi tersebut digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu:

  1. 1. Koleksi Cetak
    1. a. Buku Teks

Buku Teks adalah buku yang membahas suatu bidang ilmu tertentu yang ditulis dengan tujuan untuk memudahkan pencapaian proses belajar dan mengajar antara murid dengan guru, termasuk juga antara mahasiswa dengan dosen (Yusup, 1995 :29) koleksi ini selain dapat dimanfaatkan di perpustakaan dapat pula di pinjam untuk dibawa pulang. Koleksi ini ditempatkan di lantai III Perpustakaan UMS.

  1. b. Buku Cadangan

Koleksi cadangan adalah koleksi yang mencakup semua judul buku teks yang dimiliki Perpustakaan UMS. Sesuai dengan namanya buku-buku yang ada di dalam koleksi ini bersifat cadangan, maksudnya jika buku teks di lantai III habis, maka pengguna dapat mencari di lantai IV. Koleksi ini hanya bisa dibaca di tempat dan di Kopi. Di Perpustakaan UMS Pelayanan Buku Cadangan adalah Open Acces (Sistem Layanan terbuka), Maksudnya, pengunjung diperkenankan mengambil koleksi sendiri, setelah mereka mencari daftar koleksi yang diinginkan pada katalog.

  1. c. Buku Referensi

Buku Referensi adalah buku yang isi maupun penyajiannya bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat spesifik dan khusus. Jenis koleksi ini memberikan penjelasan tentang informasi tertentu. Koleksi ini hanya bisa dibaca di tempat dan di Kopi.

Adapun yang termasuk koleksi-koleksi buku Referensi adalah:

1)      Kamus                                                 7)  Indeks Abstrak

2)      Ensiklopedi                                           8)  Bibliografi

3)      Buku tahunan                                        9)  Peta dan atlas

4)      Direktori                                               10) Terbitan Pemerintah

5)      Handbook                                            11) Data Statistik dll.

6)      Informasi studi luar negeri

  1. d. Kitab-kitab Bahasa Arab

Koleksi Kitab adalah buku-buku teks yang berbahasa Arab yang cara penggunaannya berbeda dengan buku teks yang lain. Koleksi ini berada di ruang sendiri dan hanya bisa dibaca di tempat atau di kopi.

  1. e. Karya Ilmiah

Karya Ilmiah adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Dosen dan Mahasiswa yang dapat digunakan sebagai bahan rujukan untuk pengembangan penelitian-penelitian ilmiah dilingkigan sivitas Akademika.

Macam-macam koleksi Karya Ilmiah ini antara lain:

1)      Skripsi                                      4)  Tugas Akhir (TA)

2)      Tesis                                        5)  Penelitian

3)      Disertasi

  1. f. Koleksi Periodikal

Koleksi Periodikal atau Terbitan Berkala, yaitu bentuk publikasi yang biasanya memuat berbagai tulisan dan artikel dengan kala terbit yang teratur dan rutin. Terbitan berkala pada umumnya memuat berbagai informasi mutakhir. Koleksi ini hanya bisa dibaca di tempat atau di kopi.

Adapun macam koleksi periodikal antara lain:

1)      Majalah                                    5) Kliping

2)      Jurnal                                       6) Hasil Seminar

3)      Buletin                                      7) Terbitan Berkala lainnya

4)      Surat Kabar

Sementara Subjek Jurnal yang dimiliki Perpustakaan UMS antara lain:

1)      Agama Islam                                       5) IRES (Kesehatan Lingkungan)

2)      Ilmu Pengetahuan dan Teknologi     6)  Pendidikan

3)      Kesehatan Lingkungan                         7)  Sosial, Politik, Budaya

4)      Psikologi dan Filsafat                           8)  Ekonomi dan Bisnis dll.

Sedangkan untuk kliping yang telah tersedia antara lain:

1)      Internet                                     5)  Pendidikan

2)      Narkoba                                              6)  Pengobatan Alternatif

3)      Tragedi WTC                                       7)  Otomotif dll.

4)      Sidang Istimewa

  1. g. Koleksi Alm. Bp. Drs. Djzasman Al – Kindi

Koleksi ini merupakan sumbangan dari keluarga almarhum bapak Djzasman Al-Kindi, mantan Rektor UMS. Koleksi-koleksi tersebut meliputi: buku-buku teks, buku referensi, jurnal, majalah, makalah dan kegiatan-kegiatan almarhum semasa hidupnya yang berupa foto-foto.

  1. 2. Koleksi Audio Visual

Koleksi Audio Visual adalah koleksi perpustakaan yang merupakan hasil teknologi elektronika yang cara pemanfaaatannya menggunakan alat pandang dengar “Audio Visual”. Koleksi ini terletak di lantai II dan hanya bisa dimanfaatkan di ruang AV (Audio Visuals). Yang termasuk jenis Audio Visual ini antara lain : Compact Disc (CD), CD-ROOM (Compact Disc – Read Only Memory), Disket dan Kaset.

  1. 3. Koleksi Digital

Koleksi Digital adalah suatu koleksi dari informasi yang disimpan dalam format digital dan dapat diakses melalui jaringan. Informasi tersebut dapat berupa artikel, jurnal, buku elektronik, gambar, vidio, software dan lain sebagainya. Perpustakaan UMS telah merintis adanya perpustakaan digital sejak tahun 2006. Koleksi Digital tersebut dapat diakses melaui jaringan perpustakaan menggunakan Web Browser dengan alamat http://ums.ac.id dan juga dapat diakses pada jaringan UMS.

E.     STRUKTUR ORGANISASI

A.   Berikut adalah Struktur organisasi yang ada di Perpustakaan UMS (Univessitas Muhammadiyah Surakarta):

B.

C.                     Sumber: Booklet Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2006-2007

D.

F.     SUMBER DAYA MANUSIA

E.                        Berikut adalah daftar Sumber Daya Manusia (SDM) dan Kedudukan di dalam stuktur Perpustakaan UMS:

F.     KEDUDUKAN

G.    NAMA

H.   Kepala Perpustakaan

I.            Gunawan Aryanto ST, M.Comp Sc

J.    Kasub bagian Pengembangan

K.          Dra. Siti Nuzillah

L.    Kaur Administrasi dan Keuangan

M.        Sri Umiyati

N.

O.

P.          Staf Administrasi dan Keuangan

Q.

R.         H M. Taslim

S.                 Sumadiyono

T.                 H M. Suhadi S

U.         Siti R Na`im

V.                 Mulyono A.D

W.               Eko Daryadi

X.   Kaur Audio Visual

Y.         Dra. Siti Nuzillah

Z.

AA.                             Staf Audio Visual

BB.           Cahyono K W A.Md

CC.          Suyadi

DD.          Kaur Referensi

EE.           Tri Mulyani A.Md

FF.

GG.

HH.          Staf Referensi

II.            Kurnia Utami S.Sos

JJ.           Maria Husnun N S.Sos

KK.        Ismarni A.Md

LL. Haryadi

MM.        Kaur Pengadaan

NN.          Dra. Hj Anissa Setyawati

OO.          Staf Pengadaan

PP.           Gatiningsih

QQ.       Kaur Sirkulasi

RR.          Hj. Musrokhah BA

SS.

TT.

UU.

VV.

WW.       Staf Sirkulasi

XX.           Budiman

YY.           Edy Suparno

ZZ.Haryanto

AAA.      Drs. Sugiyanto

BBB.      Marwati M A.Md

CCC.    Nur Rohman C W

DDD.    Munawar

EEE.      Dra. Suparmi

FFF.       Murtini B.Sc

GGG.    Kaur Pengolahan

HHH.    Siti Musyarofah

III.

JJJ.

KKK.

LLL.

MMM.                   Staf Pengolahan

NNN.          Ari Fatmawati A.Md

OOO.          Ken Retno Y A.Md

PPP.            Edhy Susilo

QQQ.          Sapta Pujiyanto

RRR.          Ridwan Nur Efendi

SSS.            Mulyadi

TTT. Esty Handayani A.Md

UUU.          Nur Sodik

VVV.     Arif Rohmad

WWW.                   Sumber: Booklet Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2006-2007

XXX.       Selain Sumber Daya Manusia (SDM) di atas, dari Pimpinan Universitas Muhammadiyah Surakarta juga menginstruksikan untuk mengambil mahasiswa kurang mampu dari segi finansial untuk dijadikan tenaga Part-time. Jumlah mahasiswa yang dijadikan tenaga part-time pada bulan Februari 2008 sebanyak 12 Mahasiswa.

G.    SUMBER DANA

YYY.            Dana merupakan faktor yang cukup menentukan dalam pengembangan koleksi dan peningkatan kualitas layanan.

ZZZ.

1.      Perpustakaan UMS mendapat Dana sepenuhnya dari lembaga induknya, yaitu Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dana tersebut digunakan untuk keperluan:

·   Oprasional

AAAA.                        Keperluan Oprasional antara lain: gaji karyawan, biaya listrik, biaya perawatan dan perbaikan sarana dan prasarana perpustakaan dll.

·  Pengadaan

BBBB.                        Dana yang digunakan untuk Pengadaan bahan pustaka, pengadaan perlengkapan kantor.

·  Booklet

CCCC.                      Dana yang digunakan untuk pembuatan Booklet tentang perpustakaan UMS misalnya: selayang pandang mengenai Perpustakaan dan buku panduan bagi pengunjung.

  • Dana peringatan hari besar

Dana yang diperuntukkan dalam peringatan hari besar Agama Islam, diantaranya: Idul Fitri, Idul Qurban, acara Maulid Nabi Muhammad SAW).

2.        Dana Perpustakaan UMS

DDDD.          Merupakan uang kas yang diperoleh dari Denda, Biaya Administrasi, pembuatan Kartu Luar Biasa dan Kartu sekali kunjung, Foto kopi, Internet.

EEEE.            Dana yang peroreh disimpan sebagai uang Kas Perpustakaan UMS, dan digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan.

H.    SARANA DAN PRASARANA

FFFF.        Untuk sarana dan prasarana, Perpustakaan UMS Memiliki Sarana Prasarana yang cukup lengkap dan mendukung dalam kegiatan penyelenggaraan Perpustakaan.

GGGG.    Daftar sarana dan prasarana barang inventaris Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta, tahun 2007.

HHHH.    No.

IIII.  Nama Barang

JJJJ.      Jumlah Barang

KKKK.Jumlah

LLLL.    Keterangan

MMMM.Untuk Pengguna

NNNN.    Untuk Petugas

OOOO.    1.

PPPP.AC

QQQQ.    11

RRRR.    6

SSSS.17

TTTT.

UUUU.    2.

VVVV.Aiphon

WWWW.

XXXX.6

YYYY.6

ZZZZ.

AAAAA. 3.

BBBBB. Almari Besi

CCCCC.

DDDDD.                7

EEEEE. 7

FFFFF.

GGGGG.                4.

HHHHH.                Almari Kayu

IIIII.7

JJJJJ.  6

KKKKK. 13

LLLLL.

MMMMM.           5.

NNNNN.                Locker

OOOOO.                16

PPPPP.

QQQQQ.                16

RRRRR.

SSSSS. 6.

TTTTT.   Kursi Panjang

UUUUU.                7

VVVVV.

WWWWW.         7

XXXXX.

YYYYY. 7.

ZZZZZ.   Dispenser

AAAAAA.             3

BBBBBB.

CCCCCC.          5

DDDDDD.

EEEEEE.             8.

FFFFFF.                Display Gantung

GGGGGG.

HHHHHH.          1

IIIIII.          1

JJJJJJ.

KKKKKK.             9.

LLLLLL. Display Majalah

MMMMMM.    2

NNNNNN.

OOOOOO.          2

PPPPPP.

QQQQQQ.          10.

RRRRRR.          Filling Kabinet

SSSSSS.

TTTTTT.                7

UUUUUU.          7

VVVVVV.

WWWWWW. 11.

XXXXXX.             Globe Dunia

YYYYYY.

ZZZZZZ.                7

AAAAAAA.        7

BBBBBBB.

CCCCCCC.    12.

DDDDDDD.    Head set

EEEEEEE.

FFFFFFF.           15

GGGGGGG.    15

HHHHHHH.

IIIIIII.        13.

JJJJJJJ.HP 5L

KKKKKKK.        13

LLLLLLL.               6

MMMMMMM.                     16

NNNNNNN.

OOOOOOO.    14.

PPPPPPP.        Jam Dinding

QQQQQQQ.

RRRRRRR.    67

SSSSSSS.        67

TTTTTTT.

UUUUUUU.    15.

VVVVVVV.        Karpet

WWWWWWW.

XXXXXXX.        7

YYYYYYY.        7

ZZZZZZZ.           @ Ruang

AAAAAAAA.  16.

BBBBBBBB.  Kipas Angin

CCCCCCCC.

DDDDDDDD.                      20

EEEEEEEE.  20

FFFFFFFF.

GGGGGGGG.                      17.

HHHHHHHH.                      Komputer

IIIIIIII.

JJJJJJJJ.              8

KKKKKKKK.  8

LLLLLLLL.

MMMMMMMM.              18.

NNNNNNNN.                      Kotak Kartu

OOOOOOOO.                      26

PPPPPPPP.

QQQQQQQQ.                      26

RRRRRRRR.

SSSSSSSS.  19.

TTTTTTTT.      Kotak Katalog

UUUUUUUU.

VVVVVVVV.  1

WWWWWWWW.          1

XXXXXXXX.

YYYYYYYY.  20.

ZZZZZZZZ.      Kotak Koran

AAAAAAAAA.

BBBBBBBBB.                     46

CCCCCCCCC.                46

DDDDDDDDD.

EEEEEEEEE.                     21.

FFFFFFFFF. Kursi Besi Lipat

GGGGGGGGG.                1

HHHHHHHHH.                16

IIIIIIIII.    17

JJJJJJJJJ.

KKKKKKKKK.                     22.

LLLLLLLLL.      Kursi Besi Putar

MMMMMMMMM.       8

NNNNNNNNN.                4

OOOOOOOOO.                12

PPPPPPPPP.

QQQQQQQQQ.                23.

RRRRRRRRR.                Kursi Busa Kantor

SSSSSSSSS.                     1

TTTTTTTTT. 5

UUUUUUUUU.                6

VVVVVVVVV.

WWWWWWWWW.   24.

XXXXXXXXX.                     Kursi Kantor

YYYYYYYYY.                     133

ZZZZZZZZZ. 35

AAAAAAAAAA.               168

BBBBBBBBBB.

CCCCCCCCCC.          25.

DDDDDDDDDD.          Kursi Rotan

EEEEEEEEEE.

FFFFFFFFFF.                    6

GGGGGGGGGG.          6

HHHHHHHHHH.          Rusak

IIIIIIIIII.  26.

JJJJJJJJJJ.      Kursi Plastik

KKKKKKKKKK.               20

LLLLLLLLLL. 15

MMMMMMMMMM.                        35

NNNNNNNNNN.

OOOOOOOOOO.          27.

PPPPPPPPPP.               Meja Baca Besar

QQQQQQQQQQ.          9

RRRRRRRRRR.

SSSSSSSSSS.               9

TTTTTTTTTT.

UUUUUUUUUU.          28.

VVVVVVVVVV.               Meja Baca Besar

WWWWWWWWWW.                   11

XXXXXXXXXX.               2

YYYYYYYYYY.               13

ZZZZZZZZZZ.

AAAAAAAAAAA.          29.

BBBBBBBBBBB.          Meja Baca Leseh

CCCCCCCCCCC.    76

DDDDDDDDDDD.    1

EEEEEEEEEEE.          78

FFFFFFFFFFF.

GGGGGGGGGGG.    30.

HHHHHHHHHHH.    Meja Baca Kecil

IIIIIIIIIII.

JJJJJJJJJJJ.  11

KKKKKKKKKKK.          11

LLLLLLLLLLL.

MMMMMMMMMMM.                 31.

NNNNNNNNNNN.    Meja Dorong Besi

OOOOOOOOOOO.    4

PPPPPPPPPPP.          37

QQQQQQQQQQQ.    41

RRRRRRRRRRR.

SSSSSSSSSSS.          32.

TTTTTTTTTTT.               Meja Kayu

UUUUUUUUUUU.

VVVVVVVVVVV.          16

WWWWWWWWWWW.            16

XXXXXXXXXXX.

YYYYYYYYYYY.          33.

ZZZZZZZZZZZ.               Meja kantor

AAAAAAAAAAAA.    5

BBBBBBBBBBBB.    2

CCCCCCCCCCCC.                      7

DDDDDDDDDDDD.

EEEEEEEEEEEE.    34.

FFFFFFFFFFFF.          Meja Kecil Hitam

GGGGGGGGGGGG.                      5

HHHHHHHHHHHH.                      16

IIIIIIIIIIII.    21

JJJJJJJJJJJJ.

KKKKKKKKKKKK.    No.

LLLLLLLLLLLL.                Nama Barang

MMMMMMMMMMMM.          Jumlah Barang

NNNNNNNNNNNN.                      Jumlah

OOOOOOOOOOOO.                      Keterangan

PPPPPPPPPPPP.    Untuk Pengguna

QQQQQQQQQQQQ.                      Untuk Petugas

RRRRRRRRRRRR.                      35.

SSSSSSSSSSSS.    Meja Kecil Putih

TTTTTTTTTTTT.

UUUUUUUUUUUU.                      1(Set)

VVVVVVVVVVVV.    1(Set)

WWWWWWWWWWWW.

XXXXXXXXXXXX.    36.

YYYYYYYYYYYY.    Meja Panjang

ZZZZZZZZZZZZ.          26

AAAAAAAAAAAAA.                       1

BBBBBBBBBBBBB.                       27

CCCCCCCCCCCCC.

DDDDDDDDDDDDD.                37.

EEEEEEEEEEEEE.                       Meja Komputer

FFFFFFFFFFFFF.

GGGGGGGGGGGGG.                1

HHHHHHHHHHHHH.                1

IIIIIIIIIIIII.

JJJJJJJJJJJJJ.                  38.

KKKKKKKKKKKKK.                       Meja Tamu

LLLLLLLLLLLLL.

MMMMMMMMMMMMM.   1(Set)

NNNNNNNNNNNNN.                1(Set)

OOOOOOOOOOOOO.

PPPPPPPPPPPPP.                       39.

QQQQQQQQQQQQQ.                Meja Leseh Kecil

RRRRRRRRRRRRR.                5

SSSSSSSSSSSSS.                       1

TTTTTTTTTTTTT.     6

UUUUUUUUUUUUU.

VVVVVVVVVVVVV.                       40.

WWWWWWWWWWWWW.                     Meja Oval

XXXXXXXXXXXXX.

YYYYYYYYYYYYY.                       1

ZZZZZZZZZZZZZ.     1

AAAAAAAAAAAAAA.

BBBBBBBBBBBBBB.                 41.

CCCCCCCCCCCCCC.          Meja Set

DDDDDDDDDDDDDD.

EEEEEEEEEEEEEE.                 5

FFFFFFFFFFFFFF.                        5

GGGGGGGGGGGGGG.

HHHHHHHHHHHHHH.          42.

IIIIIIIIIIIIII.Mesin Ketik

JJJJJJJJJJJJJJ.

KKKKKKKKKKKKKK.                 5

LLLLLLLLLLLLLL.       5

MMMMMMMMMMMMMM.

NNNNNNNNNNNNNN.          43..

OOOOOOOOOOOOOO.          Ketik Elektronik

PPPPPPPPPPPPPP.

QQQQQQQQQQQQQQ.          1

RRRRRRRRRRRRRR.          1

SSSSSSSSSSSSSS.

TTTTTTTTTTTTTT.                        44.

UUUUUUUUUUUUUU.          Board maker

VVVVVVVVVVVVVV.

WWWWWWWWWWWWWW.             1

XXXXXXXXXXXXXX.                 1

YYYYYYYYYYYYYY.

ZZZZZZZZZZZZZZ.                        45.

AAAAAAAAAAAAAAA.            Display Koran

BBBBBBBBBBBBBBB.            14

CCCCCCCCCCCCCCC.

DDDDDDDDDDDDDDD.    14

EEEEEEEEEEEEEEE.

FFFFFFFFFFFFFFF.                   46.

GGGGGGGGGGGGGGG.    Papan Umum

HHHHHHHHHHHHHHH.    11

IIIIIIIIIIIIIII.                1

JJJJJJJJJJJJJJJ.          12

KKKKKKKKKKKKKKK.

LLLLLLLLLLLLLLL.   47.

MMMMMMMMMMMMMMM.             Vacum Cliner

NNNNNNNNNNNNNNN.

OOOOOOOOOOOOOOO.    1

PPPPPPPPPPPPPPP.            1

QQQQQQQQQQQQQQQ.

RRRRRRRRRRRRRRR.    48.

SSSSSSSSSSSSSSS.            Permadani

TTTTTTTTTTTTTTT.                   16

UUUUUUUUUUUUUUU.    1

VVVVVVVVVVVVVVV.            17

WWWWWWWWWWWWWWW.

XXXXXXXXXXXXXXX.            49.

YYYYYYYYYYYYYYY.            BJL-265 SP

ZZZZZZZZZZZZZZZ.

AAAAAAAAAAAAAAAA.      1

BBBBBBBBBBBBBBBB.      1

CCCCCCCCCCCCCCCC.

DDDDDDDDDDDDDDDD.                      50.

EEEEEEEEEEEEEEEE.      LQ-1170

FFFFFFFFFFFFFFFF.

GGGGGGGGGGGGGGGG.                      12

HHHHHHHHHHHHHHHH.                      12

IIIIIIIIIIIIIIII.

JJJJJJJJJJJJJJJJ.      51.

KKKKKKKKKKKKKKKK.      LQ-2180

LLLLLLLLLLLLLLLL.

MMMMMMMMMMMMMMMM.      5

NNNNNNNNNNNNNNNN.                      5

OOOOOOOOOOOOOOOO.

PPPPPPPPPPPPPPPP.      52.

QQQQQQQQQQQQQQQQ.                      LQ-300

RRRRRRRRRRRRRRRR.

SSSSSSSSSSSSSSSS.      5

TTTTTTTTTTTTTTTT.              5

UUUUUUUUUUUUUUUU.

VVVVVVVVVVVVVVVV.      53.

WWWWWWWWWWWWWWWW.                      Radio Tape

XXXXXXXXXXXXXXXX.

YYYYYYYYYYYYYYYY.      4

ZZZZZZZZZZZZZZZZ.              4

AAAAAAAAAAAAAAAAA.

BBBBBBBBBBBBBBBBB. 54.

CCCCCCCCCCCCCCCCC.                Rak Almunium

DDDDDDDDDDDDDDDDD.                1

EEEEEEEEEEEEEEEEE. 4

FFFFFFFFFFFFFFFFF.         5

GGGGGGGGGGGGGGGGG.

HHHHHHHHHHHHHHHHH.                55.

IIIIIIIIIIIIIIIII.            Rak Buku Besi

JJJJJJJJJJJJJJJJJ.  14

KKKKKKKKKKKKKKKKK. 72

LLLLLLLLLLLLLLLLL.                  86

MMMMMMMMMMMMMMMMM.                       Gudang

NNNNNNNNNNNNNNNNN.                56.

OOOOOOOOOOOOOOOOO.                Rak Kayu

PPPPPPPPPPPPPPPPP. 178

QQQQQQQQQQQQQQQQQ.                2

RRRRRRRRRRRRRRRRR.                180

SSSSSSSSSSSSSSSSS.

TTTTTTTTTTTTTTTTT.         57.

UUUUUUUUUUUUUUUUU.                Rak Kayu Pendek

VVVVVVVVVVVVVVVVV. 30

WWWWWWWWWWWWWWWWW.               20

XXXXXXXXXXXXXXXXX. 50

YYYYYYYYYYYYYYYYY.

ZZZZZZZZZZZZZZZZZ.         58.

AAAAAAAAAAAAAAAAAA.                   Rak Majalah

BBBBBBBBBBBBBBBBBB.                   4

CCCCCCCCCCCCCCCCCC.          4

DDDDDDDDDDDDDDDDDD.          8

EEEEEEEEEEEEEEEEEE.

FFFFFFFFFFFFFFFFFF.    59.

GGGGGGGGGGGGGGGGGG.          Server

HHHHHHHHHHHHHHHHHH.

IIIIIIIIIIIIIIIIII.          1

JJJJJJJJJJJJJJJJJJ.                      1

KKKKKKKKKKKKKKKKKK.

LLLLLLLLLLLLLLLLLL.             60.

MMMMMMMMMMMMMMMMMM.                Telpon

NNNNNNNNNNNNNNNNNN.

OOOOOOOOOOOOOOOOOO.          6

PPPPPPPPPPPPPPPPPP.                   6

QQQQQQQQQQQQQQQQQQ.

RRRRRRRRRRRRRRRRRR.                   Sumber: Tugas Akhir DIII Perpustakaan FISIP UNS 2007 (Mei Maryani, 2007:40)

SSSSSSSSSSSSSSSSSS.

TTTTTTTTTTTTTTTTTT.          Selain itu, di Perpustakaan UMS juga dilengkapi dengan adanya dua fasilitas tambahan, yaitu:

1.      Ruang Baca Bebas

UUUUUUUUUUUUUUUUUU.                Pengunjung dapat memanfaatkan ruangan ini untuk aktivitas belajar dan diskusi. Di dalam ruangan ini pengunjung diperbolehkan membawa tas, buku, laptop atau barang pribadi lainnya, dengan catatan tidak membuat kegaduhan yang dapat mengganggu pengunjung lainnya.

VVVVVVVVVVVVVVVVVV.

2.      Ruang Rapat/Diskusi

WWWWWWWWWWWWWWWWWW.             Ruang ini berada di lantai II dan dapat di manfaatkan oleh pengguna. Ruang Rapat ini mempunyai fasilitas : Internet, LCD, Laptop dan Projektor. Untuk dapat menggunakannya pengunjung perlu mematuhi peraturan yang berlaku

I.        MACAM-MACAM LAYANAN

XXXXXXXXXXXXXXXXXX.

YYYYYYYYYYYYYYYYYY.                        Ada beberapa macam layanan yang disediakan di Perpustakaan UMS, yaitu:

  1. 1. Layanan Referensi

Layanan ini diberikan oleh perpustakaan kepada pengguna yang mengalami kesulitan dalam menemukan informasi, yang berupa penelusuran informasi dari koleksi buku maupun non-buku. Layanan Referensi merupakan salah satu jasa layanan perpustakaan yang disediakan bagi pengguna untuk menemukan informasi yang dibutuhkannya. Ciri utama kegiatan tersebut, yaitu layanan yang dilakukan dengan memanfaatkan seperangkat sumber referens (bahan rujukan) seperti: kamus, ensiklopedi, direktori, statistik, bibliografi, undang-undang dan lain sebagainya.

Layanan ini terletak di lantai IV Perpustakaan UMS. Koleksi di bagian ini hanya bisa di manfaatkan di ruangan tersebut, namun koleksi ini dapat di fotokopi. Layanan dapat diberikan dengan mendatangi langsung Bagian Referensi di Perpustakaan UMS maupun melalui telepon ke (0271) 717417.

  1. 2. Layanan Periodikal

Koleksi periodikal atau terbitan berkala adalah bentuk publikasi yang biasanya memuat berbagai tulisan dan artikel dengan kala terbit teratur dan rutin. Layanan ini masih menjadi satu ruangan dengan koleksi referensi, yaitu di lantai IV, koleksi ini juga hanya di manfaatkan di ruangan saja. dan bisa di kopi.

  1. 3. Layanan Administrasi

Layanan diharapkan memberikan kemudahan bagi para pengunjung dalam hal keadminstrasi, di antaranya adalah:

  1. a. Layanan Kanggotaan

Yang berhak menjadi anggota Perpustakaan UMS, yaitu dosen dan karyawan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta dan masyarakat dari luar UMS. Masyarakat dari luar UMS di bagi menjadi dua, yaitu : Anggota luar biasa (anggota yang berhak menggunakan fasilitas yang ada di perpustakaan, tetapi tidak boleh membawa keluar koleksi perpustakaan UMS) dan Anggota sekali kunjung (masyarakat luar yang menghendaki kunjungan ke Perpustakaan UMS dalam waktu sekali kunjung)

  1. b. Tempat Pengurusan Surat-menyurat

Surat-surat yang dikeluarkan Bagian Layanan Administrasi UMS di antaranya:

1)      Surat Bebas Pinjam

Yaitu Surat Keterangan dari Perpustakaan bahwa mahasiswa yang bersangkutan tidak punya tanggungan pinjaman di Perpustakaan UMS. Surat Bebas Pinjam Perpustakaan diberikan kepada mahasiswa yang akan melakukan kegiatan: ujian skripsi atau tesis, mengambil masa selang studi, pindah studi dan pengambilan ijazah.

2)      Surat pengantar bagi mahasiswa yang ingin mengunjungi Perpustakaan universitas atau instansi lain.

  1. c. Tempat Penyerahan Karya Ilmiyah

Bagian Administrasi menerima penyerahan Tugas Akhir (TA), Skripsi, Tesis dan Disertasi dalam bentuk cetak (hardkopi) maupun dalam bentuk CD (Softkopi).

  1. d. Memberikan Layanan tentang Informasi Perpustakaan UMS

Layanan Administrasi juga melayani pengunjung yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai Perpustakaan UMS.

  1. e. Layanan Fotokopi atau Transfer data ke CD

Bagian Administrasi memberikan jasa penyalianan Data ke CD dengan biaya Rp.6000,00 sudah termasuk CD-R, cassing dan label.

  1. 4. Layanan Sirkulasi

Layanan Sirkulasi Perpustakaan UMS terdiri atas buku-buku teks, yang bisa dipinjam oleh sivitas akademikan UMS dengan kententuan yang berlaku di perpustakaan. Koleksi ini terdapat di lantai III perpustakaan.

  1. 5. Layanan Karya Ilmiah

Layanan ini menyediakan bahan pustaka yang bersifat ilmiah, yang pemanfaatannya hanya bisa di baca di tempat, tidak bisa di kopi dan di scan.

  1. 6. Layanan Cadangan

Layanan ini menyediakan buku-buku teks dari seluruh judul buku teks yang dimiliki Perpustakaan UMS. Tujuan dari layanan ini adalah ketersediaan atau accessability. Koleksi buku teks yang ada pada bagian ini hanya bisa dibaca ditempat di kopi atau di scan.

  1. 7. Layanan Foto kopi

Pelayanan Fotokopi di Perpustakaan UMS terletak di lantai IV. Syarat fotokopi untuk koleksi Referensi, Cadangan dan Periodikal adalah:

  • Menunjukkan KAP (Kartu Anggota Perpustakaan)
  • Jumlah Fotokopi maksimal tiga lembar perbuku
  • Fotokopi lebih dari empat lembar dikenakan biaya tambahan 4 persen
  • Anggota Luar Biasa dan Pasca Sarjana dikenakan biaya tambahan Rp.1000,/ transaksi
  • Uang muka 50% untuk hasil fotokopi yang harus dikirim dan bayar di muka.
  1. 8. Layanan AV (Audio Visuals) dan Internet

Layanan ini terletak di lantai II Perpustakaan UMS. Koleksi ini berupa : Compact Disk (CD), Disket dan Kaset. Selain koleksi tersebut di tempat ini juga melayani pengaksesan internet dengan biaya akses yang relatif murah, dengan harapan para mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas ini. Di tempat ini pula para anggota bisa meminta bantuan untuk penelusuran jurnal-jurnal elektronik ataupun artikel-artikel yang ada di internet.

BAB IV

PEMBAHASAN MASALAH

  1. A. ANALISIS MASALAH

Untuk meningkatkan kualitas layanan dan kemudahan bagi  pengguna dalam mencari informasi dan memanfaatkannya, mulai bulan Februari 2008, Perpustakaan UMS menggunakan program baru yang di sebut KOHA. Dengan program berbasis Web penguna bisa mencari buku, informasi, memperpanjang pinjaman dan mengusulkan buku lewat internet dengan alamat website http://search.lib.ums.ac.id

  1. 1. Alasan pemakaian Koha di Perpustakaan UMS

Ada beberapa alasan mengapa Perpustakaan UMS memakai Progam Aplikasi                      .     Koha, yaitu:

a) Koha merupakan ILS (Integratet Library System) dengan Fiture penuh

Dalam penggunaan di seluruh dunia di perpustakaan-perpustakaan pada semua ukuran, Koha adalah ILS yang cocok dengan fungsionalitas yang komprehensif termasuk opsi-opsi dasar atau yang lebih maju. Koha meliputi modul-modul untuk Sirkulasi, pengkatalogan, perolehan, serial, cadangan, manajemen pelanggan, hubungan cabang, dan lebih banyak lagi.

b) Dual Database Design

Koha menggunakan suatu desain database ganda yang memanfaatkan kekuatan-kekuatan dari dua tipe database standard-industri utama, yaitu berbasis Teks (Zebra)  dan RDBMS (MySQL dan PostGre). Fiture desain ini menjamin bahwa, Koha adalah cukup mampu untuk memenuhi segala transaksi pada perpustakaan apapun, tidak masalah bagaimana besarnya perpustakaan tersebut.

Besar-kecilnya Server yang digunakan dalam perpustakaan berbanding lurus dengan beban transaksi perpustakaan yang bersangkutan. Semakin besar beban transaksi yang dilakukan semakin besar pula Server yang diperlukan, dan semakin kecil beban transaksinya semakin kecil pula Server yang dibutuhkan perpustakaan tersebut.

Perpustakaan UMS tergolong perpustakaan yang mempunyai beban transaksi yang besar karena mempunyai koleksi yang cukup banyak, lebih dari 100.000 eksemplar. Perpustakaan UMS memakai Database Zebra dan mysql dengan Server Quadcore yang mempunyai kapasitas memory 3 gigabyte.

c) Memenuhi Standard Perpustakaan.

Koha dibangun dengan protokol-protokol dan standard-standar perpustakaan yang menjamin Interoperability (kemampuan pengoprasian bersama) antara Koha dan sistem-sistem dan teknologi lainnya. Protokol yang dapat di-support oleh Koha adalah z39.50, OAI dan Harves. Perpustakaan UMS memakai Protokol z39.50 yang sudah ber-standard Internasional.

d) Sumber terbuka/Gratis

Koha di distribusikan dibawah “Open-source General Public Licence”. Jadi merupakan program yang cukup murah, karena bisa di-download dari internet.

e) Tidak ada Vendor Lock-in

Ini adalah bagian penting dari janji open-source, bahwa tidak ada vendor lock-in. tidak ada satu perpustakaan atau perusahaan pun yang mengklaim bahwa, Koha adalah milik organisasi tersebut. Jadi perpustakaan-perpustakaan bebas menginstall dan meggunakan Koha sendiri jika perpustakaan tersebut mempunyain keahlian sendiri atau membeli jasa pengembangan dari sumber terbaik yang tersedia.

  1. 2. Penelusuran bahan pustaka melalui Koha

Untuk melakukan penelusuran Bahan Pustaka melalui OPAC KOHA Perpustakaan UMS, langkah pertama yang dilakukan adalah masuk ke alamat web http://library.ums.ac.id, setelah itu akan muncul pada layar tampilan sebagai berikut:

Selain itu penelusuran bahan pustaka juga dapat dilakukan melalui alamat website http://search.lib.ums.ac.id, setelah di layarakan tampil keterangan sebagai berikut:

kemudian ketik keyword bahan pustaka yang akan ditelusur (sebagaimana contoh di atas, penulis mekakai keyword buku dengan judul Laskar Pelangi) kemudian <enter>:

akan muncul keterangan sebagai berikut:

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai koleksi tersebut, klik pada judul bahan pustaka yang dimaksud, maka akan muncul keterangan sebagai berikut:

Keterangan :

Buku berjudul laskar pelangi

Pengarang HIRATA, Andrea

Penerbit : Bentang, kota terbit : Yogyakarta, Tahun terbit : 2007.

Kolasi xviii, 534.:21 cm

Subjek Fiksi Indonesia

Jumlah eksemplar 4 (empat) buah

Lokasi cadangan 1 (satu) sirkulasi 4 (empat)

Statusnya: di cadangan masih ada (Available).

Dan di sirkulasi masih di pinjam (on-load)

Pada keterangan di atas masih banyak link-link bermanfaat lainnya, yang apabila kita klik pada link tersebut akan muncul beberapa keterangan lagi. Misalnya: kita klik pada kata “Bentang” maka akan muncul beberapa judul buku yang di terbitkan oleh penerbit Bentang Surabaya. Kalau kita klik kata “Fiksi Indonesia”, maka akan muncul beberapa judul buku yang mempunyai subjek Fiksi Indonesia.

Ada 3 (tiga) cara yang dapat dilakukan dalam penelusuran bahan pustaka melalui OPAC Koha di Perpustakaan UMS, yaitu:

  1. a. Simpel

Ini adalah penelusuran bahan pustaka yang paling sederhana. Di sini penelusur diberikan beberapa menu pilihan, yaitu:

Setelah itu ditelusur melalui salah satu menu pada gambar di atas.

Contoh penelusuran lewat judul :

Ketik judul bahan pustaka yang kan ditelusur, kemudian <enter>:

Contoh:

Maka akan muncul beberapa item buku yang mengandung judul Komunikasi Bisnis seperti yang terdapat pada gambar di atas.

  1. b. Advanced

Klik pada kata “Advance Search” dari penelusuran ini selanjutnya dapat memasukkan lebih dari satu pencarian. Setelah di klik akan muncul tampalian seperti berikut:

Dalam penelusuran ini ada beberapa pilihan keyword, antara lain:

– Authour   ( Pengarang )                – Title   ( Judul )

– Subject    ( Subjek )                     – Language ( Bahasa )

– Series Title ( Seri Judul )   – Publisher Location ( Kota terbit )

Dalam penulusuran cara ini pengguna dimungkinkan untuk memilih tipe item yang dikehendaki seperti yang tertera di atas. Kemudian klik kata “ok”.

Tipe Item atau jenis bahan pustaka yang dimaksud antaralian Yaitu : Buku, Audio Vidio, Arsip Digital, CD-ROOM, Cadangan, Serial dan bahasa Asing.

Contoh penelusuran lewat judul, pengarang dan kota terbit:

Authour                              : Sulistyo Basuki

Title                                    : Pengantar Ilmu Perpustakaan

Publisher Location  : Jakarta

Hasil dari penelusuran sebagai berikut:

  1. c. Expert

Penulusuran ini memungkinkan bagi pengguna untuk mencari informasi yang lebih spesifik atau sesuai yang dikehendaki dengan menggunakan kode-kode  dan menggabungkan dua kode dengan kata “and” atau “or” sebagai berikut:

  • Ti              : Title (judul)
  • Ti, wrdl    : untuk judul yang menggunakan kata itu

Sebagai contoh pendidikan anak maka tampilan hasil penelusuran akan tampil judul-judul yang memuat pendidikan anak bukan pendidikan dan anak.

  • Au             : Author (pengarang)
  • Su             : Subyek
  • ISBN        : ISBN
  • Se             : Seri
  • Callnum   : Call Number (No panggil)
  • Pb             : publisher (penerbit)
  • Pl              : kota terbit

Pastikan pilihan Search pada menu Library Catalog.

Contoh penelusuran secara Expered adalah:

Judul   : Akuntansi Syariah dan

Subjek : Ekonomi Islam

Kemudian klik “Go” atau <enter> :

Hasil dari penelusuran sebagai berikut:

Selain itu penelusuran bahan pustaka melalui KOHA Perpustakaan UMS juga memungkinkan penelusur melakukan penelusuran yang dapat diurutkan berdasarkan urutan abjad, tahun terbit, tahun infentaris, dan juga berdasarkan tingkat kepopulerannya.

Pilihan di atas terdapat pada kata “Relevance” sebelah kanan, klik pada tanda panah dan akan muncul keterangan sebagai berikut:

Relevance : Bahan Pustaka yang paling Relevan

Popularity (Mast to Least: adalah penelusuran bahan pustaka diurutkan dari yang paling popular ke yang tidak populer

Popularity (Least to Mast): Penelusuran Bahan Pustaka dari yang tidak Populer ke yang paling populer

Authour (A-Z): penelusuran bahan pustaka yang pengarangnya di urutkan secara Alvabet (A ke Z)

Call Number: Adalah penelusuran bahan pustaka yang diurutkan bedasarkan Nomor Panggil, dari kelas 000 ke 900 ataupun sebaliknya dari kelas 900 ke kelas 000.

Dates :   Publication/Copyright date:Newest to Oldest adalah penelusuran bahan pustaka urut berdasarkan tahun terbit pertama s/d paling baru.

Publication/Copyright date: Oldest to Newest adalah penelusuran bahan pustaka urut berdasarkan tahun terbit paling baru ke tahun terbit yang palin lama.

Acquistion Date :

Newest to Oldest: Penelusuran bahan pustaka urut dari koleksi yang      pertama masuk ke Perpustakaan UMS dan yang paling baru di Inventaris Perpustakaan UMS.

Oldest to Newest: Penelusuran bahan pustaka urut dari koleksi yang paling akhir masuk ke Perpustakaan UMS ke Koleksi yang petama di Inventaris Perpustakaan UMS.

Title          : (A – Z) Penelusuran Bahan Pustaka di urutkan berdasar Judul secara Alvabet (dari judul A – Z)

(Z – A) Penelusuran Bahan Pustaka di urutkan dari judul yang berawalan huruf Z ke judul yang berawalan huruf A

Contoh: Penelusuran bahan pustaka melalui Koha Perpustakaan UMS diurutkan berdasarkan Abjad (A-Z), setelah muncul beberapa title/item yang dimaksud klik pada kata “Title A-Z” setelah itu akan muncul keterangan sebagai berikut:

Selain itu pada bagian samping kiri ada menu “Refine your search”  apabila klik salah satunya, maka akan muncul keterangan yang lebih sempit, penyempitan tersebut antara lain berdasarkan tempat, pengarang, topik dll.

  1. 3. Fasilitas tambahan dalam penelusuran melalui KOHA

a) MARC View

Adalah fasilitas yang dapat dipakai Untuk mengetahui lebih detail mengenai suatu bahan pustaka dengan melihat format MARC-nya. Yaitu dengan meng-Klik kata MARC View, dari hasil penelusuran tersebut.

Contoh:

Setelah di klik akan muncul keterangan seperti berikut:

b) Place Hold

Adalah Fasilitas yang dapat dipakai Untuk memesan bahan pustaka. Di sini anggota perpustakaan dapat melakukan pemesanan bahan pustaka yang diinginkan bila ternyata bahan pustaka yang dimaksud sudah habis dipinjam pengunjung lain, yaitu dengan cara meng-Klik kata “Place Hold”. Setelah di-klik akan muncul tampilan seperti di bawah:

untuk melakukan pemesanan bahan pustaka, isikan nama dan nomor anggota perpustakaan, kemudian klik pada kata “Log-In”

c) Most Popular

Adalah fasilitas yang dapat digunakan pengunjung untuk mengetahui jenis atau judul bahan pustaka yang paling banyak dipinjam oleh anggota Perpustakaan UMS. Caranya, klik kata “Most Populer”, akan muncul keterangan seperti berikut:

  1. 4. Tingkat Pemahaman Pengunjung Terhadap Koha Perpustakaan UMS

Untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman pengunjung terhadap Koha Perpustakaan UMS, dapat di lihat angket yang di bagikan kepada 24 (Dua puluh empat) pengunjung. Adapun pertanyaan dan hasil angket adalah sebagai berikut.

Apakah anda menguasai cara melakukan penelusuran bahan pustaka melalui Aplikasi Koha Perpustakaan UMS?

  1. Sangat menguasai
  2. Menguasai
  3. Kurang Menguasi
  4. Tidak  menguasai

Dari 24 (dua puluh empat) Responden,

0 %         atau  tidak ada pengunjung yang menyatakan Sangat Mengausai.

62,5 %    atau 15     Responden menyatakan Menguasai

33,33 %  atau 8       Responden menyatakan Kurang Menguasai dan

4,17 %    atau 1       Responden Menyatakan Tidak menguasai

Mayoritas      Responden     menyatakan     menguasai   cara     melakukan

penelusuran bahan pustaka melalui Aplikasi Koha Perpustakaan UMS.

Apakah anda mengetahui tentang fiture-fiture atau fasilitas yang disediakan pada Penelusuran  Aplikasi Koha perpustakaan UMS?

  1. Sangat Mengetahui
  2. Mengetahui
  3. Kurang Mengetahui
  4. Tidak Mengetahui

Dari 24 (dua puluh empat) Responden,

0  %         atau tidak ada Responden yang menyatakan Sangat Mengetahui.

20,83 %   atau 5      Responden menyatakan mengetahui

79,17 %   atau 19    Responden menyatakan Kurang Mengetahui dan

0 %          atau   tidak ada Responden yang Menyatakan Tidak mengetahui.

Mayoritas Responden menyatakan Kurang Mengetahui tentang fiture-fiture atau fasilitas   yang  ada   dalam   penelusuran   bahan pustaka melalui  Aplikasi Koha

Perpustakaan UMS.

Apakah anda bisa memanfaatkan fiture-fiture atau fasilitas Penelusuran  tersebut?

  1. Sangat Bisa
  2. Bisa
  3. Kurang Bisa
  4. Tidak Bisa

Dari 24 (dua puluh empat) Responden,

4,17  %            atau 1         Responden menyatakan Sangat Bisa

33,33  %          atau 8         Responden menyatakan Bisa

58,33  %          atau 14       Responden menyatakan Kurang Bisa dan

4,17 %             atau 1         Responden menyatakan Tidak Bisa

Mayoritas Responden menyatakan Kurang Bisa memanfaatkan fiture-fiture atau fasilitas yang ada dalam penelusuran bahan pustaka melalui Aplikasi Koha di Perpustakaan UMS.

Melihat hasil Angket di atas, dapat disimpulkan bahwa:

Koha merupakan Program Aplikasi Perpustakaan yang cukup mudah digunakan dalam penelusuran bahan pustaka, karena mempunyai tampilan yang sederhana. Koha juga mempunyai Fiture atau fasilitas Penelusuran yang beragam, namun cukup disayangkan karena fasilitas-fasilitas tersebut kurang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung Perpustakaan UMS, ini terjadi karena kurangnya sosialisai kepada pengunjung.

  1. B. HAMBATAN–HAMBATAN

Hambatan-hambatan yang dialami pengunjung dalam melakukan penelusuran bahan pustaka melalui OPAC KOHA Perpustakaan UMS, antara lain:

  1. Masalah Aliran Listrik.

Penelusuran bahan pustaka sangat tergantung pada aliran listrik, bila listrik mati, maka kegiatan penelusuran bahan pustaka akan terganggu.

  1. Masalah Jaringan.

Koha merupakan Program Aplikasi Perpustakaan yang sudah terakses internet, jadi apabila terjadi masalah pada jaringan internet, sudah dapat dipastikan kegiatan penelusuran bahan pustakapun akan ikut terganggu.

  1. Belum semua bahan pustaka masuk ke data komputer sehingga pengguna mengalami kesulitan dalam melakukan penelusuran.

Perpustakaan UMS memakai Aplikasi KOHA baru dimulai pada bulan Februari 2008 ini, sehingga data buku-buku yang sebelumnya ada pada  database program yang lama belum sepenuhnya masuk ke database pada Aplikasi KOHA.

  1. Adanya keluhan dari beberapa pengunjung, khususnya mengenai kelambanan (lemo  loding yang lama) dalam melakukan penelusuran bahan pustaka.
  2. Pengunjung belum dapat memanfaatkan fasilitas penelusuran dengan maksimal.

Seperti yang diuraikan di atas, bahwa ada beberapa cara dan ada beberapa fasilitas tambahan dalam penelusuran bahan pusaka melalui Koha Perpustakaan UMS, namun cukup disayangkan karena fasilitas-fasilitas penelusuran tersebut kurang dimengerti oleh pengunjung Perpustakaan UMS.

  1. C. PEMECAHAN MASALAH

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah dalam penelusuran informasi bahan pustaka melalui Koha Perpustakaan UMS di atas, yaitu antara lain:

  1. Genset/Generator Otomasis.

Generator otomatis atau genset dapat digunakan apabila listrik padam, generator otomatis akan segera menyuplai arus listrik pengganti bila listrik utama (Listrik PLN) megalami pemadaman, sehingga diharapkan kegiatan penelusuran bahan pustaka tidak akan tergangu.

  1. Memfungsikan kembali Katalog manual (kartu Katalog).

Kartu katalog harus tetap dirawat, sehingga dapat dimanfaatkan kembali apabila suatu saat perpustakaan mengalami masalah yangberkaitan dengan jaringan internet.

  1. Perpustakaan UMS perlu mengadakan stock-opname koleksi yang ada, sehingga koleksi yang belum masuk kedatabase Koha dapat segera dimasukkan.
  2. Perpustakaan UMS perlu memonitoring utilisasi Bandwidth yang tersedia, untuk memperbesar Bandwidth sehingga keluhan pengunjung mengenai kelambanan akses koleksi dapat diatasi.
  3. Perpustakaan UMS perlu membuat buku panduan dan memberi pelatihan kepada pengunjung Perpustakaan mengenai cara melakukan penelusuran bahan pustaka, sehingga fasilitas-fasilitas yang disediakan dalam OPAC KOHA dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pengunjung Perpustakaan UMS.

BAB V

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN

Dari pembahasan mengenai penelusuran bahan pustaka melalui KOHA Perpustakaan UMS di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pengertian dan artipenting Penelusuran Bahan Pustaka

Penelusuran bahan pustaka adalah sebuah kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui lokasi suatu dokumentasi, informasi atau subjek dokumen yang memuat subjek atau informasi dengan menggunakan petunjuk simbol tertentu.

Penelusuran informasi merupakan bagian terpenting dalam temu kembali informasi di perpustakaan.      Penelusuran Informasi menjadi penting karena “ruh” atau “nyawa” dari sebuah layanan informasi dalam unit informasi atau perpustakaan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan informasi yang diminta pemakai, bagaimana menemukan informasi yang diminta pemakai, dan bagaimana memberikan “jalan” kepada pemakai untuk menemukan informasi yang dikehendaki.

  1. KOHA adalah sistem perpustakaan terintegrasi atau Integrated Library System sumber terbuka (open-source). Koha menyediakan sistem perpustakaan terintegrasi mulai dari Pengkatalogan, OPAC, Sirkulasi maupun Pengadaan.
  1. Alasan yang melatarbelakangi Perpustakaan memakai Aplikasi KOHA antara lain :

f)        Koha merupakan ILS (Integratet Library System) dengan Fiture penuh

Koha meliputi modul-modul untuk Sirkulasi, pengkatalogan, perolehan, serial, caadangan, manajemen pelanggan, hubungan cabang, dan lain sebagainya.

g)      Dual Database Design, yaitu berbasis teks dan RDBMS

h)      Memenuhi Standard Perpustakaan.

Menurut Arief Surachman (2007), Software harus memiliki keriteria sebagai berikut:

  1. Kegunaan  :   fasilitas dan laporan yang ada sesuai dengan kebutuhan dan menghasilkan informasi tepat pada waktu (realtime) dan relevan untuk proses pengambilan keputusan.
  2. Ekonomis  :   biaya yang dikeluarkan sebanding untuk mengaplikasikan software sesuai dengan hasil yang didapatkan.
  3. Keandalan :   mampu menangani operasi pekerjaan dengan frekuensi  besar dan terus-menerus.
  4. Kapasitas  :   mampu menyimpan data dengan jumlah besar dengan kemampuan temu kembali yang cepat.
  5. Sederhana :   menu-menu yang disediakan dapat dijalankan dengan mudah dan interaktif dengan pengguna
  6. Fleksibel   :    dapat diaplikasikan di beberapa jenis sistem operasi dan institusi serta maupun memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

i)        Sumber terbuka / Gratis

j)        Tidak ada Vendor Lock-in

  1. Penelusuran Bahan Pustaka melalui KOHA Perpustakaan UMS dapat dilakukan melalui 3 (tiga) cara, yaitu:
  2. Simple (Penelusuran sederhana)

Penelusuran dapat dilakukan melaui judul, pengarang, subjek, ISBN, judul seri dan nomor klasifikasi.

  1. Penelusuran Advance (Penelusuran lanjutan)

Dari penelusuran ini penelusur  dapat memasukkan lebih dari satu penelusuran.

  1. Expert (Penelusuran ahli)

Penelusuran ini memungkinkan pengguna untuk mencari informasi yang lebih spesifik dengan menggunakan kode-kode dan menggabungkan dua kode dengan kata “and” atau “or”.

  1. B. SARAN

Ada sedikit saran yang dapat disampaikan dalam Penulisan Tugas Akhir ini,

  1. Dalam melaksanakan pengotomasian, Perpustakaan UMS jangan merasa puas, karena dunia otomasi semakin lama semakin berkembang. Teruslah berusaha menjadi yang terdepan dalam menyajikan informasi kepada pemakai (user) sebagaimana yang tertuang dalam VISI dan MISI Perpustakaan UMS.
  2. Para karyawan Perpustakaan UMS yang sebagian berpendidikan non perpustakaan, untuk itu diperlukan pengajaran baik dengan pendidikan formal maupun non formal (diklat, kursus maupun magang), agar para petugas dapat memberikan pelayanan semaksimal mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Arlinah I R. Penelusuran informasi dalam proses belajar mengajar di sekolah dasarhttp://arlinah@petra.ac.id

Dhohari, Taufik Rahman.2000. Sosiologi 2. : Jakarta: Yudistira.

Hairani, Agustin. Teknologi  informasi  dan  komunikasi  di  e-library . http://media.diknas.go.id

Harmanto, Bambang. Penelusuran bahan pustaka melalui OPAC. http://fisip.uns.ac.id

IPI pengurus daerah DKI. 2006. Aksentuasai perpustakaan dan pustakawan. Jakarta:Sagung Seto.

Kusmadi, Eka. Strategi penelusuran informasi pada CD-ROM TEEAL. http://www.pustaka-deptan.go.id/

Lasa HS.2004. Kamus istilah Perpustakaan. Yogyakarta : Kanisius

Nugroho, Budi. Penelusuran informasi ilmiah. http://bud1nugroho.wordpress.com/

Nurhadi, Muljani A.1983. Sejarah perpustakan dan perkembangannya di Indonesia.Yogyakarta: Andi Offect

Santosa, Ananda.2002. kamus lengkap bahasa Indonesia. : Surabaya: Pustaka dua

Siregar, A Ridwan.Perpustakaan digital: implikasi terhadap pustakawan. http://library.usu.ac.id

Sudjini.2007.Prinsip-prinsip psikologi perpustakaan.Surakarta : SN

Sulistyo, Basuki.1989.Pengantar Dokumentasi Ilmiah.Jakarta:Kesaint Blanc

Sulistyo, Basuki.1993. Pengnatar ilmu perpustakaan. Jakarta: PT. Gramedia

Surachman, Arif. Penelusuran Informasi. http://media.diknas.go.id

Sutarno N.S. 2006.Perpustakaan dan masyarakat. Jakarta.:Sagung seto.

Leave a comment »

Jaringan dan Kerjasama Perpustakaan

Jaringan Komputer

Jaringan komputer (computer network)

Adalah sistem komputer yang tersebar di berbagai tempat namun saling berhubungan dengan menggunakan saluran telekomunikasi

Konsep Jaringan Komputer

Stand on-line : Komputer yang beroprasi sendiri/komputer yang tidak dihubungkan dengan komputer lain.

On-line system (System terpasang) : Komputer yang dapat mengakses dengan menggunakan jaringan telekomunikasi

Of-line system (Sistem lepas hubungan) : jaringan komputer yang tidak dapat mengakses komputer lain karena putusnya jaringan telekomunikasi

Modem (modulator demodulator) : Sebuah gawai yang dapat mengubah sinyal digital mjd sinyal analog dan sebaliknya.

Sinyal digital :Sinyal yang diberikan dalam bentuk angka berupa 0 dan 1 (0 = off, 1 = on) merupakan sinyal Komputer.

Sinyal analog: Merupakan representasi informasi berupa sinyal luaran yang berbeda-beda dlm bentuknya sesuai dng cara masukannya. Analog merupakan sinyal pada telepon.

Aplikasi Komputer di Perpustakaan

Aplikasi Komputer di perpustakaan digunakan untuk :

– Sirkulasi                                 – Katalogisasi

– Kontrol terbitan seri               – Kontrol audio-visual

– Pengadaan                             – Anggaran

– Pinjam antar perpus                – Berkas informasi

– OPAC (online publick access catalogue)

Jaringan Lokal (LAN)

Adalah Sistem yang menghubungkan berbagai komputer, periferal dan gawai komunikasi pada kecepatan tinggi dalam kawasan terbatas.

Atau fasilitas komunikasi digital yang mengangkut data pada kecepatan tinggi di antara sejumlah komputer, serta masing-masing berhubungan dlm sebuah gedung/kumpulan gedung.

Adapun peralatan yg digunakan dlm jaringan kawasan lokal sbb :

1.Medium sambungan (sambutan kabel jaringan)

berupa:kabel puntir, sumbu serta optik.

Kabel Puntir (twisted pair cable) : kabel tembaga tunggal yang dibungkus dengan isolasi , kekurangannya kekuatan sinyal lemah apabila berbanding dengan jarak, derai dari luar dpt mengganggu sinyal komunikasi.

keuntungannya : harga murah dan mudah dipasang.

Kabel sesumbu (coaxial cable) : mirip dng kabel televisi ataupun kabel listrik

Keuntungan coaxial; luwes dan daya tahan tinggi.

Serat optik bentuknya kecil hampir seperti rambut manusia, namun kekuatannya mampu menyalurkan suara lbh cepat drpd medium lainnya.

2.Interface (antarmuka); menghubungkan workstation (stasiun kerja) dengan kabel.

3.Workstation adalah Komputer yang terhubung ke server dan dapat mengakses data dari server ,

Workstation dpt berupa komputer, namun dpt pula berupa piranti kerja khusus.

4.Server : proses terpisah yg menyediakan akses patungan ke sebuah cakram makas (hard disk),prosesor khusus yg memindahkan pemakai keluar dari sebuah jaringan pindah ke jaringan lokal. (Komputer yang melayani komputer lain)

Kontrol Jaringan

  1. 1. Time-Division Slot

Di Inggris disebut cambridge ring, prinsip kerjanya : Sejumlah Slot/ktak berputar mengelilingi jaringan, bila kotak kosong dapat di isi data oleh stasiun Pengirim, kemudian kotak berputar lagi sampai kestasiun penerima, kotak di terima/dikosongkan, selamjutnya kotak kosong berputar lagi. (Time-Division Slot meggunakan topologi Cicin)

  1. 2. Token Passing

Metode ini menggunakan 1 token atau saluran untuk komunikasi semua perangkat sehingga setiap perangkat harus bergantian menggunakan token tersebut. (Token Passing menggunakan topologi Bus)

  1. 3. Contention (Collision detesion/CD, Carrier sense multiple access/CSMA)

Pada sistem ini semua gawai terlebih dahulu mendengarkan jaringan, apakah jaringan sibuk/tidak. Bila jaringan sibuk maka pengiriman akan di pending, bila tidak sibuk gawai akan mengirimkan berita.

Alasan Menggunakan Jaringan Lokal

  1. 1. Pemkai ingin mengakses sumber data bersama karena sumber data selalu diremajakan.
  2. 2. Adanya sumber data bersama yg mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
  3. 3. Beberpa sumber terlalu mahal harganya bila hrs disediakan utk perorangan. Dpt berpatungan dlm penggunaan sumber yg mahal.
  4. 4. Kelompok pemakai ingin berkomunikasi satu dng yg lain.
  5. 5. Pemakai mungkin ingin mengakses komputer skala besar dng berbagai fasilitas yang tidak tersedia pada komputer skala kecil.

Manfaat jaringan lokal :

– Ketahanan                 – Inisiatif;

– Keluwesan                 – Perluasan

– Perlengkapan

Tipe Jaringan

Wide Area Network (WAN)

Jaringan yang menghubungkan MAN, sehingga memungkinkan terminal data disebuah kota dapat mengakses sumberdata di kota/negara lain.

Metropolitan Area Network (MAN)

Jaringan yang menghubungkan berbagai LAN

Local Area Network (LAN) Adalah Sistem yg menghubungkan berbagai komputer, periferal dan gawai komunikasi pada kecepatan tinggi dalam kawasan terbatas.

Arsitektur dan Topologi Jaringan

Topologi Jaringan:

  1. Titik ke titik

Masong-masing simpul mempunyai kedudukan yang setingkat, sehingga masing-nasing simpul dapat memprakarsai dan mengendalikan jaringan.

  1. Multidrop

Pada tipe ini terdapat Simpul/Pusat yang memprakarsai dan mengendalikan jaringan, simpul dapat bekerja bila diizinkan oleh pusat.

  1. Bus

Pada jaringan ini semua simpul mempunyai kedudukan yang sama, sehingga bila satu simpul berhenti maka sistem tetap berjalan

  1. Bintang (star)

Pada tipe ini terdapat pusat yang bertugas melakukan kontrol dan penyaluran data. Setiap simpul daru dapat berhubungan bila stasiun primer membuka jaringan.

  1. Pohon (Tree)/Hearichecal Network/Jaringan Hirarki

Jaringan bertingkat, simpul pusat/simpul yang paling tinggi mengatur simpul yang lebih rendah.

  1. Kalang (loop,ring,simpai)

Dalam topologi ini berita berputar dalam sebuah jaringan melewati stasiun demi stasiu. Bila satu stasiun mengalami kerusakan maka akan mengganggu keseluruhan jaringan.

  1. Hibrida
  2. Sepenuhnya tersambung
  3. Mesh (jaringan) adalah sejenis topologi yang menerapkan hubungan antarsentral secara penuh.

JARINGAN TELEKOMUNIKASI, TEKNOLOGI, ARSITEKTUR SERTA IMPLEMENTASINYA

  1. 1. Elemen Jaringan
  1. Perlengkapan Premis Pelanggan

Meliputi : – Private Branch Exchanges (PBX)                – Automatic Call Dirctor (ACD)

–         Instrumen telepon                                                   – perlengkapan penghemat

–         Modem ( Modulator de Modulato)             – Mesin penjawab(Answering Machine)

–         Perlengkapan terminal data

–         Terminal Facimile / fax (Fotokopi jarak jauh)

  1. Saluran akses (channel Access)

Saluran utk menyambung perlengkapan pelanggan lokal dengan jaringan jarak jauh; termasuk : saluran akses pindah, saluran akses khusus digunakan utk saluran pribadi yg tidak menggunakan perlengkapan saklar perusahaan telepon lokal,

  1. Perlengkapan alih (switching equipment)

Alat untuk menghubungkan dan memutus jaringan,

Selain itu juga diperlukan utk meneruskan, mengukur, menghitung biaya dan melayani panggilan telepon lokal dan interlokal yg disediakan oleh local exchange carrier (LEC)

  1. Fasilitas long-haul

Merupakan fasilitas yg menyediakan transmisi informasi antara akses lokal (Local Access) dan kawasan transpor (Transport Area), local access and transport areas (LATA) dpt berupa ; fasilitas umum, disediakan oleh berbagai perusahaan telepon, fasilitas pribadi.

  1. 2. Sinyal Analog dan Digital

a) Lebar gelombang (bandwidth)

Kapasitas saluran telekomunikasi yang diukur dengan frekuensi.

b) Sistem suara/data

c) Transmisi serial dan pararel

Transmisi Serial : transmisiinformasi secara stimultan

Transmisi pararel : Sistem transmisi datadan dipancarkan secara bergantian.

d) Modus transmisi sinkron dan asinkron

e) Kapasitas saluran (channel).

  1. 3. Media Transmisi

a) Kabel kawat telanjang

Kabel terbuat dari tembaga tanpa di isolasi, mudah dipengaruhi oleh gangguan sehingga kualitas penerimaan kurang baik

b) Kabel pilin / puntir (Twisted pair cable)

Keuntungan:

  • Banyak dipakai
  • Pemasangan tidakmemrlukan keahlian dan peralatan khusus
  • Bandwadith-nya cukup untuk menyalurkan sinyal sejaug 5 Km

Kekurangan:

  • Bandwidth terlalu sempit untuk akses ganda
  • Mudah terganggu oleh interfensi kalau tanpa pelindung Shield.

c)Kabel sesumbu (Coaxial Cable)

Adalah kabel tembaga yang dikelilingi oleh anyaman halus kabel tembagalain dan diantara keduanya terdapat isolasi.

Keuntungan:

  • Kualitasnya jauh lebih baik dari pada kabel pilin/puntir
  • Mampu mengangkut data adlam kecepatan tinggi
  • Mempunyai Bandwidth yang cukup untuk mengangkut data kecepatan tinggi

Kekurangan:

  • Harganya mahal
  • Pemasangan lebih sulit dari pada kabel pilin/puntir
  • Sulit dibengkokkan
  • Memerlulukan peralatan khuus untuk memasangnya
  • Peka terhadap derau
  • Perli berhati-hati dalam pemasangan isolasi kabel pelindung dari bumi

d) Gelombang radio

e)Radio mikrogelombang dan sinar inframerah

f) Satelit

g) Pandu gelombang (Wafeguides)

Adalah pipa pandu yang digunakan untuk memancarkan sinyal mikro gelombang

h) Serat optik

Keuntungan:

  • Tidak terganggu oleh sinar elektro magnetdari luar (tidak terganggu derau dari luar)
  • Bandwidthnya sangat luas ( 10 – 40 Km)
  • Tidak dapat disadap sehingga keamanannya terjamin

Kerugian:

  • Harganya mahal
  • Pemasangan memerlukan peralatan dan kaahlian khusus

Karakteristik Transmisi

Telekomunikasi merupakan transmisi sinyal dari satu titik ke titik yang lain. Pada sebuak telekomunikasi sering terjadi Noise/Derau.

Derau dibagi menjadi 4 (mpat) : 1.Derau Thermal (Derau yang timbul dari media yang terdapat pada saluran transmisi). 2. Intermodulasi 3. Percakapan Silang (cross talk) 4. Derau impulsa/Impuls (Derau yang berasal dari sumber luar saluran)

a) Ratio sinyal-ke-derau

Tingkat sinyal yang melampaui derau, semakin besar rasio sinyal ke derau maka semakin jelas informasi yang diterima.

b) Atenuasi (Pengerdilan,Attenuation)

Melemahnya sinyal listrik karena jarak.

c) Despersi

Kecepatan perambatan sinyal listrik dalam media konduksi

d) Distorsi multilintas

e) Interferensi intersimbol

Fenomena bertubukanya pulsa sinyal dengan pulsa sinyal yang lain.

f) Bicara silang (crosstalk)

Adakalanya kabel transmisi terdiri dari satu lintasan sinyal, bila kekuatan sinyal yang dikirim melebihi batas, maka munkin terjadi sinyal disatu lintasan berpindah kelintasan lain

g) Derau ekstren

Interfensi/derau yang berasal dari luar.

h) Characteristik impedance

i) Amplikasi dan Regenerasi

Amplifier adalah alat untuk memperkuat sinyal, proses penguatan sinyal ini disebut Regenerasi.

j) Filtering dan Equilization

Upaya untuk mengurangi derau

Leave a comment »

Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan Rancangan Evaluasi UPBJJ UT SURAKARTA

RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-1

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Konsep dasar perpustakaan dan jaringan informasi
Subpokok Bahasan : Konsep kerjasama dan konsep jaringan
Kompetensi Dasar : Mampu menjelaskan konsep dasar dibentuknya kerjasama dan jaringan perpustakaan

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1

2

3

4
5
6
7 Menjelaskan alasan perlunya kerjasama perpustakaan
Menjelaskan pengertian jaringan perpustakaan
Mengetahui berbagai badan yang bergerak di bidang informasi
Mengenal istilah kerjasama
Menjelaskan komponen jaringan informasi
Menjelaskan bentuk-bentuk jaringan
Menjelaskan jenis-jenis jaringan Uraian 1. Apa alasan perpustakan perlu melakukan kerjasama?
2. Sebutkan beberapa arti jaringan?
3. Sebutkan berbagai badan yang bergerak di bidang informasi?
4. Apa yang dimaksud dengan istilah kerjasama?
5. Sebutkan komponen komponen jaringan informasi?
6. Sebutkan bentuk-bentuk jaringan?
7. Jelaskan berbagai jenis jaringan? 1. a) karena meningkatnya jumlah buku yang diterbitkan setiap tahun, sehingga perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan pembacanya; b) karena banyaknya jenis media yang diterbitkan; c) untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan pemakai, seiring dengan semakin berkembangnya pendidikan dan majunya ilmu pengetahuan; d) untuk memenuhi tuntutan masyarakat untuk memperoleh informasi yang sama baiknya dengan tidak memandang dimana dia berada; e) semakin berkembangnya teknologi khususnya teknologi komputer dan telekomunikasi; f) tuntutan penghematan karena anggaran perpustakaan yang terbatas
2. jaringan adalah: a) badan dibentuk untuk memberikan jasa perpustakaan gabungan yang berbasis elektronik atau tidak; b) perangkat keras komunikasi semacam kabel, sakelar yang mengirim sinyal elektronik dalam sebuah gedung atau kawasan geografis yang lebih luas; c) perangakat lunak yang mengirimkan informasi dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan sambungan komuniksi fisik;d) jasa yang disebarkan melalui sistem telekomunikasi seperti surat elektronik dan konferensi jarak jauh; e) sambungan kelompok afinitas (affinity) melalui berbagai sistem seperti ALANET
3. badan yang bergerak dalam bidang informasi selain perpustakaan antara lain pusat dokumentasi, bank data, pusat analisa informasi, dan pusat rujukan.
4. kerjasama adalah kegiatan bersama untuk melakukan unjuk kerja atau kinerja yang lebih besar dibandingkan dengan kegiatan masing-masing.
5. a) struktur organisasi; b) rencana kerjasama; c) simpul/nodes; d) pemakai; e) tingkat jasa peserta; f) sistem komunikasi antara simpul; g) kode pesan/berita antar simpul yang baku dengan tujuan tercapai pembakuan pengertian; h) katalog induk terpusat untuk mengetahui dimana dokumen disimpan di antara simpul; i) pedoman dokumen apa saja yang akan disimpan oleh peserta jaringan, serta bagaimana kemutakhirannya; j) prosedur evaluasi untuk kerja jaringan; k) program pelatihan bagi para pemakai dan peserta jaringan
6. Bentuk-bentuk jaringan: a) jaringan non terpimpin; b) jaringan terpimpin; c) jaringan non terpimpin dengan pusat khusus; d) jaringan terpimpin dengan pusat khusus; e) komunikasi antara 2 jaringan terpimpin; f) hubungan jaringan terpimpin dengan pusat khusus dengan jaringan terpimpin lainnya
7. Jenis-jenis jaringan : a) jaringan berbasis subjek; b) jaringan terpasang/ online networks; c) public packet switching networks; d) jaringan referal; e)pialang informasi; f) penjaja/vendor informasi; g) sistem penyerahan dokumen

RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-2

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Bentuk-bentuk kerjasama perpustakaan
Subpokok Bahasan : Bentuk kerjasama pengadaan; dan bentuk kerjasama lainnya
Kompetensi Dasar : Mampu menjelaskan bentuk-bentuk kerjasama perpustakaan yang dapat digunakan untuk membantu pekerjaan maupun kepentingan belajar

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1
2
3
4
5

6
7 Menjelaskan kerjasama pengadaan
Menguraikan kerjasama pengolahan
Memberikan definisi kerjasama penyimpanan
Memahami kerjasama pengkatalogan
Menguraikan kegiatan penyusunan katalog induk
Menyebutkan berbagai kerjasama profesi
Menjelaskan penyediaan fasilitas Uraian 1. Jelaskan yang dimaksud dengan kerjasama pengadaan?
2. Bagaimana bentuk kerjasama pengolahan?
3. Jelaskan definisi dari kerjasama penyimpanan?
4. Jelaskan bagaimana kerjasama pengkatalogan?
5. Uraikan bagaimana kegiatan penyusunan katalog induk?
6. Sebutkan kerjasama profesi?
7. Jelaskan mengenai kerjasama penyediaan fasilitas? 1. Kerjasma pengadaan adalah dua perpustakaan atau lebihbersama-sama mengambil keputusan melakukan pembelian buku menurut subjek yang telah ditentukan secara bersama-sama atau masing-masing perpustakaan sepakat mengadakan buku sesuai dengan subjek masing-masing. Kerjasama pengadaan ini dikarenakan bertambah banyaknya jumlah buku yang diterbitkan.
2. Kerjasama pengolahan, dua perpustakaan bersepakat mengolah bersama buku yang mereka peroleh, biasanya merupakan tindak lanjut dari kerjasama pengadaan.
3. Dengan bertambahnya koleksi, maka koleksi di perpustakaan semakin bertumpuk, selain itu tidak semua koleksi sering dipakai. Sehingga timbul gagasan penyimpanan bersama buku yang jarang digunakan.kerjasama ini melibatkan beberapa perpustakaan, perpustakaan yang ditunjuk akan menyimpan buku titipan perpustakaan anggota. Yang disimpan adalah buku hadiah dan buku deposit. Penyimpanan bersama ini dilakukan berdasarkan sukarela atau dengan membayar sewa ruangan.
4. Di Indonesia kerjasama pengkatalogan dilakukan di berbagai tempat, terutama ialah upaya Perpustakan Nasional untuk penyeragaman format katalog terbacakan mesin yang disebut dengan INDOMARC
5. Katalog induk adalah gabungan katalog antara 2 perpustakaan atau lebih, katalog induk tersebut digunakan untuk membantu pelaksanaan pinjam antar perpustakaan dan pemberian jasa informasi bagi pemakai. Ciri khas katalog induk Buku ialah entri pengarang disusun menurut abjad pengarang disertai tanda lokasi perpustakaan pemilik buku yang bersangkutan., sedang katalog induk Majalah disusun berdasarkan entri judul.
6. Kerjasama profesi antara lain: kerjasama antar pustakawan, kerjasama pendidikan dan pelatihan.
7. Kerjasama Penyediaan fasilitas adalah kerjasama dimana anggota suatu perpustakaan boeh memanfaatkan fasilitas di perpustakaan lain. Penyediaan fasilitas ini umumnya pada penggunaan ruang baca, koleksi rujukan, fasilitas fotokopi, dan koleksi lain yang terbuka untuk umum. Koleksi yang boleh dipinjam oleh anggota dari perpustakaan lain, biasanya hanya boleh membaca atau membuat catatan, dia tidak boleh meminjam buku.

RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-3

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Sarana kerjasama perpustakaan
Subpokok Bahasan : Persiapan dan tipe kerjasama
Kompetensi Dasar : Mampu menjelaskan berbagai sarana kerjasama perpustakaan untuk membantu pekerjaan maupun belajarnya

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1
2
3

4

5

Menyebutkan kesepakatan kerjasama
Mengenal syarat ikut serta dalam kerjasama
Menyebutkan tujuan dibentuknya suatu jaringan
Menyebutkan model jaringan yang dibuat berdasarkan pemusatan wewenang
Menjelaskan Topologi kerjasama perpustakaan Uraian 1. Bagaimana pesiapan yang diperlukan sehingga tercapai kesepakatan untuk melakukan suatu kerjasama?
2. Sebutkan syarat yang harus dimiliki perpustakaan peserta kerjasama?
3. Sebutkan tujuan dibentuknya suatu jaringan?
4. Sebutkan model jaringan yang dibuat berdasarkan pemusatan wewenang?
5. Sebutkan Topologi kerjasama?
1. Kesepakatan kerjasama diawali dengan persetujuan rencana dan bentuk kerjasama oleh kepala perpustakaan atau pustakawan. Persetujuan kerjasama dibagi 2 jenis yaitu persetujuan tertulis dan tidak tertulis. Persetujuan tertulis, masing-masing perpustakaan peserta menandatangani kesepakatan,maka perpustakaan peserta akan terikat pada ketentuan kerjasama.
2. Syarat perpustakaan peserta keerjasama: a) perpustakaan memiliki koleksi; b) koleksi tersebut terbuka unmtuk pemakai luar; c) memiliki anggaran tetap; d) tersedia petugas yang mengelola perpustakaan.
3. Tujuan jaringan dapat berupa: a) pendayagunaan bersama informasi bibliografis; b) pendayagunaan patungan melalui pinjam antar perpustakaan, pengembangan koleksi bersama, katalog induk majalah dan peminjaman timbal balik
4. Model jaringan yang dibuat berdasarkan pemusatan wewenang: a) jaringan terpusat total; b) desentralisasi total; c) jaringan terpusat terbagi; dan d) jaringan hirarkis.
5. Topologi kerjasama ada 3, yaitu: Korporasi, Federasi Kooperatif.
RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-4

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Sarana kerjasama perpustakaan
Subpokok Bahasan : Sarana bantu dan kendala kerjasama
Kompetensi Dasar : Mampu menjelaskan berbagai sarana kerjasama perpustakaan untuk membantu pekerjaan maupan belajarnya

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1

2
3
Menyebutkan dan menjelaskan sarana bantu kerjasama perpustakaan
Menyebutkan pembagian kawasan kerjasama
Menyebutkan beberapa kendala yang dihadapi dalam kerjasama Perpustakaan Uraian 1. Sebutkan dan jelaskan berbagai macam sarana bantu dalam kerjasama perpustakaan?
2. Sebutkan pembagian kawasan kerjasama perpustakaan?
3. Sebutkan berbagai kendala yang dihadapi dalam kerjasama perpustakaan? 1. Sarana bantu kerjasama Perpustakaan: a) katalog induk; b) katalog induk majalah; c) indeks (Panduan isi majalah yang disusun secara sistemastis); d) abstrak (Sari karangan sebuah artikel); e) direktori (Daftar orang atau lembaga yang disusun secara sistematis)
2. Kawasan kerjasama perpustakaan dibagi menjadi 4, yaitu: kawasan kerjasama lokal, nasional, regional, dan internasional
3. Berbagai kendala yang dihadapi dalam kerjasama Perpustakaan adalah faktor bahasa, biaya, sikap perpustakaan, geografi, dan politik.

RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-5

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Jaringan informasi dan dokumentasi dan kerjasama perpustakaan di Indonesia
Subpokok Bahasan : Jaringan dokumentasi dan informasi bibliografi
Kompetensi Dasar : Mampu menjelaskan jaringan informasi dan dokumentasi dan kerjasama perpustakaan di Indonesia sehingga bermanfaat untuk kepentingan pekerjaan

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1

2

3

4

5

6
Menguraikan hasil pertemuan di Bandung tahun 1971
Menyebutkan jaringan yang terbentuk pada tahun 1971
Menyebutkan jaringan dokumentasi dan informasi yang terbentuk pasca 1971
Mengetahui jaringan informasi nonbibliografi di Indonesia
Menyebutkan keberhasilan jaringan informasi di Indonesia
Menyebutkan kendala yang dihadapi jaringan informasi di Indonesia
Uraian 1. Uraikan hasil pertemuan di Bandung tahun 1971?
2. Sebutkan jaringan yang terbentuk tahun 1971?
3. Sebutkan jaringan dokumentasi dan informasi yang terbentuk pasca 1971?
4. Jelaskan jaringan informasi nonbibliografi di Indonesia?
5. Sebutkan keberhasilan jaringan informasi di Indonesia?
6. Sebutkan kendala yang dihadapi jaringan informasi di Indonesia?
1. Lokakarya tanggal 22-24 Juli 1971 dilaksanakan di Bandung dengan judul Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Ilmiah untuk Indonesia menjadi titik tolak perkembangan jaringan informasi di Indonesia
2. Jaringan yang terbentuk pada Workshop tahun 1971 membentuk jaringan informasi dan dokumentasi ilmiah di bidang; a) Ilmu pengetahuan dan teknologi; b) Bidang-bidang biologi dan pertanian; c) Bidang kesehatan dan kedokteran; d) Bidang ilmu sosial dan budaya
3. Jaringan informasi yang terbentuk pasca 1971: a) Pusat Dokumentasi Informasi Ilmiah LIPI; dan b) Perpustakaan pusat Pertanian dan Komunikasi Penelitian atau biasa disingkat dengan PUSTAKA; c) jaringan informasi dan dokumentasi ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dan kedokteran; d) jaringan informasi bidang keluarga berencana dan kependudukan; e) Pusat Dokumentasi Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN); f) pusat informasi Perumahan; g) PDII-LIPI; h) Pusat perpustakaan dan dokumentasi Departemen Hankam; i) jaringan informasi bidang pemikiman manusia; j) Natinal Focal Point untuk bidang lingkungan hidup; k) inter-university computerized network ( UNITED); l) Pusat Dokumentasi dan informasi bidang sosial PDIS; m) Pusat dokumentasi dan Informasi Pengkajian Islam/PUSPIDI; n) The First ASEAN Women’s; o) jaringan informasi air bersih; p) Pusat Informasi Pangan Badan urusan logistik; q) dll
4. Jaringan informasi nonbibliografi merupakan jaringan informasi yang menyediakan data nonbibliografi dan dapat diakses pemakai, yang diberikan berupa data numerik, tekstual, citra, dan audio.
5. Keberhasilan jaringan informasi: jumlah jaringan semakin bertambah, peningkatan kerjasama dengan berbagai pihak, meningkatnya kesadaran pemakai, pembentukan katalog induk majalah, tercapainya keerjasma jasa fotokopi artikel antara berbagai simpul jaringan
6. Kendala yang dihadapi jaringan: beban kerja yang tidak seimbang, belum adanya produk perundang-undangan yang mengatur kerjasama jaringan, maslah keuangan, perbedaan kebutuhan informasi yang amat berlainan, kurangnya tenaga terampil dalam pelayanan dan penelusuran informasi

RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-6

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Jaringan informasi dan dokumentasi dan kerjasama perpustakaan di Indonesia
Subpokok Bahasan : Kerjasama perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia
Kompetensi Dasar : Mampu menjelaskan kerjasama perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1

2

3

Menyebutkan dan menjelaskan bentuk kerjasama perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia
Mengetahui fungsi kegiatan Pusat Layanan Disiplin Ilmu
Menyebutkan kendala kerjasama perpustakaan perguruan tinggi
Uraian 1. Sebutkan dan jelaskan bentuk kerjasama perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia?
2. Jelaskan fungsi Pusat layanan Disiplin Ilmu (Pusyandi)?
3. Sebutkan kendala yang dihadapi kerjasama perpustakaan perguruan tinggi?
1. Bentuk kerjasama perpustakaan perguruan tinggi: kerjasama institusional adalah kerjasama perpustakaan yang berada dibawah institusi yang sama.
kejasama regional adalah Kerjasama perpustakaan perguruan tinggi yang dilakukan berdasarkan geografi/kawasan.
kerjasama fungsional adalah kejasama yang dilakukan didasarkan fungsi/perpustakaan dibebankan untuk mengembangkan koleksi sesuai dengan subjek yang telah dibebankan.
Pendekatan Subjek adalah kerjaasma yang dilakukan oleh perguruan tinggi dengan berbasis subjek/sesuai dengan kepentingan perpustakaan tersebut
2. Fungsi Pusat layanan Disiplin Ilmu (Pusyandi): a) penghimpunan koleksi dan sumber utama untuk layanan bibliografi di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi, khususnya untuk disiplin ilmu yang menjadi tanggung jawabnya; b) membina kerjasama antara anggota jaringan, Unit Pelaksana teknis (UPT) perpustakaan perguruan tinggi lain dan pusat informasi nasional dan internasional
3. Kendala dalam kerjasama perpustakaan perguruan tinggi: kerjasama penyediaan fasilitas masih belum brjalan sepenuhnya, penelusuran yang dilakukan masih dilaksanakan atas dasar permintaan formal, dalam penelusuran belum ada kerjasama nasional.

RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-7

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Kerjasama perpustakaan dan jaringan informasi internasional
Subpokok Bahasan : Jenis jaringan informasi; kerjasama perpustakaan di luar Indonesia
Kompetensi Dasar : Mampu menjelaskan kerjasama perpustakaan dan jaringan informasi internasional

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1

2
3

4

5
Menjelaskan mengenai sebab timbulnya kerjasama internasional
Menjelaskan tipe kerjasama internasional
Mengenali jaringan informasi tingkat regional
Menyebutkan tujuan kerjasama internasional dalam bidang informasi
Mengetahui berbagai bentuk kerjasama perpustakaan di negara lain
Uraian 1. Apa saja yang menyebabkan timbulnya kerjasama internasional?
2. Jelaskan jenis kerjasama internasional?
3. Sebutkan jaringan informasi tingkat regional?
4. Sebutkan tujuan kerjasama internasional dalam bidang informasi?
5. Sebutkan berbagai bentuk kerjasama perpustakaan negara lain?
1. Kerjasama internasional timbuk karena: meningkatnya jumlah terbitan dunia, meningkatnya kebutuhan pemakai, berkembangnya teknologi telekomunikasi.
2. 4 Jenis kerjasama internasional: program informasi internasional, badan nasional kegiatan internasional, organisasi internasional non pemerintah
3. Jaringan informasi tingkat regional: ALA untuk wilayah Amerika Latin, ARBICA untuk wilayah negara-negara Arab, CARBICA untuk wilayah Karibea, ECARBICA untuk wilayah Afrika Tengah dan Afrika Timur, WARBICA untuk wilayah Afrika Barat, SARBICA untuk Asia Tenggara, SWARBICA untuk wilayah Asia selatan dan Asia barat
4. Dalam bidang informasi, tujuan kerjasama internasional adalah: memberikan tanggapan yang lebih memuaskan akan kebutuhan informasi bagi pemakai di seluruh dunia, memanfaatkan semaksimal mungkin akumulasi pengetahuan untuk kemajuan manusia, memperbaiki produktivitas sistem informasi yang telah ada dengan menarik pemakai, untuk meningkatkan kemampuan sistem informasi serta menekan biaya pengolahan informasi, menggalang keharmonisan dan integrasi berbagai sistem informasi untuk mencapai tujuan bersama
5. Bentuk kerjasama negara lain: kerjasama katalog induk,kerjasama pengkatalogan, pinjam antar perpustakaan, spesialisasi subjek

RANCANGAN EVALUASI (RE)
Pertemuan ke-8

Nama Tutor : Rofiki Sani A.Md
Mata Kuliah/Kode : Kerjasama dan Jaringan Perpustakaan / PUST 2256
Semester/Prodi : I/D2 Perpustakaan
Pokok Bahasan : Jaringan Komputer
Subpokok Bahasan : Komputer; jaringan telekomunikasi, teknologi, arsitektur serta implementasinya
Kompetensi Dasar : Mampu mengetahui komputer dan telekomunikasi serta menggunakannya untuk kepentingan pekerjaan dan belajarnya

No Indikator (Tujuan Instruksional Khusus) Bentuk Alat Ukur Butir Soal Kunci Soal
Tes Nontes
1
2

3
4
5

6

7 Menjelaskan arti jaringan komputer
Menyebutkan alasan dan manfaat menggunakan jaringan lokal jaringan
Mengenali topologi jaringan komputer
Mengenali elemen-elemen jaringan
Menyebutkan bentuk-bentuk jaringan telekomunikasi
Menjelaskan mengenai sinyal analog dan sinyal digital
Mengenali Karakteristis Transmisi Uraian 1. Apa yang dimaksud dengan jaringan komputer?
2. Apa manfaat dan alasan menggunakan jaringan lokal?
3. Sebutkan topologi jaringan komputer?
4. sebutkan elemen-elemen jaringan
5. Sebutkan berbagai komponen sistem komunikasi?
6. Apa yang dimaksud dengan sinyal analog dan digital?
7. sebtkan karakteristik transmisi 1. jaringan komputer atau computer network adalah sistem komputer yang tersebar di berbagai tempat namun saling berhubungan dengan menggunakan saluran telekomunikasi
2. Jaringan lokal memungkinkan pengolahan terpencar. Pengolahan tersebut membawa manfaat berupa: jumlah prosesor dan atau workstation bersama-sama membuat sistem memiliki ketahanan lebih baik menghadapi ancaman kegagalan mesin, keluwesan dimana prosesor dapat direlokasikan ke berbagai fungsi, perluasan (expansion) dimana prosesor baru dapat ditambah sesuai dengan keperluan, perlengkapan mahal spt pencetak laser, cakram makas yang besar dapat digunakan bersama-sama melalui prinsip ’serve’, dan inisiatif
3. Topologi jaringan: titik ke titik, multidrop, bus, bintang (star), pohon (tree), kalang (loop, ring, simpai), hibrida, sepenuhnya tersambung, mesh.
4. Unsur jaringan telekomunikasi ada 4 kategori: perlengkapan premise pelanggan, saluran akses, perlengkapan dan jasa alih ”switching” serta saluran muatan/tangkapan panjang (long-haul)
5. Sistem komunikasi memiliki beberapa komponen yaitu: pemancar (transmitter) untuk mengirim informasi, penerima (receiver) untuk menerima informasi, medium informasi yang merupakan aluran tempat informasi dikirim atau diterima, sinyal (signal) dan kode (code) yang mewakili berita/pesan.
6. Sinyal analog memancarkan suara sedangkan data komputer dipancarkan oleh sinyal digital. Salah satu keuntungan sistem transmisi digital atas sistem analog ialah pada sistem digital lebih sederhana, lebih hemat untuk jarak jauh serta kurang deraunya. Pada sistem transmisi analog, penguatan (amplification) sinyal analog akan menghasilkan derau yang muncul bersamaan dengan sinyal asli.
7. karakterstik transmisi antara lain: a) Ratio sinyal ke-derau; b) Atenuasi(pengerdilan/attenuation); c) Despersi; d) Distorsi multi lintas; e) interverensi inter simbol; f) Bicara Silang (Crosstalk); g) Derau ekstern; h) Charakteristic impedance; i) aplikasi dan Regenerasi; j) Filtering dan equilization

Leave a comment »

Kerjasama dan jaringan Perpustakaan

KUNCI JAWABAN
TUGAS TUTORIAL KE – 1
MATA KULIAH : PUST 2256/KERJASAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN
2 SKS

1. Jaringan perpustakaan adalah Kumpulan perpustakaan yang melayani sejumlah badan, instansi, lembaga, atau melayani instansi yang berada dibawah juridiksi tertentu, serta memberikan sejumlah jasa kepustakawanan
Jaringan Informasi adalah Suatu sistem terpadu dari badan-badan yang bergerak dalam bidang informasi seperti; perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat informasi, pusat referal, bank data dan sejenisnya
Kerjasama Perpustakaan adalah Kerjasama yang dilakukan oleh dua perpustakaan atau lebih, baik menggunakan sarana telekomunikasi/komputer maupun tanpa menggunakan sarana telekomunikasi/komputer
2. Badan-badan yang bergerak dalam bidang informasi
Pusat dokumentasi : tempat menyimpan dokumen, lazimnya bukan buku, untuk dikelola, diberi anotasi, dan di indeks denga tuuan utama adalah distribusi
Clearing house : suatu tempat penyimpanan dokumen dengan tugas tambahan sebagai pengumpul, klasifikasi,dan distribusi informasi.
Pusat Referal : pusat yang memberikan rujukan untuk suatu bidang pada bagi ahli yang memerlukannya.
Pusat Analiais Informasi : Pusat yang mengerjakan indeks, sari karangan, abstrak, terjemahan, meninjau literatur, menilai data suatu bidang khusus yang telah diolah sesuai tingkat keperluanya.
Pusat nformasi : suatu pusat yang bertugas memberika informsi yag telah diolah oeh sumber lain mengenai satu bidang khusus
3. Bentuk-bentuk jaringan perpustakaan:
Jarigan Non-Terpimpin
Jaringan Terpimpin
Jaringan non-terpimpin denga pusat khusus
Jaringan terpimpin dengan pusat khusus
Komunikasi antara dua jaringan terpimpin
Hubungan jaringan dengan pusat khusus dengan jaringan terpimpin lainnya
4. Macam-macam kerjasama perpustakan
Kerjasma pengadaan adalah dua perpustakaan atau lebihbersama-sama mengambil keputusan melakukan pembelian buku menurut subjek yang telah ditentukan secara bersama-sama atau masing-masing perpustakaan sepakat mengadakan buku sesuai dengan subjek masing-masing. Kerjasama pengadaan ini dikarenakan bertambah banyaknya jumlah buku yang diterbitkan.
Kerjasama pengolahan, dua perpustakaan bersepakat mengolah bersama buku yang mereka peroleh, biasanya merupakan tindak lanjut dari kerjasama pengadaan.
Kerjasama penyimpanan adalah menyimpanan bersama buku yang jarang digunakan.kerjasama ini melibatkan beberapa perpustakaan, perpustakaan yang ditunjuk akan menyimpan buku titipan perpustakaan anggota. Yang disimpan adalah buku hadiah dan buku deposit
Kerjasama pertukaran Publikasi adalah kerjasama untuk saling tukar-menukar koleksi perpustakaan denga koleksi di perpustakan lain
Penusunan dan pengembangan katalog induk, adalah : kerjasama untuk membuat katolog induk
5. Library cooperative = Kerjasama Perpustakaan
Fax = fotokopi jarak jauh
Union list = katalog induk majalah
Catalog in publication = katalog dalam terbitan
Interlibrary loan = pinjam antar perpustakaan
Resource sharing = silang layan/kerjaasma pemberian informasi

KUNCI JAWABAN
TUGAS TUTORIAL KE – 2
MATA KULIAH : PUST 2256/KERJASAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN
2 SKS

1. Syarat perpustakaan peserta keerjasama:
Perpustakaan memiliki koleksi
Koleksi tersebut terbuka unmtuk pemakai luar
Memiliki anggaran tetap
Tersedia petugas yang mengelola perpustakaan
2. Topologi kerjasama ada 3, yaitu: Korporasi, Federasi Kooperatif
3. Jaringan Komersial : Jarignan penyedia informasi dengan tujuan mencari laba
Jaringan Nirlaba : jaringan peyedia informasi dengan tujuan sosial/tidak mencari keuntungan
4. Sarana bantu kerjasama Perpustakaan: a) katalog induk; b) katalog induk majalah; c) indeks (Panduan isi majalah yang disusun secara sistemastis); d) abstrak (Sari karangan sebuah artikel); e) direktori (Daftar orang atau lembaga yang disusun secara sistematis)
5. Catologuin in source = katalog buku yang akan diterbitkan
Assesion list = daftar koeksi tambahan
Union list of serials = katalog induk majalah
Library network = jaringan perpustakaan
Buku Deposit = buku yang wajib diserahkan ke Perpustakaan Nasional karena diwajibkan udang-undang

KUNCI JAWABAN
TUGAS TUTORIAL KE – 3
MATA KULIAH : PUST 2256/KERJASAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN
2 SKS
1. Tujuan Kerjasama Internasional antara lain:
a. memberikan tanggapan yang lebih memuaskan akan kebutuhan informasi bagi pemakai di seluruh dunia
b. Memanfaatkan semaksimal mungkin akumulasi pengetahuan untuk kemajuan manusia
c. Memperbaiki produktifitas sistem informasi yang telah ada dengan menarik pemakai
d. Untuk meningkatkan kemampuan sistem informasi serta menekan biaya pengolahan informasi
e. Menggalang keharmonisan dan integrasi berbagai sistem informasi untuk mencapai tujuan bersama
2. Badan-badan informasi dibawah PBB:
a. The United Nations Library => bidang sosial dan narkotik
b. The Economic and Social Commission for Asia and Pacific (ESCAP) => bidang demografi, pertanian, pengangkutan, dan perdagangan
c. The Economic Commission for Latin America (ECLA) => informasi mengenai kawasan Amerika Latin dan zone ekonomi
d. The Economic Commission for Africa (ECA) => informasi perkembangan di Afrika
e. The United Nations Disaster Relief Co-ordinations Office (UNSRO) => Bank data mengenai bencana alam
f. The United Nations Industrial Development Organisations (UNIDO) =>Informasi Industri
g. The United Nations Environment Programme (UNEP) => informasi lingkungan hidup
h. The United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) => hubungan internasional, perkembangan ekonomi dan sosial, serta bidang penelitian
i. The International Labour Organization (ILO) => bidang pendidikan khusus, penempatan kerja, gerakan koperasi, keselamatan kerja, perburuhan
3. Kerjasma Regonal adalah : Kerjasama perpustakaan masih berada pada kawasan atau geografis tertentu
4. a. The International Federation for Information Procesing (IFIP)=>Bidang olah data dan riset.
b. The International Council on Reprography=> kegiatan reprografi/penerbitan
c. The International Federation of Library Associations and Institution (IFLA)=> bidang penelitian dan pengembangan perpustakaan
d. The International Federation For Dokumentation and Information => masalah dokumentasi
e. The International Council on Arcivest (ICA)=> bidang kearsipan
5. a. Library cooperative = Kerjasama Perpustakaan
b. Facimile = Fotokopi jarak jauh
c. Katalog induk Buku = Union Catalog of Book
d. Interlibrary loan = Pinjam antar perpustakaan
e. Resource sharing = Silang layan/penyediaan informasi
f. Buku Deposit = Buku yang diserahkan ke Perpustakaan Nasional karena diwajibkan Undang-undang

Leave a comment »

Hello world!

Rofiki Sani A.Md


  • Tempat Tgl/Lahir         :  Boyolali, 29 Agustus 1986
  • Jenis kelamin                :  Laki-laki
  • Status Perkawinan       :  Belum Kawin
  • Agama                         :  Islam
  • Alamat                         : Bandung RT 18 RW 03, Beji, Andong, Boyolali,    Jawa Tenggah
  • Kode Pos                    : 57384
  • Nama Ayah                 :  Nur Ngatmin
  • Nama Ibu                    :  Tinik Sulastri
  • Nomor HP                  :  0856 4748 4805

Riwayat Pendidikan

  • TK Perwanida Bandung, Beji, Andong, Boyolali, 1995
  • MIM Bandung, Beji, Andong, Boyolali, 1999
  • MTsN 1 Andong, Boyolali, 2002
  • SMA Islam Sudirman 5 Andong, Boyolali, 2005
  • Ahli Madya Perpustakaan, FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2008

Pengalaman Kerja

  • Kuliah Kerja Lapangan di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008
  • Karyawan PKPU Boyolali, 2008
  • Tutor (Pengajar) DII Perpustakaan di UPBJJ – Universitas Terbuka Surakarta, 2009
  • Pustakawan SMK “WARGA” SOLO

Pengalaman Organisasi

  • Anggota teater “SOPO” FISIP UNS 2005
  • Staf Divisi Pembangunan FISIP, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UNS
  • Sekjen HMPII (Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi Indonesia) DPD II

Daftar Riwayat Hidup ini dibuat dengan sebenarnya.

Comments (2) »